Catatan Abah Heri: Jangan lari kerabat Ku.


Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika Yang Maha Menentukan telah memutuskan sesuatu, tidak ada satu pun yang mampu mencegahnya. Keputusan-Nya sungguh tidak dapat diduga. Kapan, untuk siapa, dan dalam bentuk apa, tak seorang pun yang mampu mendeteksinya.

Manusia adalah makhluk yang serba lemah. Sungguh sangat tidak pantas bila ada orang yang menyombongkan diri tidak butuh dengan pertolongan Allah. Berserah diri kepada Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit merupakan jalan menuju keselamatan

Hakekat manusia itu adalah tercipta sebagai Makhluk, produk dari Allah. Setiap apa yang diciptakan oleh penciptanya haruslah tunduk dan taat kepada aturan yang ditetapkan oleh pembuatnya. Karena manusia adalah produk Allah maka fitrah yang harus ditaati adalah tunduk patuh dan taat terhadap setiap apa-apa yang diperintahkan dan menghindari setiap apa yang dilarang.

Bila kaitannya manusia sebagai makhluk maka apa yang harusnya dimiliki oleh seorang makhluk? kelemahan yang mutlak. Manusia itu cenderung lemah,Kecenderungan itu kelihatan sekali bila tengah ditimpa oleh suatu ujian. Perhatikan saja untuk menghadapi virus yang begitu kecil kita ternyata kalah. Sehingga kita masih bisa terkena penyakit flu atau penyakit mata yang menyiksa. Contoh lainnya adalah ketika kita dicoba dengan penyakit gigi. Betapa tersiksanya.

“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah kemudian menjadikan kalian sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian dia menjadikan kalian sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakinya dan Dialah Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.” (Ar-Rum: 54)

Semua ini menggambarkan kepada kita tentang sangat butuhnya kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak akan mungkin meski sekejap mata untuk terlepas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Terlebih lagi kita berasal dari sifat kelemahan dan tidak mengetahui apa-apa.

“Kepada Allahlah kalian bertawakkal (menyerahkan diri) jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah: 23)

juga berfirman:Allah Subhanahu wa Ta’ala “Musa berkata: ‘Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal kepada-Nya jika kalian orang-orang yang tunduk’.” (Yunus: 84)

Rasulullah bersabda:“Suatu kaum masuk ke dalam al-jannah (surga) di mana hati-hati mereka bagaikan hati-hati burung.” (Shahih, HR. Muslim) Al-Imam An-Nawawi berkata: “Sebagian ulama memberikan makna hati mereka bagaikan hati burung’ adalah orang-orang yang bertawakkal.” (Riyadhush Shalihin)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan keshahihan (kebenaran) Islamnya (seseorang) adalah dengan tawakkal. Dan tatkala tawakkal seorang hamba kuat, imannya akan menjadi lebih kuat dan apabila tawakkalnya lemah maka ini bukti bahwa imannya lemah dan mesti terjadi. Allah telah menghimpun (di dalam Al Qur’an) antara tawakkal dan ibadah, tawakkal dan iman, tawakkal dan takwa, tawakkal dan Islam dan antara tawakkal dan hidayah

berfirman dalam Al Qur’an yang menjelaskan pertolongan-Nya, pembelaan-Nya, dan kecukupan yang akan diberikan-Nya kepada orang yang bertawakkal:Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.” (Ath-Thalaq: 3)

Dalil yang menunjukkan bahwa tawakkal itu harus dibarengi dengan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat ‘Umar Ibnul Khathtab:
“Bila kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana dia memberikan rizki kepada burung; pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang dalam keadaan kenyang.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami no. 5254)

Tawakkal sebagai satu bentuk ibadah tentu memiliki celah bagi seseorang untuk bermaksiat di dalamnya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Yaitu tawakkal yang diberikan kepada selain Allah dan ini termasuk syirik besar. Barangsiapa memberikannya kepada selain Allah, maka dia telah keluar dari Islam, telah musyrik dan kafir.

Sayangnya kita sering teperangkap dalam ketidak sabaran ketika ujian Allah sedang tiba. Banyak diantara kita yang justru lari ke tawakkal syirik. Misalnya dengan mencari ke dukun-dukun atau bahkan dengan melakukan hal-hal yang yang sangat dilarang. Misalnya mempercayai ataupun meminta kepada benda-benda keramat seperti keris, batu-batu akik dan lain-lain. Atau dengan jalan mistik lainnya seperti yang sering kita baca, antara lain dengan uang ghoib. Sehingga akhirnya kita terperangkap jalan menuju dosa yang besar yaitu syirik kepada Allah.

Perhatikan ayat-ayat dibawah ini, yang menerangkan betapa lemahnya dan bodohnya kita.
Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. (Al-Anbiyaa :37)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (Al-Ma`aarij :19)
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (Al-Ma`aarij :20)

Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, Karena takut membelanjakannya”. dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al-Israa` :100)

Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.(Al-Kahfi :54)

Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(Al-Ahzab :72)

Bila harus melihat kenyataan ini, betapa lemah manusia itu, apa lagi yang menjadikan alasan bagi manusia untuk menentang Penciptanya diantara begitu banyak kelemahan ini. Bahkan asal mula penciptaan manusia jugalah hanya dari segumpal barang hina, tanah tembikar hitam legam.

Tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan Allah, pun bila Allah menghendaki kemuliaan itu akan sirna dengan seketika, begitu juga bila Allah menghendaki maka segala kesusahan ini akan lenyap juga. Jadi kenapa kita masih meminta kepada yang lain selain kepada Allah.

Semoga bermanfaat

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s