ZIARAH ke MAKAM SUNAN …………………….


Melihat antusias orang untuk ziarah ke makam SUNAN sangat membanggakan, artinya kesadaran orang untuk mengenang peran wali songo sebagai penyebar agama di tanah JAWA ini, menarik untuk di tapaktilasi oleh banyak orang.

Puluhan bus luar kota yang memasuki daerah wisata religi Sunan Ampel, menyebabkan jalan Nyamplungan, KH Mansyur dan Pegirian macet setiap harinya, banyak yang diuntungkan dengan adanya wisata religi seperti ini, daerah sekitar AMPEL yang dahulu masih enak untuk bermain anak anak, kini sudah banyak berganti menjadi pasar permanen, apakah ini sudah menjadi tuntutan zaman untuk mengais rejeki ditengah hiruk pikuknya para peziarah ?. yooo wong AMPEL sing bisa JAWAB !
Sungguh luar biasa, uang yang di belanjakan untuk mendapatkan sopenir wisata ampel mulai dari beli minyak wangi, tasbih, sarung sampai makan khas arab ada disana, ini akan menjadi hal menarik peziarah untuk diceritakan di tempat asalnya, akibatnya setiap tahun makin banyak saja peziarah yang berdatangan disana.

suasana kampung gubah

suasana kampung gubah

Malam jumat kali ini sengaja, saya menelusuri kampung ampel suci yang dahulu saya sebut dengan kampung GUBAH, karena didepan kampungnya ada gubah (pintu masuk) menuju masjid ampel, tak ada yang kenal lagi, alhamdulillah kataku, sehingga bisa leluasa menelusuri kampung yang dahulu menjadi paporit saat romadhon karena disana banyak dijual mercon (petasan), sekarang sudah ga ada lagi karena memang sudah dilarang membakar mercon disana.

Pak sampean darimana?, saya dari tasikmalaya, tujuan kamari apa sih, pak?, pertama, saya berdo’a dan juga latihan sebelum ke mekkah?, ohhh begitu yaa pak ?. ada lagi saat ditanya, katanya “NGALAB BERKAH”, waduh macam macam permintaan pada Kanjeng SUNAN, padahal telah ditulisi dilarang minta selain pada GUSTI ALLAH, banyak yang ambil air yang sebenarnya berasal dari sumur di areal dekat makam, bukan berasal dari sumur di dalam masjid AMPEL yang terkenal dengan “BANYU AMPEL”, apakah mereka ada yang ambil pasir makam SUNAN ? saya tak bisa katakan ya atau tidak, takmir masjid sering menambah pasir walaupun itu tak rutin.
Ini lebih memprihatikan lagi, mereka datang sudah dalam keadaan kepayahan, letih, tak memiliki gairah jalan apalagi berdiri, nah saat ada panggilan adzan mereka tak bergegas ke masjid melainkan mereka enak enakan membeli sopenir untuk keperluan oleh oleh. Kalau ditanya mereka katakan, sudah saya jamak, sudah saya rangkap saya sedang dapet, mosok yang laki juga dapet ?.
Tradisi nyadran bercampur dengan ziarah, kadang mengaburkan makna ziarah yang telah digariskan oleh agama islam. Mereka tak dapat membedakan mana yang sunnah mana yang wajib, sehingga ziarah yang bisa dikatagorikan sunnah mengalahkan sholat yang katagorinya WAJIB.
Catatan ini tidak bermaksud untuk menghalangi orang untuk berziarah, namun perlu kita kembali ke esensi awal Ziarah itu sendiri, sehingga puncak ritual ziarah bukan untuk mengalahkan atau meremehkan paling tidak kewajiban sholat.

Sebenarnya, kalau kita mau napak tilas sunan AMPEL ada 2 yang perlu dan bisa kita cermati sebagai suatu keanehan, namun hingga kini belum ada yang membedah/menceritakan tentang itu.

Pertama : adalah AIR AMPEL (banyu AMPEL) – sejak saya atau bapak saya kecil perkataan air AMPEL ini sudah tak asing lagi dipakai untuk ritual sumpah, apabila orang melakukan kesalahan “besar” mereka akan disumpah dengan minum banyu AMPEL, banyak yang ketakutan apabila disumpah dengan minum banyu AMPEL, kenapa demikian?, apakah bertuah atau bagaimana!, sampai kini saya tak pernah mendapatkan atau mendapati bagaimana bagaimananya setelah minum banyu AMPEL tersebut.
Yang menjadi pertanyaan, dimanakah banyu AMPEL tersebut ? jawabnya : banyu AMPEL (sumur AMPEL) berada di bawah kaki menara masjid dicelah antara menara dengan dinding (pintu) keluar sebelah selatan, sekarang sudah tertutup atau masih terbuat dari kayu seperti dahulu?, juga ada di masjid bagian tengah (dulu masjid AMPEL dibagi menjadi 3 bagian, bagian pertama masjid marmer (selatan), kemudian ditengah ada masjid dgn ubin bukan marmer disini ada sumur yg ditutup dengan kayu (skr tak tahu tertutup apa ngga?), yang ke 3 masjid bagian utara.

Kedua : pilar pilar (SOKO) kayu yang berada di masjid bagian selatan, kalau kita perhatikan, kayu yang tingginya kira kira 25-40 meter tersebut adalah kayu utuh dengan diameter kira kira 40cm-60cm, menurut pedagang kayu asli kalimantan, bagaimana gedenya pohon yang kayunya dipakai untuk pilar masjid ini, karena biasanya pohon itu paling 10 meter sudah bercabang, kesimpulannya pohon apa yang panjang dan tak bercabang ? itu pertanyaan sampai sekarang tak pernah ada yang jawab dan tak pernah dipermasalahkan atau diceritakan oleh takmir masjid AMPEL. Yang diceritakan hanya asul usul sunan AMPEL nama isterinya hubungannya dengan MASJID RAHMAD dll.

Yang tercecer dan perlu dicermati ada sebuah keyakinan pada makam dengan nama “MBAH SHOLEH” makam ini dulu, waktu saya kecil disebut dengan makam “WALI SONGO”, namun bukan termasuk wali songo penyebar agama islam di tanah jawa, tetapi lebih dipercaya orang yang meninggal hidup meninggal hidup hingga 9 kali, mungkin sampai detik ini masih dipercaya legenda seperti itu, menurut crita dari, mbah ke mbah anak dan cucu orang yang lahir di daerah AMPEL, mbah sholeh ini termasuk orang ALIM, menjadi rujukan saat saat penting, apakah mbah ini hidup dijaman SUNAN AMPEL wallahu a’lam, namun lebih diceritakan saat saat memecahkan sesuatu yang tak menemukan jalan atau solusi kata orang sekarang, maka pemimpin rapat selalu mengatakan; andaikan ada sholeh, rapat ini akan menemukan jalan keluar/solusinya, maka saat itu sholehpun muncul untuk memberikan solusi; setelah maksud terpenuhi, sholehpun kembali meninggal dan dimakamkan disebelah makamnya. Apakah ini logis ?, namun itulah kenyataannya hingga kini kepercayaan mbah sholeh sebagai wali yang pernah meninggal hingga 9 kali, sehingga nisannya ada 9 sebagai tanda dirinya pernah meninggal hingga 9 kali.

Mari kita kembalikan esensi ziarah tanpa mengabaikan kewajiban yang sebenarnya wajib, apakah kita ga pengen sholat di masjid AMPEL yang satu shafnya berjumlah 312 orang?, apakah kita ga ingin do’a kita diamini orang sebanyak di masjid AMPEL, aura di dalam masjid AMPEL sangat menyentuh orang untuk kembali lagi kesana, pantas banyak kiyai besar dari berbagai daerah selalu I’tikaf di masjid SUNAN TERTUA itu. Mensikapi penomena wisata religi ziarah ke makam sunan, maka perlu adanya bimbingan wisata ziarah, agar esensi ziarah tercapai sedang kewajiban beribadah juga terpenuhi.
Semoga catatan bermanfaat……………………..

Mari nyeruput Banyu Kendi, sueger dan alami
Pakde azemi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s