Catatan Abah Heri: RAJIN IBADAH TAPI MISKIN, RAJIN MAKSIAT MALAH KAYA.


Disatu FB saya membaca sebuah status yang agak mengelitik. Yaitu mengenai seorang yang rajin shalat tetapi tetap miskin dengan orang yang tidak pernah shalat dan bahkan sering melakukan maksiat justru kaya raya. Apakah Allah salah memberi ?

Kemudian ada yang tekun melakukan wirid atau membaca doa tertentu bahkan mendawankan Asmaul Husna, misalnya Al-Muqît, Yang Maha Pemelihara dan Maha Kuasa untuk memberi rejeki yang mencukupi seluruh makhluk-Nya. Pada makna sifat Al-Muqît terdapat penekanan dalam sisi jaminan rejeki, banyak atau sedikit. Allah juga Ar-Razzâq (Maha Pemberi Rejeki), yang mengandung maksud bahwa Allah berulang-ulang dan banyak sekali memberi rejeki kepada semua makhluk-Nya.
Tetapi nyatanya penghidupannya tidak ada perubahannya, tetap masih dalam kekurangan.

Begitu juga dengan orang yang selalu melaksanakan shalat Dhuha tetapi hidupnya masih juga belum berkecukupan. Padahal do’a yang dibaca setelah shalat arti do’anya adalah sebagai berikut :

Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu waktu-Mu; cahaya cemerlang, keindahan, kekuatan, kekuasaan dan penjagaan, semua itu adalah hak yang ada pada-Mu. Ya Allah, bilamana rejeki hamba masih di langit maka turunkanlah, apabila masih berada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika susah mencapainya maka mudahkanlah, bila ada yang haram maka sucikanlah dan jika masih jauh maka dekatkanlah; dengan hak-Mu atas waktu dhuha, cahaya cemerlang, keindahan, kekuatan, kekuasaan dan penjagaan-Mu; anugerahkanlah kepada hamba seperti yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Semoga shalawat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, amin.

Selama ini kita telah mengartikan makna dari rejeki. Anggapan kita rejeki itu semata-mata berupa kekayaan, perhiasan dan lain-lain.

Kadang-kadang Allah memberi kekayaan kepada manusia beserta kesenangannya, akan tetapi Allah tidak memberi taufik dan hidayah-Nya. Sebaliknya, terkadang Allah tidak memberi anugerah kekayaan dunia, akan tetapi menganugerahkan rahmat dan hidayah-Nya. Allah menahan rejeki manusia, adakalanya untuk memberi kesempatan baginya mencari taat, dan menghindarkannya dari maksiat. atau memberinya kekayaan, tapi tidak memberinya ketaatan dan keshalehan.

Allah memberi kamu kelapangan agar kamu tidak selalu dalam kesempitan. Allah memberi kesempitan kepadamu agar kamu tidak hanyut di waktu lapang. Allah melepaskan kamu dari kedua-duanya agar kamu tidak menggantungkan diri kecuali kepada-Nya semata.

Rejeki itu memiliki bermacam2 bentuk. rejeki kekayaan/materi, rejeki waktu, rejeki kesehatan, rejeki keluarga yang menyenangkan dan harmonis, rejeki kebebasan, rejeki bakat pada bidang tertentu, rejeki kepandaian, itu smuanya adalah bentuk2 rejeki dalam hidup… dan masih banyak ragam lainnya yang terlalu luas untuk didefinisikan.
Allah pasti akan memberikan rejeki kepada makhluk yang memintanya artinya rejeki tidak akan hilang, rejeki hanya akan berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

contoh kasus, dalam kejadian misalkan ada orang kena phk.. jika ingin disikapi lebih positif itu adalah proses beralihnya bentuk rejeki saja dari rejeki kekayaan, rejeki pangkat, berubah menjadi bentuk rejeki waktu yang lapang, rejeki untuk ngurusin keluarga plus rejeki kebebasan.

Di samping terus bekerja keras, bila orang yang beriman masih tetap miskin, maka itu adalah ujian dari Allah. Ujian merupakan sunnah Ilahiah yang berlaku sejak zaman dahulu. Allah menjadikan ujian agar menjadi pembeda antara orang munafik dan orang mukmin. Allah menjadikan ujian agar menjadi standar bagi semua manusia tanpa kecuali, semenjak diciptakan Nabi Adam as. hingga hari Kiamat kelak.

Ujian memiliki ciri-ciri khusus.

Pertama, ujian haruslah sulit. Kalau ujian tidak sulit atau bahkan sangat mudah, maka semuanya akan lulus, baik mukmin maupun munafik. Bila ujian seperti ini, maka pada akhirnya tidak bisa dibedakan antara mukmin dan munafik.

Kedua, ujian tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Apabila ujian tersebut mustahil dilakukan, maka kedua-duanya akan gagal, baik mukmin maupun munafik.

Ketiga, ujian ini harus seimbang, artinya sulit bagi munafik untuk lulus dalam ujian itu. Namun bukan berarti pula mustahil dilakukan. Dengannya, terbuka kesempatan bagi mukmin untuk lulus dalam ujian tersebut.”

Itulah ciri-ciri ujian. Lebih lanjut, beliau berkata, “Ujian Allah untuk hamba-Nya tidak sedikit jumlahnya, dan berlaku terus-menerus sejak manusia mendapat beban syariat sampai datangnya kematian. Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan. Seorang mukmin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya, dan untuk menyelaraskan antara lisan dan hatinya.”

Melalui ikhtiar, kita kembalikan segala sesuatu kepada-Nya. Tidak perlu keluh kesah, tidak perlu hati menjadi keruh karena segala sesuatu telah diatur oleh Allah sendiri serta menempatkan setiap orang pada bagian dan proporsinya masing-masing.

Lihatlah orang yang lebih rendah (kenikmatannya) darimu dan janganlah melihat kepada yang lebih banyak (kenikmatannya) darimu agar kamu tidak mencela nikmat yang Allah anugerahkan kepadamu. (HR Muslim dan Tirmidzi)

Terkadang Allah memberimu, tapi sebenarnya menahan anugerah untukmu. Adakalanya Allah mencegah pemberian untukmu, meskipun sebenarnya Allah telah memberi anugerah untukmu.

Tanamkan optimisme pada diri kita akan masa depan yang cerah dan fajar kehidupan yang baru, karena Allah tidak memberi ujian dengan maksud menghancurkan kita. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya jatuh kepada kesengsaraan, selama kita masih tetap berada dalam hukum-hukum-Nya. Dengan ujian itu Allah berkehendak memberi cambuk kecil, membangkitkan diri kita dari kelalaian dengan sedikit perasaan menyesal. Allah bermaksud mengajarkan bahwa dengan kelaparan maka kita akan merasakan arti kenyang, dan dengan rasa lelah maka kita akan mengerti arti istirahat. Dengan ujian-ujian itu kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur dan berdzikir.

Sebagai penutup hendaknya perlu diingat bahwa kita tidak boleh melakukan ibadah apapun misalnya shalat Dhuha dengan niat agar mendapatkan banyak rejeki. Shalat Dhuha tetap diniatkan untuk beribadah, mengabdi kepada-Nya, sesuai anjuran Rasulullah saw. Doa setelah shalat itulah yang kita niatkan untuk memohon kelancaran rejeki yang halal, berlimpah dan barakah.

Semoga bermanfaat.

Abah

Iklan

16 Komentar

  1. ass wr wb,
    artikel yg mencerahkan pak, terima kasih.saya sependapat dengan paragraf terakhir dan artikel ini sangat bagus. dan inilah yg mengena bagi mayoritas kita, ibadah puasa, shalat karena supaya mendapatkan/memperoleh hajatnya terkabul, termasuk saya sendiri.
    ass wr wb

  2. Ass.. mungkin Alloh takut, kalau do’a nya dikabulkan org itu jadi ujub, riya dan lupa kpd Alloh. spt kerabat gw.. dia saat miskin rajin ibadah. dia rela berkorban demi agama dan demi saudara. tp stlh dia kaya, dia lupa dg agama. mushola jarak nya 5meter dari rumah nya, dia gk permah ke mushola. shalat sering diakhir waktu. maghrib jam 7 baru maghrib.

  3. ass.. org2 di sekitar gw juga begitu.. yg rajin ibadah, miskin, masa dpan suram dll. yg rajin maksiat, kaya dan semua keinginan tercapai. ada juga yg msh miskin rajin ibadah tp stlh kaya males ibadah.

  4. Terkadang orang yang rajin ibadah dan berdoa setuap waktu tidak mempunyai pekerjaan yang tetap dan susah mendapatkan rezeki.. menibulkan perangsangka yang buruk kepada Allah..memang kekurang menjadikan manusia kadang berputus asa…karena orng umur diatas 25 tahun membutuhkan pekerjaan dan kehidupan yang sejahtera untuk membantu orang tua ..dan untuk masa depan untuk berkeluarga kelak…padahal sudah berupaya ikhtiar berjuang mencari kerja beibadah berdoa menghidari segala bentuk dosa…keadaan inilah yang membuat seseorang menjadi putus asa….sebenarnya di dalam hati sangat ingin selalu beribadah menjadi orang yang soleh..setidaka keadaan tidaj begitu sulit..bukan untuk menjadikan diri orng kaya raya mempunyai segalanya…tp lebih kepada sejahterah dan sederhana…

    • Assalamualaikum… Betul sekali, itu sering terjadi, termasuk kepada saya. Kemiskinan mengantarkan kepada kekufuran dan prasangka buruk terhadap Allah SWT. Sayangnya, banyak yang hanya bisa memberikan nasihat, tetapi sangat sedikit yang bisa memberikan bantuan nyata. Wallahu’alam.

      • Benar saya setuju pak.

  5. menurut pengalaman gw, org yg rajin ibadah gk sebaik dugaan gw. cnth nya teman gw, dia rajin ibadah tp dia tega ngejelekin gw. dia juga ngutang kpd gw, gk mau bayar. teman gw yg lain, dia rajin ibadah, tp dia tega menipu gw demi dpt cewek. dia tega menipu gw demi krja.

  6. 2 bulan lalu saya korban phk , memghidupi seorang istri dan 3 orang anak, keluarga kami tergolong rajin ibadah rajin sedekah, mengapa hari ini kami kelaparan sampai hari ini saya belum dapat pekerjaan baru

  7. Betul sekali dan sangat bermanfaat,,,,.

  8. ya kamu pandai sekali dalam menjawab nya very good

  9. Mantap

  10. terima kasih pak atas infonya. itu bermanfaat banget bagi karena saya sering mengeluh dngan keadaan saya. mudah2 mulai sekarang tidak mengeluh 🙂

  11. kalau saya.. Rajin ibadah atau rajin maksiat, sama saja. Hdup saya tetap suram. Saya susah jdoh dan rejeki. Saya sering dijahati org sepanjang hdup. Krn saya cuma org dungu dan loyo.

    • akhirat mas akhirat….
      lu bakalan dapet untung di akhirat nanti, dan lu harus mengimaninya.
      kesenangan dunia hanya sementara, batas max sampai umur manusia doang. setelah mati trus ilang dah tuh kesenangan dunia

  12. saya umur nya 39 thn blm krja dan blm nikah. Tdk tau kpn akan kerja dan kapan akan nikah, krn terasa semakin sulit saja nyari krja dan nyari jodoh. Pdhl ibadah saya semakin ditingkatkan terus tp nasib saya tdk berubah. Dlu saya kalau krja atau kalau nyari jodoh, saya sering dijahati org. Tapi saya kalau nganggur dan jomblo, saya dijauhi org. Saya tdk dikasihani org dan tdk ditolong org. Yg bkin saya mengalami semua ini krn fisik saya loyo dan otak saya agak dungu, krn dlu saat saya msh kecil, saya sering sakit agak parah.

  13. disekita saya mereka maksiat tp mulus2 saja jalan nya. bahkan sukses lg. sedangkan saya ibadah tertib. tp sering di timpa masalag dan kegagalan


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s