Catatan Putra Si Bungsu: EMAS YANG BERHARGA


“Katakanlah. “ Adakah sama orang buta dan orang yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?!” (QS. Ar-Ra’d : 16)

Berapa waktu yang lalu, di mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Dzun-Nun. Suatu ketika seorang pemuda mendatangi dan bertanya, “ Guru, saya belum paham mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya dan amat sangat sederhana. Bukankah dizaman ini berpakaian necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan tapi juga untuk tujuan banyak hal lainnya ?

Sang sufi hanya tersenyum, lalu ia melespa sebuah cincin dari slah satu jarinya dan berkata, “sobat muda, tentu akan ku jawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah kepasar di seberang sana. Coba, bisakah kamu menjulnya seharga satu keping emas ?’

Melihat cincin Dzun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “satu keping emas ??” saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

“Coba dulu dobat muda, siapa tahu kamu berhasil, “ kata Dzun-Nun.

Pemuda itu pun bergegas kepasar. Ia menawarkan cincin itu kepada penjual kain, pedagang sayuran, penjual daging dan ikan, juga kepada yang lainnya. Ternyata tak seorang pun berani memberinya seharga satu keping emas, mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjuanya dengan harga satu keping perak. Ia kembali kepadepokan Dzun-Nun lalu melapor, “ Guru, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Dzun-Nun, sambil tersenyum arif berkata, “ sekarang pergilah kamu ketoko emas di belakang jalan ini, coba perhatikan kepada pemilik toko dan tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja, bagai mana ia memberikan penilaian !”

Pemuda itu pun pergi ketoko emas yang dimaksud. Ia kembali ke Dzun-Nun dengan raut wajah yang amat berbeda dengan sebelumnya. Kmudia ia melapor untuk yang kedua kalinya. “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak mengetahui nilai sesungguhnya dari cincin ini, dan pedagang emas berani menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya, harga cincin ini seribu kali lebih tinggi dari pada yang ditawarkan oleh para pedagang di pasar.”

Dzun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih kepadanya, “ Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya, hanya para pedagang sayur, ikan dan daging dipasar yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas. Emas dan permata yang ada dalam diri seeorang hanya bisa dilihat dan di nilai jika kita mampu melihat sampai kedalam jiwanya. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses wahai sobat muda. Kita tidak bisa menilainya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Sering kali yang di sangka emas ternyata loyang, dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s