Catatan Abah Heri: PENCEMBURUKAH ANDA ?


Perasaan cemburu adalah ketidaksukaan bergabungnya orang lain pada haknya.Sesungguhnya perasaan cemburu adalah tabiat yang alami. Merupakan fitrah yang tercipta pada diri setiap manusia, sesuai dengan tabiat manusiawi yang dipupuk dengan nilai-nilai keimanan. Ia berfungsi sebagai penjaga kemuliaan dan kehormatan manusia. Akan tetapi, perasaan cemburu tersebut haruslah sesuai dengan aturan agama yang mengutamakan kesabaran, ilmu, keadilan, kebijaksanaan, kejujuran, ketenangan dan kelembutan dalam semua perkara.

Menurut Abdullah bin Syaddad, ada dua jenis ghirah. Pertama, ghirah yang dengannya seseorang dapat memperbaiki keadaan keluarga. Kedua, ghirah yang dapat menyebabkannya masuk neraka. Ditinjau dari nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Taala, cemburu ada dua macam. Dalam sebuah hadits disebutkan : bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda: Ada jenis cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Taala, adapula yang dibeni-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada keraguan, sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan.?

Disebutkan di dalam hadits,

Saad bin Ubadah radhiallahu anhu berkata, Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan isteriku, niscaya akan kutebas ia dengan pedang, ucapan itu akhirnya sampai kepada Rasulullah. Lalu beliau shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Saad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku.?

Ditinjau dari sisi yang lain, cemburu ada dua macam. Pertama, ghirah lil mahbub (cemburu membela orang yang dicintai). Kedua, ghirah alal mahbub (cemburu membela agar jangan sampai ada orang lain yang juga mencintai orang yang dicintainya.

Ghirah lil mahbub adalah pembelaan seseorang terhadap orang yang dicintai, disertai dengan emosi demi membelanya, ketika hak dan kehormatan orang yang dicintai diabaikan atau dihinakan. Dengan adanya penghinaan tersebut, ia marah demi yang dicintainya, kemudian membelanya dan berusaha melawan orang yang menghina tadi. Inilah cemburu sang pencinta yang sebenarnya.

Dan ini pula ghirah Rasul alaihi salam dan pengikutnya terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jenis ghirah inilah yang semestinya dimiliki seorang muslim, untuk membela Allah Subhanahu wa Ta’ ala, Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam dan agama-Nya. Adapun ghirah ‘alal mahbub adalah kecemburuan terhadap orang lain yang ikut mencintai orang yang dicintainya. Jenis ghirah inilah yang hendak kita kupas pada pembahasan in

Cemburu adalah fitrah manusia.Jika ada manusia yang tidak memiliki rasa cemburu,maka ia telah kehilangan fitrah dan nuraninya.Cemburu timbul karena beberapa sebab :
1. Pudarnya mawaddah warahmah.Artinya,kalau salah satu kondisi ini tidak tercapai.pasti akan timbul rasa cemburu.Padahal salah satu tujuan pernikahan adalah waja’ala bainakum mawaddata warahmah.Artinya “Dijadikan diantara lak-laki dan perempuan itu mawaddah warahmah.”Mawaddah itu nafkah jasmani,sedangkan rahmah itu nafkah ruhani.Sehingga kalau dalam rumah tangga itu ada mawaddah dan rahmah,maka akan tercipta kondisi sakinah.Sebaliknya,bila tidak ada mawaddah dan rahmah,maka kecemburuan akan mendominasi.

2. Orang yang sudah menikah,darah dagingnya telah menyatu.Al-Qur’an mengistilahkannya sebagai mitsaqan ghalidza :Ucapan lahir dan batin yang teramat kuat,hanya mati yang mampu memisahkannya. mitsaqan ghalidza ini akan rusak,bila kita memiliki ikatan dengan orang lain,atau ada wanita atau laki-laki lain dalam rumah tangga kita.Bila dihati suami atau istri ada orang lain selain pasangannya,maka akan menimbulkan cemburu.Biasanya,suami yang baik atau istri yang baik akan mudah mendeteksi adanya satu tanda berbeda pada pasangan yang dihatinya ada orang lain.Maka,berhati-hatilah terhadap firasat orang beriman,karena ia melihat dengan cahaya Allah.

3. Perhatian dan pengertian yang kurang.Cemburu bisa datang seiring berkurangnya perhatian dan pengertian pasangan.Dalam islam,nikah adalah amanah yang sangat besar,karena mempertaruhkan syahadat,shalawat,istigfardan mempertaruhkan kebesaran mesjid tempat dilangsungkannya akad nikah.Kalau kita tahu bahwa menikah adalah amanah,maka dibutuhkan keseriusan menjaga amanah tersebut dengan memberikan perhatian kepada pasangan.

Kecemburuan lahir karena adanya rasa memiliki dalam diri.Ketika orang yang dikasihinya memberikan perhatian kepada orang lain,rasa cemburu itu akan muncul.Dalam batas-batas tertentu cemburu itu memang perlu untuk menunjukkan adanya rasa cinta.Kalau berlebihan,cemburu berpotensi merusak hubungan yang sudah terjalin.Cemburu yang sehat adalah cemburu yang tidak membatasi gerak hidup dan mematikan langkah seseorang.Sedangkan cemburu yang tidak sehat (bahkan merusak) adalah cemburu yang tidak lagi mengenal pertimbangan akal.

Cemburu yang “meledak-ledak”biasanya dimiliki orang-orang yang cenderung posesif (merasa memiliki)terhadap pasangannya.Jika seseorang terkena cemburu buta,maka pikiran dan perasaannya cenderung tertutup.Ia akan selalu gelisah dan takut kalau orang yang disayanginya membagi perhatian kepada yang lain.Orang yang dicemburui pun akan terganggu hidupnya.Padahal kehidupan semakin komplek,dimana setiap orang membutuhkan penyebaran konsentrasi.Dalam arti seseorang harus fokus menjalankan aktivitasnya.Jika seseorang tidak mampu menyebarkan konsentrasinya,ia akan kehilangan momen-momen penting dalam hidupnya.Waktunya banyak terbuang untuk mengurusi kecemburuan pasanganya.

Rasa cemburu bisa timbul karena faktor pengalaman masa lalu.Misalnya,sering dikecewakan sehingga terbengkalai perasaannya,merasa tidak dihargai keberadaannya dan sebagainya.Pengalaman dalam struktur keluarganya pun bisa menentukan tingkat kecemburuan seseorang.

Orang yang biasa dimanjakan dengan limpahan kasih sayang keluarga,cenderung memiliki tuntutan lebih besar untuk selalu dicintai.Ataupun sebaliknya,seseorang yang kurang mendapatkan kasih sayang dikeluarganya.Saat mendapatkan pasangan,ia akan menuntut perhatian dan kasih sayang lebih.

Selain itu,evaluasi diri bisa dijadikan acuan untuk menyikapi rasa cemburu secara bijak.Caranya bisa melalui introspeksi diri atau analisis rasioanal (pertimbangan akal).Ketika cemburu melanda,fakta nyata pun harus dikedepankan.Tujuannya agar seseorang tidak mudah menyalahkan pasangannya karena dirasa sudah tidak perhatian lagi.

Berikut beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para isteri untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang berlebihan.

* Seorang isteri hendaklah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap pertengahan dalam hal cemburu terhadap suami. Sikap pertengahan dalam setiap perkara merupakan bagian dari kesempurnaan agama dan akal seseorang. Dan sepatutnya seorang isteri meringankan rasa cemburu kepada suami, sebab bila rasa cemburu tersebut melampaui batas, bisa berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, serta dapat menyulut api di hatinya yang mungkin tidak akan pernah padam, bahkan akan menimbulkan perselisihan di antara suami dan melukai hati sang suami. Sedangkan isteri akan terus hanyut mengikuti hawa nafsunya.

* Wanita pencemburu, lebih melihat permasalahan dengan perasaan hatinya daripada indera matanya. Ia lebih berbicara dengan nafsu emosinya dari pada pertimbangan akal sehatnya. Sehingga sesuatu masalah menjadi berbalik dari yang sebenarnya. Hendaklah hal ini disadari oleh kaum wanita, agar mereka tidak berlebihan mengikuti perasaan, namun juga mempergunakan akal sehat dalam melihat suatu permasalahan.

* Dari kisah-kisah kecemburuan sebagian isteri Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam tersebut, bisa diambil pelajaran berharga, bahwa sepatutnya seorang wanita yang sedang dilanda cemburu agar menahan dirinya, sehingga perasaan cemburu tersebut tidak mendorongnya melakukan pelanggaran syari’at, berbuat zhalim, ataupun mengambil sesuatu yang bukan haknya. Maka janganlah mengikuti perasaan secara membabi buta.

* Seorang isteri yang bijaksana, ia tidak akan menyulut api cemburu suaminya. Misalnya, dengan memuji laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekagumman terhadap laki-laki lain, baik pakaiannya, gaya bicaranya, kekuatan fisiknya dan kecerdasannya. Bahkan sangat menyakitkan hati suami, jika seorang isteri membicarakan tentang suami pertamanya atau sebelumnya. Rata-rata laki-laki tidak menyukai itu semua. Karena tanpa disadarinya, pujian tersebut bermuatan merendahkan ?kejantanan?nya, serta mengurangi nilai kelaki-lakiannya, meski tujuan penyebutan itu semua adalah baik. Bahkan, walaupun suami bersumpah tidak terpengaruh oleh ungkapannya tersebut, tetapi seorang isteri jangan melakukannya. Sebab, seorang suami berat melupakan itu semua.

* Ketahuilah wahai para isteri! Bahwa yang menjadi keinginan laki-laki di lubuk hatinya adalah jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwamu. Tanamlah dalam dirimu bahwa tidak ada lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.

* Wahai para isteri! Jadikanlah perasaan cemburu kepada suami sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepadanya. Jangan menjadikan ia menoleh kepada wanita lain yang lebih cantik darimu. Berhias dirilah, jaga penampilan di hadapannya agar engkau selalu dicintai dan disayanginya. Cintailah sepenuh hatimu, sehingga suami tidak membutuhkan cinta selain darimu. Bahagiakan ia dengan seluruh jiwa, perasaan dan daya tarikmu, sehingga suami tidak mau berpisah atau menjauh darimu. Berikan padanya kesempatan istirahat yang cukup. Perdengarkan di telinganya sebaik-baik perkataan yang engkau miliki dan yang paling ia senangi.

* Wahai, para isteri! Janganlah engkau mencela kecuali pada dirimu sendiri, bila saat suamimu datang wajahnya dalam keadaan bermuram durja. Jangan menuduh ?salah-kecuali pada dirimu sendiri, bila suamimu lebih memilih melihat orang lain dan memalingkan wajah darimu. Dan jangan pula mengeluh bila engkau mendapatkan suamimu lebih suka di luar daripada duduk di dekatmu. Tanyakan kepada dirimu, mana perhatianmu kepadanya? Mana kesibukanmu untuknya? Dan mana pilihan kata-kata manis yang engkau persembahkan kepadanya, serta senyum memikat dan penampilan menawan yang semestinya engkau berikan kepadanya? Sungguh engkau telah berubah di hadapannya, sehingga berubah pula sikapnya kepadamu, lebih dari itu, engkau melemparkan tuduhan terhadapnya karena cemburu butamu.

* Dan ingatlah wahai para isteri! Suamimu tidak mencari perempuan selain dirimu. Dia mencintaimu, bekerja untukmu, hidup senantiasa bersamamu, bukan dengan yang lainnya. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta?ala, ikutilah petunjuk-Nya dan percayalah sepenuhnya kepada suamimu setelah percaya kepada Allah yang senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya, lalu tunaikanlah yang menjadi kewajibanmu. Jauhilah perasaan was-was, karena setan selalu berusaha untuk merusak dan mengotori hatimu.

TIDAK BOLEHKAH CEMBURU?

Barangkali, di antara para isteri ada yang membantah dan berkata, adalah kebodohan apabila seorang isteri tidak memiliki rasa cemburu pada suaminya, padahal cemburu ini merupakan ungkapan cintanya kepada suaminya, sekaligus sebagai bumbu penyedap yang bisa menimbulkan keharmonisan, kemesraan dan kepuasan batin dalam kehidupan rumah tangga.

Ya benar! Akan tetapi, apakah pantas seorang isteri yang berakal sehat, jika ia tenggelam dalam rasa cemburunya, sehingga menenggelamkan bahtera kehidupan rumah tangganya, mencabik-cabik jalinan cinta dan kasih sayang dalam keluarganya, bahkan ia sampai terjangkiti penyakit psikis yang kronis, perang batin yang tidak berkesudahan, dan akhirnya merusak akal sehatnya?

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu‘Dayyuuts’. Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir r.a, serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi Saw bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.

Memang sangat tipis, perbedaan antara yang benar dengan yang salah, antara yang sakit dengan yang sehat, antara cemburu yang penuh dengan kemesraan dengan cemburu yang membakar dan menyakitkan hati dikarenakan penyakit kejiwaan yang berat. Namun, tetap ada perbedaan antara cemburu dalam rangka membela kehormatan diri dan kelembutan karena didasari rasa cinta kepada suami, dengan cemburu yang merusak dan membinasakan. Kalau begitu, cemburulah wahai para isteri, dengan kecemburuan yang membahagiakan suamimu, dan menampakkan ketulusan cintamu kepadanya! Tetapi hindarilah kecemburuan yang merusak dan menghancurkan keluargamu. Cemburulah demi memelihara harga diri dan kehormatan suami. Dan lebih utama lagi, cemburu untuk membela agama Allah.

Isteri yang selalu memantau kegiatan suaminya, mencari-cari berita tentangnya, serta selalu menaruh curiga pada setiap aktivitas suaminya, bahkan cemburu kepada teman dan sahabatnya, maka inilah isteri yang bodoh. Dengan sifatnya tersebut, maka kehidupan rumah tangganya, rasa cinta, kepercayaan di antara keduanya akan terputus dan hancur. Dan bagi wanita yang rasa cemburunya tersulut karena suatu sebab, kemudian ia merasa hal itu tidak pada tempatnya, hendaklah ia menyadari kesalahannya, lalu melakukan perbaikan atas sikapnya tersebut. Dan yang paling penting adalah, tidak mengulangi lagi kesalahan serupa di kemudian hari.

Abah + alsofwah.or.id

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s