Catatan Abah Heri: Siapakah Anda ? … abah !


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak manfaat bagi orang lain” {H.R. Bukhari}. Seakan hadis ini mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini?

Dari keberadaannya orang dapat dibedakan menjadi :

1.Bagi seorang yang berakhlak baik siapapun akan merasa nyaman bila dekat dengannya. Bukan karena ia cantik atau tampan atau pula karena ia kaya. Tetapi karena akhlaknya yang baik yang membuat kita nyaman berdekatan dengan dia. Hari-harinya tak lepas dari menjaga silaturahmi sikap penuh wibawa penyabar selalu berterima kasih penyantun lemah lembut bisa menahan dan mengendalikan diri serta penuh kasihsayang. Ia tidak perrnah melaknat memaki-maki memfitnah menggunjing bersikap tergesa-gesa dengki bakhil ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah ramah tamah mencintai krn Allah membenci krn Allah dan marah pun krn Allah SWT subhanallah demikian indah hidupnya.Bagi orang yang demikian maka keberadaannya sangat dirasakan oleh orang disekitarnya. Jikalau saja orang berakhlak mulia ini tak ada maka siapapun akan merasa kehilangan akan terasa ada sesuatu yg kosong di rongga kalbu ini. Orang yg wajib ada pasti penuh manfaat dan kalau tak ada siapapun akan merasa kehilangan.

2.Orang Kalau orang yg sunah keberadaan bermanfaat tapi kalaupun tak ada tak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amal belum dari lubuk hati yg paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti hal kalau kita berjumpa dengan orang yg berhati tulus perilaku benar-benar akan meresap masuk ke rongga kalbu siapapun. sunnah keberadaannya bermanfaat.

3.Sedangkan orang yang mubah ada dan tak ada orang itu tak berpengaruh. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yg ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan dan kalau tak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yg mubah. Ada dan tiada tak membawa manfaat dan tak juga membawa mudharat

4.Adapun orang yg makruh keberadaan justru membawa mudharat dan kalau dia tak ada tak berpengaruh. Arti kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tak senang. Misal ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang tetapi seketika klakson dibunyikan tanda bahwa ayah sudah datang anak-anak malah lari ke tetangga ibu cemas dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yg keberadaan menimbulkan masalah. Seorang anak yg makruh kalau pulang sekolah justru masalah pada bermunculan dan kalau tak pulang suasana malah menjadi aman tentram. Ibu yg makruh diharapkan anak-anak utk segera pergi arisan daripada ada di rumah. Sedangkan karyawan yang makruh kehadiran di tempat kerja hanya melakukan hal yg sia-sia daripada bersungguh-sungguh menunaikan tugas kerja.

5.Lain lagi dgn orang bertipe haram keberadaan malah dianggap menjadi musibah sedangkan ketiadaan justru disyukuri. Jika saja dia pergi ngantor justru perlengkapan kantor pada hilang maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yg ada malah mensyukurinya.

Untuk itu marilah kita ukur bagaimana pendapat orang tentang keberadaan kita . Apakah orang lain sudah merasakan manfaatnya kehadiran kita ?

Kepada ibu-ibu hendak tanyakan pada diri masing-masing apakah anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Bagi ayah cobalah mengukur diri saya ini seorang ayah atau seorang diktator ? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para mubaligh benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?

Seharusnya ketika bercermin, jangan hanya memperhatikan muka saja. Tetapi pandanglah akhlak dan perbuatan yang telah kita lakukan.. Sayang jarang orang berani jujur dengan tak membohongi diri sering malah sering merasa pinter padahal bodoh merasa kaya padahal miskin merasa terhormat padahal hina. Padahal utk berakhlak baik kepada manusia awal dgn berlaku jujur kepada diri sendiri. Marilah kita tanya apakah kita sudah bermanfaat bagi lingkungan kita ?

Ada riwayat seorang ibu ahli ibadah tapi Allah malah mencap sebagai ahli neraka. Mengapa? Ternyata karena si ibu ahli ibadah ini pernah mengurung kucing dalam sebuah tempat sehingga si kucing tak mendapatkan jalan keluar utk mencari makan padahal oleh si ibu tak pula diberi makan sampai akhir kucing itu mati.

Betapa indah pribadi yg penuh pancaran manfaat ia bagai cahaya matahari yg menyinari kegelapan menjadikan tumbuh benih-benih bermekaran tunas-tunas merekah bunga-bunga di taman hingga menggerakkan berputar roda kehidupan. Demikianlah cahaya pribadi kita hendak mampu menyemangati siapapun bukan hanya diri kita tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dgn karunia Allah Azza wa Jalla Zat yg Maha Melimpah energi-Nya subhanallah. Ingatlah hidup hanya sekali dan sebentar saja sudah sepantas kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini yakni menjadi seperti yg disabdakan Nabi SAW sebagai khairunnas. Sebaik-baik manusia! Insya Allah.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduallaailaahailla anta astaghfiruka wa atubuilaik.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s