Catatan Muhamad Thoriq: TAWAKKAL (bagian ketiga)


Tawakkal dibagi menjadi dua macam :
1. Tawkkal Asbab
2. Tawkkal Tadjrid

Yang dimaksud dengan tawakkal asbab adalah segala yang diusahakan untuk mencapai sesuatu baik didalam mencari rizki/usaha. Didalam mencari pekerjaan harus dari usaha/ihtiyar yang dilakukan diluar rumah atau mengubahkan sistem ilmu pengetahuan yang dimiliki dan tidak dibenarkan berdiam diri/malas didalam bekerja. Maka Allah tidak akan mengabulkan segala permintaan didalam rizqinya yang seharusnya dilakukan dengan dengan bekerja keras untuk mendapatkan rizqi yang halal tetapi kita harus ingat bahwa kebutuhan dunia bukan jaminan tetapi sarana untuk hidup atau bekal ibadah kepada Allah SWT. Sesuai dengan Firman SWT : Kujadikan siang hari untuk mata pencaharianmu sedangkan Kujadikan malam untuk istirahatmu. Maka wajiblah manusia itu yang di maqomal asbab harus mencari/berusaha dalam hidup untuk berusaha mendapatkan nafkah yang diridhoi oleh Allah SWT. Untuk itu usaha yang dilakukan oleh manusia itu dengan jalan sebab musabab, artinya harus dimulai dengan pemikiran-pemikiran yang membutuhkan waktu tersendiri sehingga kehidupan mana agama, mana dunia, mana akhirat harus bisa di pisahkan dalam ketentuan seperti : agama kita kerjakan 30%, dunia 30%, akhirat 30% sisanya 10% tergantung kita kemana kita letakan yang 10% itu apakah di agama, dunia atau di akhirat, semuanya tergantung dari keberadaan seseorang itu apa yang paling baik dilakukan menurut kepentingan masing-masing, semuanya tergantung dari manusia itu sendiri.
Perlu diketahui, kita lakukan dengan sistem yaitu 8 jam kita beribadah/menuntut ilmu, 8 jam kita bekerja/ berusaha dan 8 jam kita gunakan untuk istirahat. Maka dengan displinnya waktu, kita akan m,endapatkan kehidupan yang di cita-citakan oleh setiap manusia. Bahkan dengan kita bisa melakukan hal tersebut kita termasuk golongan orang-orang yang disebut Istiqomah.

Kemudian ada wasiat ahli hikmah untuk penghuni dunia yaitu :
1. Jangan banyak tidur, itu akan menghapus keberkahan.
2. Jangan suka omong, karena banyak omong membuat hati menjadi keras dan banyak omong pasti
dustanya.
3. Jangan suka makan, karena orang yang suka makan tidak mungkin bisa banyak ibadah dan sumber
penyakit dan tidak akan mendapatkan keniukmatan didalam ibadahnya.
4. Belajar tidak batal wudhu’ karena dengan berwudhu’ kemungkinan kecil untuk berbuat maksiat.

Diantarakedudukan empat wasiat itu yang paling tinggi kedudukannya adalah yang paling terakhir yaitu selalu memelihara wudhu’nya karena dengan wudhu’ itu bagian yang sangat penting dan sangat di cintai oleh Allah SWT sesuai dengan FirmanNya : Innalloha yukhibbul muthathohhirinn artinya Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu mensucikan diri.
Disitulah letak wasiat orang-orang hikmah yang harus kita pegang kata-kata hikmahnya. Insya Allah kita akan menjadi bagian-bagian dari pada ilmu yang mendapatkan ridho Allah.

Kemudian arti dari pada tawakkal maqom Tadjridu adalah orang yang berpegang pada ketentuan atau keyakinan yang diperoleh dengan hasil ibadahnya. Yang kalau kita lihat/maksudnya yaitu tawakkal hanya pada Allah yang biasanya maqom tadjrid ini hanya dimiliki oleh para Wali-wali Allah yang membutuhkan tentang kebenaran/keberadaan Al Qur’an yaitu ayat yang berbunyi Iyyakana’budu waiyya kanasta’in. Yang tidak melihat apapun dari segala yang di kerjakan oleh manusia tetapi dengan modal ibadahnya sehingga mencapai derajat ridho sisi Allah. Dan keseluruhan hidupnya bergantung pada janji-janji Allah dalam surat Ad-Dzariyat ayat 22 yang berbunyi : Wafissamaai rizqukum wa maa tuu’aduun artinya Dan dilangitlah ridzqi kalian dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian.
Dengan demikian maka tadjrid itu adalah ketetapan dari Allah yangb tidak bisa dirubah dengan ketentuan-ketentuan, karena itu adalah pilihan Allah/ilmu.
Jadi ibarat manusia yang dia mendapatkan rizqi Allah berupa usaha yang diluar, dinamakan Asbab, dan asbab tidak bisa dimasukan dalam Tadjrid. Karena kata tadjrid, ia mendapat rizqi dari Allah duduk diam di rumah dan ahli tadjrid tidak bisa menukar jabatan dengan asbab, karena mereka mempunyai kedudukan masing-masing dengan keputusan di tangan Allah SWT.
Seorang ahli Hikmah berkata : Ada seseorang yang berkeinginan untuk bertadjrid padahal Allah telah meletakan pada seseorang itu pada kedudukan asbab, keinginan yang demikian itu termasuk syahwat yang tersembunyi / nafsu, sebaliknya orang yang mendapat kedudukan tadjrid padahal Allah meletakan pada asbab, maka hukumnya pun sama yaitu Nafsu. Begitulah harusnya setiap manusia hendaknya merasa ridho dan mensyukuri atasketentuan tersebut diatas merupakan perbedaan yang harus dipisahkan sehingga untuk menentukan pilihannya bisa diketahui dengan jalan mengerjakan sholat istikhoroh 2 raka’at sesudah salam sujud kembali dengan membaca surotul Fatehah sebanyak 41 kali dan di dalam bacaan kalimat : Ihdinasshirotol Mustaqim shirotol asbab washirotol tadjrid. Artinya Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus jalan yang menuju ke asbab/jalan menuju tadjrid.
Dengan dilakukan selama 40 hari, maka jawabannya dengan keadaan kalau manusia tersebut keinginan belajar agamanya, ibadahnya semakin menggebu-gebu dan dengan usahanya untuk bekerja itu sangat malas sekali, itu tanda-tanda dia di golongkan kedalam kelompok TADJRID, sebaliknya dengan hasil istikhoroh itu dia semakin giat bekerja dan berorganisasi, maka dia termasuk dalam golongan ASBAB, yang semuanya dikategorikan sebagai Iman yang mendapat ridho Allah.
(Dikutip dari kitab Mutiara Ilmu karangan Syeh Arifin bin Ali bin Hasan dari Surabaya)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s