Catatan Abriansyah M. Noor: Qolbu.


Yaa muqollibal quluubi.. tsabbit qolbii ‘alaa diinika.. “Yaa Robb yang membolak-balikkan hati.. Teguhkanlah hatiku pada agama-MU..” (HR. at-Tirmidzi : 3522. shohih sunan at-Tirmidzi : III/171)

HATI YANG SEHAT

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Yang mana keselamatan telah menjadi sifat yang tetap baginya. Hati itu selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya dan selamat dari setiap syubhat yang berlawanan dengan pemberitaan-Nya.

Hati itu selamat dari peribadatan kepada selain Allah; selamat dari penghakiman kepada selain rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam; dan selamat dari perbuatan syirik kepada Allah dengan apapun bentuknya. Bahkan peribadatannya benar-benar murni hanya untuk Allah, baik dalam bentuk iradah (keinginan) dan mahabbah (rasa cinta), tawakkal (pasrah diri) dan inabah (kembali bertobat), khasyyah (rasa segan) dan ikhbat (rasa tunduk), juga khauf (rasa takut) dan rajaa’ (rasa harap).

Amal perbuatannya murni hanya untuk Allah. Apabila dia mencinta, dia mencinta karena Allah; apabila dia membenci, dia membenci karena Allah; apabila dia memberi, dia memberi karena Allah; dan apabila dia menolak (untuk memberi), dia menolaknya karena Allah.. Bahkan tidak cukup hanya itu, dia pun selamat dari kepatuhan dan penghakiman kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah hati yang paling bersih, yaitu hati yang selamat. Yang mana pada hari kiamat tidak seorang pun dapat selamat kecuali orang yang menghadap Allah dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’araa’: 88-89)

HATI YANG MATI

Hati yang kedua adalah hati yang mati yang tidak memiliki kehidupan di dalamnya. Dia tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya, tidak mencintai-Nya, dan tidak ridho terhadap-Nya. Bahkan dia berdiri bersama syahwat dan kesenangannya walaupun di dalamnya terkandung murka dan amarah Rabbnya. Apabila dia berhasil mendapatkan syahwat dan bagiannya, dia tidak peduli apakah Rabbnya ridho atau murka. Dia beribadah kepada selain Allah dengan rasa cinta, rasa takut, rasa harap, keridhoan, kemurkaan, pengagungan, dan kerendahan. Apabila dia mencinta, dia mencinta karena hawa nafsunya. Apabila dia membenci, dia membenci karena hawa nafsunya. Hawa nafsunya lebih dia cintai dan lebih dia dahulukan daripada keridhoan Rabbnya.

Hawa nafsu adalah imamnya; syahwat adalah pemimpinnya; kebodohan adalah penuntunnya, kelalaian adalah tunggangannya, kejelekan-kejelekan adalah perniagaannya, kemaksiatan-kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan haram adalah barang perniagaannya. Dia tidak memenuhi ajakan seorang yang menyeru (kepada Allah). Bahkan dia mengikuti setiap setan yang durhaka dari golongan jin dan manusia. Itulah hati yang paling buruk dan kotor.

HATI YANG SAKIT

Hati yang ketiga adalah hati yang memiliki kehidupan namun terdapat penyakit di dalam-nya. Itulah hati yang sakit.

Dia memiliki dua unsur. Terkadang dia diseret oleh salah satunya (unsur kehidupan) dan terkadang oleh satu lainnya (unsur penyakit). Namun dia akan terseret oleh unsur yang terkuat dari keduanya.

Di dalam hati itu terdapat rasa cinta, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan unsur kehidupan dan keselamatannya.

Di dalamnya juga terdapat rasa cinta, itsar (sikap mendahulukan), dan semangat untuk mendapatkan keinginan syahwat, kedengkian, kesombongan, ‘ujub (bangga diri), cinta kesombongan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dengan kekuasaan, dan kezhaliman yang merupakan unsur kebinasaan dan kehancurannya.

Apabila dia diberikan peringatan, maka dia lebih dekat kepada keselamatan. Namun, apabila tidak, maka dia lebih dekat kepada kehancuran. Dia adalah mangsa bagi yang lebih dulu mendapatkan-nya.

Hati-hati para hamba terbagi menjadi tiga bagian: Sehat, Sakit, dan Mati. Hati yang pertama adalah hati yang hidup, tunduk, waspada, dan lembut; hati yang kedua adalah hati yang kering lagi mati; dan hati yang ketiga adalah hati yang sakit. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggabungkan ketiga hati tersebut di dalam firman-Nya:

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al-Hajj: 53-54)

Hati yang sehat lagi selamat pasti akan menerima, mencintai, dan mendahulukan kebenaran; yaitu memahami kebenaran, patuh terhadapnya, dan menerimanya.

Hati yang mati lagi keras tidak akan pernah menerima kebenaran dan patuh terhadapnya.

Hati yang sakit, apabila kesehatannya lebih kuat, maka dia sama dengan hati yang selamat. Namun, apabila penyakitnya lebih kuat, maka dia sama dengan hati yang mati lagi keras

Segala sesuatu yang dilemparkan oleh setan di dalam pendengaran seperti ucapan-ucapan, dan di dalam hati seperti syubhat-syubhat dan keraguan-keraguan merupakan cobaan bagi hati yang mati dan hati yang sakit; namun merupakan kekuatan bagi hati yang hidup lagi selamat. Karena dia menolak dan sangat membencinya, bahkan dia mengetahui bahwa kebenaran terletak pada sikap menyelisihinya.

Pergerakan lisan dapat dijadikan sebagai bukti untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati, karena sesungguhnya hati itu bagaikan tungku yang mendidihkan apa yang ada di dalamnya. Sedangkan lisan adalah sebagai alat ciduknya.

Lisan seseorang akan mencidukkan bagimu dari hatinya: Sesuatu yang manis dan pahit, tawar dan asin, panas dan dingin, baik dan buruk, bagus dan jelek, kebenaran dan kebatilan, juga kebaikan dan kejahatan.

Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari:

*syirik dan khianat
*iri dan dengki
*kikir dan pelit
*sombong dan angkuh
*juga dari cinta dunia dan cinta kekuasaan.

Dia selamat dari setiap bencana yang dapat menjauhkannya dari Allah;
Dia selamat dari setiap syubhat yang bertentangan dengan pemberitaan-Nya;
Dia selamat dari syahwat yang bertentangan dengan perintah-Nya;
Dia selamat dari keinginan yang menyelisihi keinginan-Nya;
dan Dia selamat dari setiap penghalang yang menghalanginya dari Allah dan negeri akhirat.

Keselamatan hati tidak akan sempurna dia miliki secara mutlak sampai dia selamat dari lima perkara:

1.Selamat dari kesyirikan yang membatalkan tauhid,
2.Selamat dari bid’ah yang menyelisihi sunnah,
3.Selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah,
4.Selamat dari kelalaian yang membatal-kan dzikir, dan
5.Selamat dari hawa nafsu yang membatalkan keikhlasan.

Di dalam memenuhi seruan kebenaran, hati itu terbagi menjadi dua:

Pertama, hati-hati yang memenuhi seruan kebenaran. Itulah hati-hati yang paling tinggi kedudukannya di dunia dan akhirat.

Kedua, hati-hati yang berpaling dari kebenaran. Berpaling dari kebenaran ada beberapa tingkatan: Menolak kebenaran merupakan satu tingkatan; mendustakannya merupakan satu tingkatan di atasnya; mengolok-oloknya merupakan satu tingkatan di atasnya; dan tingkatan yang paling buruk dari itu adalah menghalang-halangi kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan hati dalam tiga macam: Tunduk, sakit, dan keras.

Hati-hati yang tunduk adalah hati yang dapat mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan menjadi bersih karenanya.
Al-Ikhbat (tunduk) adalah tenangnya anggota-anggota tubuh dengan cara berendah diri dan khusyu’ karena Allah.

Di antara pengaruh-pengaruh sikap tunduk adalah bergetarnya hati karena berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala; bersabar terhadap takdir-takdir-Nya; ikhlash di dalam peribadatan-Nya; dan berbuat baik kepada makhluk-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.” (Al-Hajj: 34-35)

Hati yang tunduk adalah lawan hati yang keras dan hati yang sakit.Allah Subhanahu wa Ta.ala telah menciptakan sebagian hati tunduk terhadap-Nya dan sebagiannya lagi keras. Allah juga menciptakan pengaruh-pengaruh bagi keras dan tunduknya hati.

Adapun hati yang keras seperti batu adalah hati yang tidak menerima apa yang disebarkan di dalamnya, tidak tertanam padanya kebenaran, tidak tergambar padanya ilmu-ilmu yang bermanfaat, dan tidak mudah untuk mengamalkan amal-amal shaleh.

Kekerasan adalah kegersangan di dalam hati yang menghalanginya untuk berinteraksi, dan kekasaran yang menghalanginya untuk terpengaruh terhadap musibah dan bencana. Dia tidak terpengaruh karena kekasaran dan kekerasannya, bukan karena kesabaran dan kesanggupannya menanggung derita.

Di antara pengaruh-pengaruh kerasnya hati adalah merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya , tidak menerima kebenaran, menghalang-halanginya, dan melupakan peringatan yang telah diberikan kepadanya; yaitu meninggalkan ilmu dan amal-perbuatan yang telah Allah perintahkan kepadanya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 74)

Adapun hati yang sakit adalah hati yang di dalamnya terdapat kebenaran, akan tetapi sangat lemah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan hati yang sakit, yaitu hati yang sangat lemah yang tidak menetap padanya gambaran kebenaran, juga hati yang keras lagi kering yang tidak menerima gambaran kebenaran dan tidak terpatri di dalamnya. Kedua hati tersebut adalah hati yang sengsara dan tersiksa.

Selanjutnya Allah menyebutkan hati yang tunduk lagi tenteram kepada-Nya, yaitu hati yang dapat mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan bersih karenanya.

Ujian dan cobaan itu dapat menampakkan perbedaan yang terdapat di dalam ketiga hati tersebut :

Hati-hati yang keras dan hati-hati yang sakit akan menampakkan sesuatu yang tersembunyi seperti keraguan dan kekufuran.

Sedangkan hati-hati yang tunduk akan menampakkan sesuatu yang tersembunyi seperti keimanan, petunjuk, dan bertambahnya kecintaan kepada Rabb serta kebencian terhadap kekufuran dan kesyirikan.

Hati merupakan salah satu anggota tubuh manusia. Dia adalah anggota tubuh yang paling mulia. Setiap anggota tubuh seperti tangan misalnya, dapat menjadi mati dan kering, sakit dan lemah, atau hidup dan kuat.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

Ya Allah, Dzat yang Maha memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami untuk selalu ta’at kepada-Mu. Berikanlah kami kemampuan untuk membaca kitab-Mu dan mengamalkan syariat-Mu dengan baik, juga kejujuran berikhlas di dalam beribadah kepada-Mu.

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”. (Ali-‘Imran: 53)

Amin Yaa Robbal ‘alamin..

Wallohu ta’ala a’lamu bish showab

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s