Catatan Abi Heri: Ketika Teman Kita Sakit.


Ada banyak hadits yang menyebutkan keutamaan menjenguk orang sakit, antara lain: Tsauban-budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah SAW meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia berada di taman buah Surga sampai ia kembali” (HR. Muslim, no. 2568).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari kiamat kelak, “Hai Bani Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku”, ia lantas bertanya, “Ya Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb alam semesta”? Allah pun berfirman, “Bukanlah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tapi engkau tidak menjenguknya?! Bukankah engkau tahu bahwa seandainya engkau menjenguknya, maka engkau akan menemukan-Ku di sisinya?!….”(HR. Musim, no. 2569).

Begitu banyak hadits yang menyebutkan tentang keutamaan menjenguk orang yang sakit. Setelah disebutkan Hadits-hadits yang menerangkan keutamaan menjenguk orang sakit dan pahala yang akan didapatkan oleh si penjenguk sekembalinya dari rumah si sakit, maka tidak selayaknya jika hal itu diabaikan begitu saja. Justru harus diupayakan sesegera mungkin dan dilakukan secara terus menerus, supaya memperoleh rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Cara menjenguk yang dicontohkan Rasulullah saw. adalah sebagai berikut,

1. Berwudhu sebelum berangkat. Rasulullah saw. besabda, “Barangsiapa berwudhu dengan sebaik-baiknya kemudian menjenguk sesama muslim (yang sedang sakit) karena mengharap ridha Allah, pasti ia akan dijauhkan dari neraka jahannam sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Abu Daud)

2. Memberikan optimisme (keyakinan akan kesembuhan).Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu menjenguk yang sakit, lapangkanlah hatinya. Karena yang demikian itu akan menyenangkannya.” (HR. Tirmidzi). Ummu Salamah ra. Berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda kepada saya, “Apabila kalian menjenguk orang yang sakit atau wafat, ucapkanlah yang baik-baik, sebab malaikat mengaminkan apa-apa yang diucapkan olehmu.” (HR. Tirmidzi).

3. Mendo’akan dengan tulus (bukan basa-basi). Rasulullah saw. mencontohkan do’a berikut, “Ya Allah Tuhan sekalian manusia, semoga Engkau menghilangkan penyakit ini, hanya Engkaulah yang Maha Penyembuh, tidak ada yang maha Penyembuh kecuali Engkau, dengan kesembuhan yang sempurna.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

4. Mengirim makanan favorit selama tidak memperparah penyakitnya. Kata Salman Al-Farisi ra. Rasulullah saw. bersanda: “Barangsiapa memberi makanan pada yang sakit sesuai dengan keinginannya, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga.” (HR. Athabrani).

5. Boleh memakan hidangan atau mencicipi jamuan yang disediakan keluarga yang sakit selama tidak merepotkannya.Sebenarnya ada ulama yang memakruhkan bahkan mengharamkannya dengan merujuk pada hadits berikut, Kata Abu Umamah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kamu menjenguk orang sakit, janganlah kamu mencicipi makanannya walaupun sedikit, karena hanya itulah yang menjadi pahala dari menjenguknya.” (HR. Ad-Dailami)

Namun sayang hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil/alasan)karena pada sanadnya ada seorang rawi bernama Musa bin Wirdan Al-Qarasyi Al-Amri yang dinilai imam Ad-Dzahabi dan Yahya bin Ma’in sebagai dhaiful hadists (hadist dhaif/tidak bisa dijadikan dalil). (Lihat Faidul Qadir, vol I, hal. 402 dan Tahdzibul Kamal, vol. 29, hal. 165) Jadi, karena haditsnya tidak bisa dijadikan dalil, mencicipi makanan yang disediakan keluarga orang sakit hukumnya mubah (boleh) dan tidak akan mengurangi pahala.

6. Ikhwan (laki-laki) tidak dilarang menjenguk akhwat (perempuan) atau sebaliknya, walaupun bukan muhrim.Perhatikan hadits berikut, “Dari Ummu ‘Ala, ia berkata: Rasulullah saw. pernah menjengukku ketilka aku sakit.” (HR. Abu Daud) “Dari Aisyah ra. , ia berkata: ‘Ketika Rasulullah saw. datang ke Madinah, saat itu Abu Bakar dan Bilal sakit panas. Kata Aisyah, saya menjenguk Abu Bakar (ayahandanya) seraya menyapa: Apa yang ayah derita? Demikian pula kepada Bilal: Apa yang Engkau rasakan?” (HR. Bukhari)

Hadits pertama menegaskan bahwa Rasulullah saw. menjenguk Ummul ‘Ala padahal beliau bukan muhrimnya, sementara hadits kedua menegaskan bahwa ‘Aisyah menjenguk Bilal, juga bukan muhrimnya. Jadi laki-laki boleh menjenguk wanita yang bukan muhrimnya atau sebaliknya.
Yang perlu diperhatikan adalah kodisi teknis ditempat yang dijenguk. Jika tidak memungkinkan kondisi untuk dijenguk. Kita tidaklah harus ketemu bertatapmuka. Untuk menghindari ‘melihat’ yang tidak diperbolehkan

7. Diperbolehkan menjenguk nonmuslim, karena Rasulullah saw. pernah melakukannya. “Kata Anas ra., sesungguhnya seorang anak Yahudi sakit, lalu Rasulullah saw. menjenguknya. Kemudian beliau duduk di dekat kepalanya, seraya bersabda, “Silahkan masuk Islam!” Kemudian anak itu menoleh ayahnya yang berada di sebelah kepalanya. Ayahnya berkata, “Turutilah ajakan Muhammad.” Lalu, masuk Islamlah anak itu.” (HR. Bukhari dan Abu Daud) Kesimpulannya, menjenguk orang sakit sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. sebaiknya kita berwudhu sebelum pergi, lalu membawa bingkisan, do’akan dan beri optimisme, serta boleh mencicipi suguhan keluarga yang sakit.
Ikhwan boleh menengok akhwat atau sebaliknya, walupun bukan muhrim. Kita juga diperbolehkan menjenguk non-muslim.

Dari :
http://binmustafa.multiply.com/journal/item/163/menjenguk_orang_sakit.
Abi Heri yang sedang sakit

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s