Catatan Abriansyah M. Noor: Cinta dan Waktu


Sebagai manusia, makhluk paling mulia,
kita patut bersyukur dianugerahi rasa cinta. Dengan cinta manusia bisa memancarkan gairahnya dalam segala hal. Cinta adalah fitrah, suci. Hanya saja kita terkadang yang menodainya dengan perilaku kita yang negatif. Allah fitrahkan cinta menjadi bagian integral pada penciptaan manusia, dia adalah rasa yang memancar dari mata air naluri-nalurinya.

Dengan adanya cinta ini, manusia bisa membangun dan memiliki kecenderungan dan cinta kepada lawan jenisnya, cinta kepada orangtua, saudara, kerabat handai taulannya, dan yang lainnya. Juga bisa menampilkan cinta kepada harta, kekuasaan, pangkat, jabatan, sanjungan, kehormatan dan sejenisnya.

Allah Azza Wa Jalla, menciptakan manusia dengan begitu sempurna baik jasmani maupun rohani. Dia juga memberikan potensi-potensi manusia mulai dari kekuatan dan kebutuhan fisiknya, beserta naluri yang bisa memancarkan cinta dan akal yang akan jadi tongkat penyangga dia memaknai hidup itu semua.

Cinta manusia bisa pada yang bersifat fisik (materi) maupun non-fisik (abstrak). Tapi walau pun begitu, kadarnya tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya baik secara kualitas maupun kuantitas. Persepsi masing-masing orang pun boleh jadi tak ada yang sama dalam memandang cinta. Tapi, satu hal yang dapat kita pastikan bahwa cinta itu universal.

Sebagai makhluk yang berakal, manusia tentu harus hidup seimbang. Dalam hal ini, seorang manusia harus dapat menata cinta dalam skala prioritas yang proporsional. Dengan kata lain, bahwa cinta harus diekspresikan dengan kadarnya masing-masing terhadap sesuatu. Seseorang mencintai barang-barang berharganya, misalnya, tentu janganlah disamakan dengan mencintai terhadap keluarganya.

“Intisari dari segala sesuatu adalah cinta”. Para pemikir, penyair, dan ahli spiritual, mengatakan cinta atas kebaikan adalah dasar dari semua kebajikan dan kebenaran. Filosofi cinta seperti itu menjadi pijakan dasar atas cinta yaitu hanya mencintai tanpa berharap dicintai kembali. Apa yang kita pandang baik dan kita melakukan dengan penuh cinta, niscaya akan mendatangkan kebajikan dan kebenaran.

Seringkali orang menggambarkan cinta dengan gambar hati. Tentu itu dapat kita pahami bahwa hati adalah pusat segala perasaan untuk menerima dan mempersembahkan. Dalam setiap sendi kehidupan, hati kita yang menentukan apa yang harus kita persembahkan dan apa yang harus kita terima dalam kehidupan ini. Gambaran seperti itu sungguh mirip dengan pengertian cinta. Maka dapat kita katakan bahwa cinta sama dengan hati. Sumber cinta adalah memang dari hati.

Sadarkah, bahwa kita sebenarnya dibesarkan oleh orangtua kita atas dasar cinta? Semenjak dalam kandungan ibu kita sudah mencintai kita. Semenjak dilahirkan kita dibesarkan dengan cinta pula. Ayah kita pun rela bekerja keras demi kita, karena cinta. Cinta mampu membuat orangtua kita mengacuhkan dirinya demi yang dicintainya, yaitu kita.

Sungguh cinta yang sangat luar biasa. Begitu juga dengan orang-orang yang bekerja dan belajar atas dasar cinta. Mereka berhasil menghasilkan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi umat manusia. Dan lagi-lagi mereka rela menghabiskan waktu untuk terus bekerja dan belajar demi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Cinta ini mampu membuat manusia bergetar hebat, yang dapat berbuat apa saja demi orang yang dicintainya. Cinta membuat seseorang berani menempuh risiko yang tak dapat dibayangkan. Sungguh, cinta merupakan sebuah pengalaman yang begitu berharga dalam hidup manusia. Manusia diberi potensi untuk mencintai dan dicintai. Dan Tuhan memang menciptakan pria dan wanita untuk saling melindungi dan menyayangi.

Kedua jenis makhluk (pria dan wanita) itu, mempunyai tugas yang sama, yaitu melestarikan kehidupan meskipun ada perbedaan peran dalam keduanya. Peran inilah yang bisa menjadikan keduanya menjalani fungsinya sebagai mahluk sosial. Dan rasa cinta ini pula yang akan membantu laki-laki dan perempuan untuk melestarikan keturunan agar kehidupan harus terus berlanjut. Dan itu dibingkai dalam sebuah kontrak sosial bernama pernikahan.

Cinta adalah naluri manusia. Karena cinta sebagai salah satu naluri, maka ia berasal dari dalam kalbu. Manusia memiliki hati yang dalam bahasa arabnya kalbu, yang artinya “bolak-balik”. Oleh karena itu, ia sering berubah-ubah, kadang ke kiri dan kadang pula ke kanan. Begitu juga dengan cinta, maka ia akan mengalami pasang surut. Cinta mengisi suatu waktu, sedangkan waktu itu terus berlalu.

Karenanya, cinta pun dapat berlalu. Quraish Shihab menyinggung perihal cinta, “Sebelum bercinta, seseorang merasa dirinya adalah salah satu yang “ada”. Tetapi, ketika bercinta, ia dapat merasa memiliki segala yang “ada”. Dan ketika cintanya putus, ia merasa “tidak ada” dan hampa. Demikianlah cinta mempermainkan manusia.”

Cinta itu letaknya di hati, meskipun tersembunyi, namun getarannya jelas sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan kita sehingga kadangkala kita melakukan hal terbodoh tanpa kita sadari.

Menurut pakar Neurosains, Taufik Pasiak, bahwa ketika seseorang jatuh cinta semua zat kimia dalam tubuh, terutama dopamin dan oksitoskin dalam otak, mengalami fluktuasi dalam darah. Ini yang menjelaskan mengapa ketika seseorang jatuh cinta ia dapat melakukan apa saja yang dalam situasi normal tidak mungkin dilakukan. Dada bergemuruh, denyut nadi bertambah, napas memburu, dan gairah meningkat ketika cinta membara datang mendera seseorang. Dalam keadaan jatuh cinta, kita menjadi sangat obsesif terhadap pasangan. Akibatnya, sulit tidur, pikiran terfokus pada pasangan.

Ada satu hal yang mesti diingat bahwa cinta akan diuji oleh waktu. Semua orang mendambakan cinta yang terjalin akan indah dan berseri sepanjang masa. Namun kehangatan api cinta bisa padam, keindahan pesona cinta bisa memudar dan hilang. Diperlukan pemahaman dan usaha untuk menyalakan api cinta dan mempertahankan keindahan cinta.

Setelah cinta itu terjalin hanya satu kata yang diperlukan untuk melanggengkannya, yaitu saling setia. Kata itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Karena ini berkaitan dengan waktu.

Seiring berjalannya waktu maka godaan demi godaaan akan menguji kesetiaan. Tapi dalam keadaan apapun kesetiaan harus tetap dijaga, sebab tidak mungkin mempertahankan cinta tanpa kesetiaan.

Manusiawi sekali kalau sewaktu-waktu kamu mengagumi dan menyukai orang lain yang sangat menarik, namun kesetiaan akan mencegah mengkhianati orang yang kita cintai dengan cara apapun. Kesetiaan juga akan diuji oleh situasi dan kondisi yang buruk. Kesetiaan akan memilih untuk tetap mencintainya ketika dia sakit, ketika dia tidak berdaya, atau ketika dia tidak menarik lagi secara fisik.

Terlebih-lebih lagi setelah dua insan yang saling mencintai itu sudah menikah. Mereka sudah diikat dengan janji setia dengan disaksikan banyak orang. Jadi, setelah ijab-kabul diikrarkan, dua insan yang sudah terikat janji suci perkawinan itu akan membentangkan layar pertanda biduk rumah tangga mulai mengarungi lautan kehidupan. Setelah itu, cinta akan terlihat secara jujur, karena tidak ada tabir pembatas lagi bagi sepasang suami-istri dalam berinteraksi.

Dalam perkawinanlah cinta akan diuji seiring dengan berbagai ujian kehidupan rumah tangga, seiring pengetahuan akan kelebihan dan kekurangan pasangan, yang mungkin jauh dari harapan awal sebelum menikah. Maka dapatlah kita katakan bahwa orang yang setia sesungguhnya adalah orang yang begitu berkarakter.

Kesetiaan itu melepaskan diri dari sifaf egoisme dan melebur pada komitmennya masing-masing. Kesetiaan itu juga membuat kita berani melakukan hal-hal yang besar, yang kadang oleh diri kita sendiri merasa tidak mampu. Maka, tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa buah dari kesetiaan adalah kesuksesan, dapat memperkaya diri, dan yang pasti akan mendatangkan rahmat. Mencapai kesuksesan dengan memegang kesetiaan memang tidak mudah. Hal itu membutuhkan pengorbanan entah itu harta maupun waktu dan tenaga yang harus kita bayar untuk mempraktikkannya. Ia harus dibayar mahal.

Karena kita tahu bahwa menerima hal-hal yang kurang baik itu gampang tapi untuk menerima dan menjalankan hal-hal yang baik itu sulit. Hal itu senada dengan kalimat, “Jika kesetiaan dan ketulusan berjalan beriringan maka kesuksesan akan menanti di ujung jalan. Berbahagialah orang yang mendapatkan orang yang setia!.”

Selain setia pada pasangan kita, ada satu kata kunci lagi, yaitu pengorbanan. Seorang Ayah mesti berkorban untuk atau demi sesuatu yang dia cintai, istri dan anaknya. Dia akan rela bekerja tak kenal lelah mencari nafkah demi istri dan anaknya. Dia keluar memeras keringat, banting tulang. Itulah pengrobanan

Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita… semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah….

Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. “Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, ” kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa’z, 31)

Saudaraku, sahabatku,

Semoga Allah Azza Wa Jalla memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.

Sahabat,

Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali…. Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorogng pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.

Mari kita menangguk pahala, meraih Rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih…..Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita…. Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan…
Aamiiin Yaa Rabbal Alamiin

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s