Catatan Abriansyah M. Noor: Prasangka


“Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Sebagai manusia kita pasti suka berprasangka. Entah itu prasangka baik maupun buruk. Namun sangat dianjurkan agar kita selalu berprasangka baik, agar tercipta persahabatan dan perdamaian”.

Cuplikan cerita berikut ini adalah akibat dari berprasangka buruk mengakibatkan suatu penyesalan.

Di suatu masa tinggalah seorang janda miskin bersama seorang putrinya yang berusia 9 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ibu membuat kue dan menjualnya di pasar. Sementara sang anak, Putri, tidak pernah bermanja – manja kepada ibunya karena hidup yang kekurangan itu.

Suatu hari pada musim dingin, saat sang Ibu selesai membuat kue, beliau baru tersadar ternyata keranjang yang biasa digunakannya untuk menjajakan kuenya rusak berat. Lalu pergi Ibu itu keluar rumah untuk membeli keranjang.

Sebelumnya, Ibu meminta Putri untuk tetap tinggal di rumah
karena cuaca dingin.
Sepulangnya dari membeli keranjang, Ibu kaget karena pintu rumahnya terbuka tanpa ada Putri di dalamnya.

Amarah Ibu spontan memuncak.
Pikir si ibu Putri tengah bermain bersama teman – temannya.
Setelah selesai menyusun kue di keranjang untuk dijual ke pasar,
Sang Ibu lalu pergi…

Dinginnya salju tidak menyurutkan tekadnya.
Namun kali ini Ibu mengunci pintu rumahnya.
Itu dilakukannya sebagai hukuman
kepada Putri yang tidak mematuhi pesannya.
Ibu berharap Putri akan jera setelah di hukum.

Sepulang dari pasar, mata Ibu jadi nanar
saat menemukan anaknya tergeletak kaku di depan pintu.

Putri mati kedinginan!.

Sambil menjerit histeris dan dengan susah payah,
dipindahkannya Putri kedalam rumah
sambil berusaha membangunkannya.
Diguncang – guncangkannya Putri!.
Putri tetap diam tak bergerak sama sekali.

Tiba – tiba dari tangan Putri terjatuh sebuah bungkusan kecil berisi Biskuit dan secarik kertas yang sudah rusak. Dengan tergesa – gesa Ibu memungut biskuit dan tulisan Putri yang berantakan namun masih terbaca jelas.

“ Ibuku tersayang…Ibu pasti lupa dengan hari istimewa ibu yah…Ini, Putri membelikan biskuit kesukaan Ibu…Tapi sayang, karena uangnya tidak cukup, jadi Putri belikan biskuitnya yang kecil saja…Putri juga minta maaf ya Bu karena Putri melanggar pesan Ibu untuk tetap di rumah..Selamat Ulang Tahun, Bu…Putri selalu sayang Ibu…”

Selesai membaca tulisan itu, meledaklah tangisan sang Ibu….

“Prasangka sering mendatangkan petaka. Kalimat ini nampaknya cocok untuk menggambarkan kisah di atas tadi. Penyesalan, biasanya datang menyusul di belakang. Begitu banyak masalah di dunia muncul karena prasangka negatif. Maka dibutuhkan kedewasaan dalam mengendalikan pikiran, agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani begitu saja. Hilangkan saja prasangka buruk dan ganti dengan berpikir positif dan hati – hati. Dengan demikian maka dimungkinkan hubungan yang harmonis dan membahagiakan antara kita dan orang lain”.

(Disadur dari karya ANDRIE WONGSO)

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya dihadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari syurga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya.” (HSR. Tirmidzi dan ibnu Majah).

Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemah lembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya, bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Yang demikian ini telah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadist:

“Tidaklah kelembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek”.(HR. Muslim)

Allah mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala usrusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan.”(HR. Muslim).

Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki Rasulullah dan dicintai Allah ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, karena yang demikian akan menghinakan derajat pelakunya dan membuat keonaran dikalangan manusia serta menimbun dosa disisi Allah ta’ala. Ingatlah selalu sabda Rasulullah :

“Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan”.(HR Muslim)

Kelemah lembutan adalah akhlak mulia.
Ia berada diantara dua akhlak rendah dan jelek,
yaitu kemarahan dan kebodohan.

Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dengan kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhai Allah ta’ala dan Rasul-Nya.

Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia.

Namun jika dihadapi dengan ilmu dan kelemah lembutan, ia akan mulia disi Allah ta’ala dan makhluk-makhluk-Nya.

Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, Insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Demikian agungnya akhlak ini sehingga Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabda beliau, yang artinya :

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)”. (HR Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, berkata ;

“Wahai saudara-saudara sekalian, (pada) kesempatan baik ini saya akan menyampaikan pembicaraan tentang berakhlak baik.
Dan akhlak, sebagaimana dikatakan ulama adalah gambaran batin manusia,
karena (pada dasarnya) manusia mempunyai dua bentuk,
bentuk luar (yaitu fisik) yang Allah ciptakan badan padanya.

Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bentuk luar ini
ada yang diciptakan dalam bentuk yang indah,
dan ada yang diciptakan dalam bentuk yang buruk,
dan ada yang diciptakan dalam bentuk diantara keduanya.

Dan bentuk batin (demikian juga) ada yang baik dan ada yang buruk, serta ada yang diantara keduanya, dan bentuk batin inilah yang dikatakan sebagai akhlak.

Jika demikian halnya, maka yang dinamakan akhlak adalah :

“Gambaran batin, dimana manusia berwatak seperti gambaran batin itu”.
Dan sebagaimana akhlak itu merupakan suatu tabiat (pemberian Allah),
sesungguhnya akhlak baik juga dapat diperoleh ..
dengan berusaha untuk berakhlak baik, artinya ;

bahwa (ada) manusia yang diciptakan Allah
dalam keadaan berperangai baik,
dan terkadang ada yang memperoleh akhlak baik itu
dengan cara berusaha dan memaksa
(serta mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik)

– oleh karena Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda kepada
(sahabat yang bernama) Al Asaj bin Qais : Artinya :

“Sesunggunhya dalam dirimu terdapat dua perangai yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tenang, (lalu) Al Asaj bin Qais berkata : Wahai Rasulullah, apakah dua perangai itu aku yang membikin (mengusahakan untuk berakhlak sabar dan tenang) ataukah Allah telah ciptakan keduanya untukku? Beliau bersabda : “Allah menciptakanmu dalam keadaan berakhlak sabar dan tenang ”.

Maka ini adalah dalil bahwa akhlak mulia itu terjadi melalui tabiat (pembawaan asli), dan bisa juga terjadi dari usaha untuk berakhlak mulia. Akan tetapi, akhlak mulia yang lahir dari tabiat, tentu lebih baik dari akhlak mulia yang terjadi dari hasil usaha untuk berakhlak mulia.

Karena jika akhlak itu terlahir dari tabiat, ia akan menjadi karakter dan pembawaan bagi manusia yang tidak membutuhkan usaha membiasakan dan melatihnya.

Akan tetapi, ini adalah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang tidak diciptakan dalam keadaan berakhlak baik, sesungguhnya ia dapat memperolehnya dari jalan berusaha untuk berakhlak baik itu, dengan cara membiasakan dan memaksa (serta mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik) sebagaimana kami akan menyebutkannya Insya Allah.

Dan banyak manusia berprasangka bahwa berakhlak baik hanyalah dilakukan dalam bermuamalah dengan makhluk, tanpa bermuamalah dengan Allah. Akan tetapi ini adalah pemahaman yang sempit (dalam memahami makna berakhlak baik), karena sesungguhnya berakhlak baik itu sebagaimana dilakukan dalam bermuamalah dengan mahluk, juga dilakukan dalam bermuamalah dengan Al Khaliq (Sang Pencipta). Maka pembahasan tentang berakhlak baik adalah bermuamalah dengan Allah dan bermuamalah dengan mahluk.

Wallahu’alam bishawab.

Hyperlink ke Facebook

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s