Catatan Abah Heri: DZIKRULLAH


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Dzikir adalah mengingat Allah swt dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Orang beriman yang senantiasa mengingat Allah swt akan merasa tenang dan tenteram, karena Allah selalu ada dalam hati dan pikirannya.

Allah swt berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar’rad:28). Bagi orang yang sedang merasakan kesusahan atau sedang dirundung suatu masalah besar, dzikir dapat membantu hatinya agar merasa tenang, serta berikhtiar dan mengembalikannya kepada Allah swt.

Berbeda dengan orang yang tidak pernah berdzikir, ia tidak pernah mengingat Allah, ia hanya memikirkan kehidupan di dunia, tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan di dunia itu. Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan yang mati“. (HR. Bukhari). Maka sudah semestinya kita hidup di dunia ini selalu bersyukur kepada Allah swt.

Berzikir (ingat) kepada Allah Swt. Adalah suatu dasar ibadah kepada Allah swt. Karena hal tersebut adalah suatu tanda hubungan antara hamba dengan Tuhannya dalam setiap waktunya dan keadaannya, dari Aisyah Ra. Ia berkata: “adalah Rasulullah saw. senantiasa mengingat Allah Swt. Dalam setiap waktunya”. (HR. Muslim). Keterikatan seorang hamba dengan Allah Swt. Adalah suatu kehidupan, berlindung kepada-Nya adalah suatu keselamatan, mendekat kepada-Nya adalah suatu keberuntungan dan kerelaan, dan menjauh dari-Nya adalah suatu kerugian dan kesesatan.

Para ulama setidaknya membagi dzikrullâh menjadi tiga bagian.

Pertama: dzikir dengan lisan, yakni dengan memperbanyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah seperti istigfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dll. Dalam hal ini, Rasulullah SAW., misalnya, bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah mengucapkan Lâ ilâha illâ Allâh.” (HR At-Tirmdizi, Ibn Majah dan Ahmad).

Kedua: zikir dengan kalbu (hati, akal), yakni dengan senantiasa memperbanyak tafakur (berpikir), murâqabah (merenung), dan muhâsabah (introspeksi diri). Di antara bagian dari tafakur adalah rajin meng-hadiri majelis-majelis ilmu, terutama ilmu-ilmu yang terkait dengan masalah fikih/syariah (halal-haram). Dalam hal ini, Rasulullah SAW., bersabda, “Jika kalian melewati taman-taman surga, maka berhentilah dan masuklah ke dalamnya.” Para Sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Majelis-majelis zikir.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Para Sahabat Nabi SAW. ternyata memahami majelis dzikir dalam hadis di atas sebagai majelis ilmu, yakni majelis yang membahas halal-haram, atau majelis yang membahas ihwal hukum-hukum syariah. Ini tentu bisa dipahami, karena dengan memahami halal-haram, setiap Muslim berpotensi untuk senantiasa terikat dengan hukum-hukum syariah dalam seluruh ucapan dan tindakannya.

Bentuk dzikir yang ketiga: zikir dengan perbuatan. Inilah zikir yang paling utama. Mengapa? Sebab, dzikir dengan lisan dengan memperbanyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah termasuk ibadah sunnah saja. Dzikir dengan kalbu, misalnya, dengan banyak menghadiri majelis ilmu adalah bagian dari thalab al-‘ilmi, yang memang hukumnya wajib. Namun, tentu ini tidak akan banyak berarti saat ilmu yang didapat tidak diamalkan dalam kehidupan. Bahkan jika ilmu dipelajari sekadar untuk bersaing dengan para ulama, atau untuk memper-daya orang-orang bodoh, dan tidak untuk diamalkan, justru hal ini hanya akan mengundang azab Allah SWT. Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Siapa saja yang mencari ilmu demi bersaing dengan para ulama, memperdaya orang-orang bodah, atau mencari perhatian manusia, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam neraka.” (HR at-Tirmidzi).

Adapun dzikir dengan perbuatan, yakni dengan selalu mengikatkan ucapan dan tindakan pada hukum-hukum Allah SWT, menunjukkan bahwa pelakunya, selain telah mempelajari dan memahami hukum-hukum Allah, juga berarti telah melakukan amal yang baik (hasan al-amal). Amal yang baik inilah sesungguh-nya yang akan dinilai oleh Allah SWT, bukan semata-mata ilmunya. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman (yang artinya): Dialah Allah Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji manusia siapa yang terbaik amalnya (QS al-Mulk: 2).

Selain itu, terdapat beberapa faedah dzikir, antara lain:
• Mendapatkan ridho Allah swt, pahala, dan ampunan-Nya. Firman Allah swt: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35).

• Dengan mengingat Allah, Allah pun akan mengingat kita pula. Allah swt berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)

• “Barangsiapa mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU , WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR” (tidak ada ilah kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) setiap hari 100x, niscaya ucapannya itu menyamai pahala membebaskan sepuluh budak. Juga, ditulis baginya 100 kebaikan, dan dihapus darinya 100 kejelekan. Juga, dalam sehari itu dia dijaga setan sampai sore harinya. Tidak ada seorang pun yang mengamalkan sesuatu yang lebih baik darinya selain orang yang mengucapkan lebih banyak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

• “Barangsiapa mengucapkan “SUBHAANALLOH WABIHAMDIHI” (Maha Suci Allah dengan segala pujian bagi-Nya) niscaya ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di surga. (Hadist Shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

• Dzikir dapat menjauhkan kita dari lisan yang tidak bermanfaat seperti ghibah dan sebagainya yang diharamkan oleh Allah swt, serta terhindar dari segala jenis penyakit hati. Dengan dzikir mulut kita selalu mengucapkan asma-Nya dan hati kita selalu mengingat-Nya.
• Dengan berdzikir berarti banyak menyebut nama Allah, dan kita akan beruntung. Firman Allah swt: “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Anfal : 45).

Mudah-mudahan kita semuanya mampu selalu mengingat Allah (dzikrullâh), baik dengan lisan, dengan kalbu, dan terutama dengan perbuatan. Jangan sampai lisan kita selalu basah dengan kalimat-kalimat thayyibah, kalbu (hati, akal) kita penuh dengan pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, tetapi tindakan kita malah cerminan dari tindakan melupakan-Nya.

Tentu tidak baik orang yang rajin menghadiri majelis-majelis dzikir yang di dalamnya ia memperbanyak ucapan kalimat-kalimat thayyibah, bahkan dengan isak tangis penuh khusyuk, tetapi setelah keluar dari majelis-majelis itu dia pun tetap gemar menghadiri ‘majelis-majelis’ maksiat kepada Allah: tetap membuka aurat di hadapan khalayak, melakukan korupsi, membohongi dan mendzalimi rakyat, tidak berlaku amanah, abai terhadap masalah-masalah yang menimpa umat, tetap menolak syariah-Nya untuk diterapkan dalam negara, dll. Semoga kita tidak seperti mereka. Amin

Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduallaailaahailla anta astaghfiruka wa atubuilaik. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
dari beberapa sumber

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s