Catatan Abi Heri: Dikala kita butuh pertolongan.


“IYYAAKA NA’BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN”” Kepada Mu Kami menyembah dan Kepada Mu Kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5). Kalimat ini selalu kita baca setiap hari dalam shalat bahkan merupakan bacaan wajib. Karena kalimat ini terdapat dalam surat Al fatihah.Sesungguhnya kalimat tersebut mengandung pengakuan bahwa hanya kepada Allah lah kita menyembah dan memohon pertolongan. Hanya Dia yang pantas menolong kita.

Begitu banyak contoh tauladan yang diberikan bahwa hanya kepada Allah tempat kita meminta pertolongan , tidak kepada yang lain berupa apapun. Seperti yang terceritakan disaat nabi Yunus berada dalam perut ikan.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda: “Do’a yang dibaca oleh Nabi Yunus a.s ketika berada dalam perut ikan adalah, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.’ Tidaklah seorang muslim berdo’a dengannya untuk (meminta) sesuatu apapun, kecuali Allah akan mengabulkan padanya.” (Hadits shahih menurut Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Coba perhatikan hadits dan keterangan dibawah ini. Sesungguhnya memohon pertolongan itu hanya kepada Allah Nabi Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda,

“Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan Kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

Imam Nawawi dan Al-Haitami telah memberikan penjelasan terhadap makna hadits ini, secara ringkas penjelasan tersebut sebagai berikut, “Jika engkau memohon pertolongan atas suatu urusan, baik urusan dunia maupun akhirat maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Apalagi dalam urusan-urusan yang tak seorang pun kuasa atasnya selain Allah. Seperti menyembuhkan penyakit, mencari rizki dan petunjuk. Hal-hal tersebut merupakan perkara yang khusus Allah sendiri yang kuasa.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (A1-An’am: 17)

Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Al-Fathur Rabbani berkata, “Mintalah kepada Allah dan jangan meminta kepada selain-Nya. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan memohon per-tolongan kepada selain Nya. Celakalah kamu, di mana kau letakkan mukamu kelak (ketika menghadap Allah di akhirat), jika kamu menentang Nya di dunia, berpaling daripada Nya, menghadap (meminta dan menyembah) kepada makhlukNya serta menyekutukan Nya. Engkau keluhkan kebutuhan-kebutuhanmu kepada mereka. Engkau bertawakkal (menggantungkan diri) kepada mereka. Singkirkanlah perantara-perantara antara dirimu dengan Allah. Karena ketergantunganmu kepada perantara-perantara itu suatu kepandiran. Tidak ada kerajaan, kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan kecuali milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Jadilah kamu orang yang selalu bersama Allah, jangan bersama makhluk (maksudnya, bersama Allah dengan berdo’a kepada Nya tanpa perantara melalui makhluk Nya).

Memohon pertolongan yang disyari’atkan Allah adalah dengan hanya memintanya kepada Allah agar Ia melepaskanmu dari berbagai kesulitan yang engkau hadapi. Tapi kenyataannya coba perhatikan saja bagaimana sewaktu kita sedang diuji oleh Allah, bukan segera berlari mendekat kepada Allah dengan melakukan taubatan Nasyuha, tetapi malah lari ketuhan – tuhan lain. Ada yang karena terlilit hutang malah lari ke dukun mencari uang ghaib, atau benda-benda pusaka. Yang disangkanya bisa memberi jalan keluar dalam waktu singkat.

Adapun memohon pertolongan yang tergolong syirik adalah dengan memintanya kepada selain Allah. Misalnya kepada para nabi dan wali yang telah meninggal yaitu dengan berziarah di makam mereka untuk meminta pertolongan, atau kepada orang yang masih hidup tetapi mereka tidak hadir. Mereka itu tidak memiliki manfaat atau mudharat, tidak mendengar do’a, dan kalau pun mereka mendengar tentu tak akan mengabulkan permohonan kita. Demikian seperti dikisahkan oleh Al-Qur’an tentang mereka.

Adapun meminta pertolongan kepada orang hidup yang hadir untuk melakukan sesuatu yang mereka mampu, seperti membangun masjid, memenuhi kebutuhan atau lainnya maka hal itu dibolehkan. Berdasarkan firman Allah,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (Al-Ma’idah: 2)

Dan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam ,

“Allah (akan) memberikan pertolongan kepada hamba, selama hamba itu memberikan pertolongan kepada saudaranya.” (HR. Muslim)

Di antara contoh meminta pertolongan kepada orang hidup yang dibolehkan adalah seperti dalam firman Allah,”… maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang dari musuhnya …”. (Al-Qashash: 15)

Juga firman Allah yang berkaitan dengan Dzul Qarnain, “… maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat) …”. (Al-Kahfi: 95)

Memang harus diakui bahwa meminta kepada Allah itu memerlukan kesabaran. Karena Dia lebih tahu apa dan kapan kita perlu dibantu. Jadi tidak bisa instant sifatnya. Akibatnya mereka yang tidak tahan pasti lari. Sehingga melupakan kalimat IYYAAKA NA’BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN

Demikianlah hakikat kita mencari pertolongan. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s