Catatan Abah Heri: MEMELIHARA CINTA KASIH … ah indah nya…


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Kita sering larut dan terjebak oleh pendapat sebagian orang yang mengatakan, bahwa cinta dan kasih sayang pasti akan mudah pudar seiring berjalannya waktu dan tergerusnya usia. Jangan! . Karena cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga, itu bagaikan magnet yang memiliki daya tarik kuat untuk senantiasa menyatukan jiwa, dan mengikat raga. Ia bagaikan ruh yang selalu menghidupkan lahir dan batin, menjadikan hidup benar-benar hidup, serta menjadikan hidup selalu berarti dan bermakna. Yaitu cinta dan kasih sayang yang disinari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, saat setiap pasangan suami istri masih menikmati manis dan indahnya cinta di awal-awal masa pernikahan, berpikir dan berusahalah sebisa mungkin untuk terus merawatnya. Menjaga persemaiannya agar jangan sampai layu, apalagi musnah. Dengan demikian, insya Allah, Anda dan pasangan akan menikmati indahnya cinta dan kasih sayang abadi. Cinta dan kasih sayang lahir dan batin, cinta dan kasih sayang sejati yaitu cinta dan kasih sayang yang mampu mewariskan sakinah mawaddah wa rahmah dalam hati. Mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya

Cinta itu Bunga . Bunga yang tumbuh mekar di taman hati kita. Taman ini adalah kebenaran. Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan bunga itu adalah : Air dan matahari. Air dan matahari adalah Kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan tapi matahari memberinya gelora kehidupan cinta. Dengan begitu merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai, menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini : menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini bagaimana Istri Anda melahirkan seorang bayi. Ia merawatnya, menumbuhkannya, mengembangkannya, menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila Anda ingin mencintai dengan kuat, maka Anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerima apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin. Kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta : Pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah Anda telah mengenal Istri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya? Apakah Anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah Anda mengenal pola-pola ungkapannya : melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata melalui gerak motorik refleksnya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah Anda merasakan getaran jiwanya, saat Ia suka dan saat Ia benci, saat Ia takut dan sangat membutuhkan perlindungan? Apakah Anda dapat melihat gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya? Sekarang perhatikanlah pengenalan Rasulullah Saw terhadap istrinya Aisyah. Suatu waktu beliau berkata : “ wahai Aisyah, Aku tahu kapan saatnya Kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha maka kamu akan memanggilku dengan sebutan Ya Rasulullah! Tapi jika kamu marah padaku kamu akan memanggilku dengan sebutan Ya Muhammad!”

Apakah beda antara Rasulullah Saw dan Muhammad, kalau toh obyeknya itu-itu juga? Tapi Aisyah telah memberi pemaknaan khusus ketika Ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa tertentu dan kata lainnya pada situasi jiwa yang lain.

Pengenalan yang baik harus di sertai dengan penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik. Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerimanya apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangnnya itu bukan kondisi akhir kepribadian dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya, apakah yang Ia harap dari bayi kecil itu? Ketika Ia merawatnya,menjaganya dan menumbuhkannya.

Apakah Ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikan-kebaikannya? Tidak, semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang. Dan karnanya Ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.

Penerimaan positif itulah yang mengantar kita kepada mencintai selanjutnya : pengembangan. Pada mulanya seorang wanita itu adalah kuncup yang tertutup, ketika memasuki rumah Anda , memasuki wilayah kekuasaan Anda, menjadi istri Anda, menjadi Ibu Anak-anak Anda, Andalah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan agar Ia mekar jadi Bunga. Andalah yang harus menyirami Bunga itu dengan air kebaikan , membuka semua pintu hati Anda baginya, agar Ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s