Saat “MIMPI KEMATIAN” itu kurasakan


Saat aku terbaring lunglai dengan setengah kesadaran yang masih tersisa, antara mimpi dan kenyataan, aku tersandar ditempat tidur dorong rumah sakit, menunggu giliran di dorong menuju kamar perawatan.

Saat itu datang dua malaikat, mendekat dan membisikkan kalimat: assalamu’alaikum, saudaraku !, apakah sudah siap aku jemput anda menuju tempat yang sudah diu janjikan oleh Allah ?, sepontan diriku bagai tersihir, hanya dapat menganggukan kepala tanda kesiapan untuk di antar ketempat yang jauh. Oleh dua malaikat tersebut.

Saat nyawa tercerabut dari raga, nampak isteriku, anak”ku, saudara”ku, mertuaku, nampak juga teman”ku tertunduk sedih, isteriku meneteskan air mata, tanda duka, setelah diriku bagai batang pisang yang dingin tak berdaya, anakku mengelus ngelus kepalaku, sesekali airmatanya menetes ke wajah jasadku. Saat aku akan meninggalkan mereka kulambaikan tanganku pada mereka tanda perpisahan dengan mereka, karena aku akan berada di dunia yang berbeda dengan mereka.
Perjalananku menuju tempat yang jauh bersama dua malaikat menuju lorong putih yang nampak titiknya saja, tanpa bisa di dekati ujung dari titik putih lorong tersebut, lorong itu bagai titian menuju tempat yang disediakan Gusti Allah untuk menerima rohku bersama malaikat, perjalanan itu lama tak sampai sampai ujungnya.

Sedangkan di rumah para petakziyah, dengan bermacam emosi, mereka datang dengan tujuan mengucapkan bela sungkawa pada isteriku. Isteriku tak kuasa menahan tangis saat orang orang menanyakan, sakit apa, berapa lama, operasinya dimana dll, bahkan ada (adikku) yang tak kuasa menahan emosinya, sambil meraung, menjerit jerit, menampakkan dirinya sangat mencintai diriku sambil membaca ayat ayat al quran, isak tangis itu makin lama makin meredah.

Dalam perjalanan itu sesekali aku menoleh ke belakang, nampak jelas suasana di rumahku, aku tersenyum saat mereka berdoa :”
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu wa taqabbala a’malahu waj’al al-jannata maswahu. Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lana wa lahu.

Akupun berdoa: Yaa Robb, berilah mereka kekuatan menerima kepergiaanku menuju KehadiratMU, berilah mereka kesabaran dan jadikanlah anak”ku menjadi anak yang sholeh, dan kuatkan hati isteriku untuk tetap menjadi isteri sholehah.
Sampai akhirnya aku tertabrak pada dinding yang menghadang, sehingga aku terbangun karena merasakan kesakitan akibat jarum infusku tertarik dan berdarah, haaaaa? Aku mimpi?
Subhanallah, andai proses kematian itu seperti yang telah aku alami, betapa nikmatnya kematian tersebut, tetapi apabila prosesnya sebaliknya betapa mengerikan.

Terinspirasi saat menjenguk pasien yang tertidur koma, di Rumah Sakit !
Semoga, saat kematian itu datang kita sudah siap untuk di jemput !

Iklan

2 Komentar

  1. posting yang sunggh menggugah 🙂

    • makasih mas ELFARIDI, semoga kita selamat sampai menghadap GUSTI ALLAH


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

  • TOPIC

  • Komentar yang masuk

    Wally Gaba di mohon maap
    Mohd khair othman di Mungkin ini yang Anda CARI…
    Kusuma di menangis saat SAKIT
    herdiansyah di Doa Pemuda yang Ingin Mencari…
    Dani di Memberi Kehidupan
  • Arsip Bulanan