Anakku: “IBUMU Menemukan SURGA disini” ………………


Inget ga dengan lagu ini saat kita TK : kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.
Kisah ini untuk mengingatkan kepahitan seorang ibu saat usia senja, merasakan kesepihan, tanpa sanak saudara yang mendekat padanya.

Sebut saja namanya BUNDA WATI, isteri seorang GUBES di sebuah Unipersitas terkenal di Surabaya, seorang ahli Jantung (SpJP=Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah) yang kesohor, dengan pasien yang begitu banyak, padahal sebagai dokter spesialis Jantung taripnya tak murah, sehingga keluarga pak dokter yang GUBES ini hidup dalam kepamanan yang sempurna, segala kebutuhan terpenuhi, rumah elite di surabaya timur dengan harga diatas rata rata kaum Jetset, pembantu rumah tangganya sampai 5 orang, belum tukang kebun dan sopir pribadi masing masing penghuni, bunda wati punya sopir pribadi sendiri untuk arisan dan urusan dharma wanita, sedang sang GUBES juga punya sopir pribadi untuk keperluan mobile yang begitu padat jadwal yang dimiliki Sang dokter yang GUBES itu.

Kemapanan hidup yang begitu sempurna menyebabkan ke 3 anaknya harus disekolahkan di luar negeri, agar mereka kelak dapat meneruskan cita cita bapaknya, demikian kata bunda wati, mengawali pembicaraan.
Kemapanan sang GUBES rupanya diikuti oleh anak anak mereka dengan berhasil menyandang sarjana, S1, S2, hingga mereka dapat menamatkan S3 dinegeri orang, betapa bangganya hati sang GUBES melihat anak anak mereka semua memiliki title yang bertumpuk tumpuk dengan predikat yang sangat memuaskan, rupanya anak anak sang GUBES, tak ingin cepat cepat pulang setelah selesai kuliahnya, mereka melihat kesempatan yang ada di negeri orang dengan salary yang lumayan gede, apalagi di Indonesia mereka belum tentu mendapat job yang bagus, itu alasan mereka pengen sementara tetep di negeri orang.

Bertambahnya usia sang Dokter harus menerima kenyataan, bahwa mobilitas, kecepatan memberikan solusi sudah mulai berkurang, juga munculnya dokter spesialis jantung dari generasi muda yang lebih responsip, familier dengan pasien, yang penting lagi GAUL bila diajak memecahkan masalah kesehatan. Hal ini menyebabkan sang GUBES menjadi Frustasi, pasien yang dahulu banyak sampai antre antre sekarang bisa di hitung dengan jari, yang lebih menyakitkan lagi, asisten sang dokter dibajak, hengkang dari klinik milik GUBES.
Penyakit stroke ringan, adalah penyakit pertama sang dokter, kemudian komplikasi Ginjal, Jantung, frustasi dengan pekerjaan (praktek) klinik pribadi, menambah parah penderitaan yang dialami Gubes. Bunda Wati sangat setia menemani hari hari yang menyedihkan tersebut, pak Gubes selalu memanggil manggil putra putrinya, selalu dijawab, belum dapat cuti dan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, hingga Pak Gubes menghembuskan napas terakhir, anak anak mereka tak datang, bahkan saat pemakaman Pak Dokter yang Gubes itu, tak nampak kehadiran putra putri mereka.

Bunda Wati, kebingungan menerima kenyataan meninggalnya sang GUBES, apa yang harus dilakukan setelah kematian suami?, bunda wati tak mengerti apa apa, yang di dengar dulu hanya selamatan, bagaimana bentuknya juga tidak tahu,maklum kata orang bunda wati ini ISLAM ABANGANA (islam KTP), atas saran temannya dipanggil seorang ustad untuk memberikan solusi, apa dan bagaimana setelah kematian suaminya ini. Sang ustad menyarankan agar diadakan tahlilan, agar pak dokter dapat diterima oleh gusti Allah.
Lakukan saja pak ustad, berapa biayanya katakan saja, maapkan saya tak mengerti apa apa, soal agama, monggo pak ustad datangkan para santri untuk membacakan do’a, berapa saya harus bayar, “bu dokter”: begitu pak ustad memanggil, “kami tak minta bayaran bu!, kami ikhlas untuk menolong sesama muslim”, maapkan saya pak ustad, bukan saya bermaksud begitu, tapi saya bener bener sudah kosong, ga ada yang menolong, anak anak saya, sodara saya , sodara suami saya juga ga ada yang datang, kemana mereka yang dahulu merengek rengek pinjem duit, kemana mereka yang dahulu sok baik, sekarang mereka kok menghilang semuanya!, ucapan jengkel dari Bunda Wati.

Saat selamatan 40 hari almarhum Pak GUBES, telepon dari anak pertama, bunda maapin saya yaa, sudah 40 hari papa meninggal saya belum bisa hadir, Bunda!, kesibukan ananda ini menyebabkan ananda tak akan dapat kembali lagi ke Indonesia, tolong yaa bun, jangan mengharap lagi anakmu ini, karena ananda sudah berkeluarga disini, dan sekarang kami sudah berganti agama, kami memeluk agama yahudi seperti pasangan ananda juga, semoga bunda sehat dan bahagia dengan kesendriannya, sembah sujud anakmu, EKO CAHYO PUSPITO, telepon kedua datang dari anak ke 2, isinya sama dirinya tak bisa kembali lagi ke Indonesia dan sudah berkeluarga semba sujud ananda DWI WULAN NINGRUM, terakhir juga telepon dari anak ke 3 isinya sama.
Bagaikan tersengat PETIR, bunda wati, Lunglai tak sadarkan diri, ibu ibu yang ikut membacakan tahlilan malam itu membantu mengangkat ke kamar tidur, ada yang memberikan balsem di hirupkan pada hidung bunda, ada yang pijit pijit kaki, tangan, kepala, semua panik, takut terjadi apa apa dengan bunda. Beberapa menit kemudian bunda sudah mulai siuman, air matanya tak terbendung, ibu ibu yang memijit mijit sepontan berhenti memperhatikan butiran air mata bunda yang tak dapat dihentikan, “yang sabar yaa bun: ucap ibu rais, bunda mengangguk, Gusti Allah punya rencana besar dengan bunda, yang sabar ya bun!, sekali lagi bunda mengangguk. Sambil mengusap air mata, bunda berusaha bangkit dari tiduran, ibu ibu berusaha membantu, dadanya minta di kasih balsem, “sesak yaa bun ?”, tanya ibu, yeyen, saudahlah Bun, kami akan selalu menghibur bunda di kala sedih, kebaikan bunda pada kami, menyebakan kami, akan selalu siaga menjaga bunda, air mata bunda terus menetes, ibu ibupun tak kuasa menahan air matanya karena ikut larut dalam kesedihan bunda wati.

Saat masih pagi Bunda wati kedatangan ibu Ghufron, assalamu’alaikum bunda ?, ehhh wa’alaikum salam, masuk bu ayo masuk, Alhamdulillah bu, saya mau minta tolong, bu ghufron, bisa tidak yaa?, bun, saya akan selalu membantu bunda bila itu bisa saya lakukan, “apa ? bun katakan saja!”: ucap bu ghufron, begini bu, saya kan sekarang sendirian, anak saya sudah ga mau kembali ke Indonesia, hidup saya sekarang sebatang kara, dengan rumah segede ini rasanya saya tidak nyaman lagi, apalagi saya hanya mengandalkan pensiun bapak, yang tak seberapa dibandingkan dengan penghasilan bapak dahulu, lalu apa yang akan bunda lakukan?, begini bu, tolong saya dicarikan ustad yang yang pandai memberikan solusi untuk hidup saya ini !, “ada ada bun!”: ucap bu ghiufron, kalau bunda mau sekarang saya panggilkan!, kapan bunda pengennya ?, sekarang kalau bisa, kalau tidak yang 2 hari lagi juga ga papa!. Sekarang aja bun, saya pamit bun!, doakan berhasil yaa!, Assalamu’alaikum.
Sore hari ibu Ghufron datang dengan orang yang diinginkan oleh bunda, Ustad yang mengerti betul tentang agama. Begini pak ustad: “saya sekarang sudah sebatang kara, sedangkan harta saya sebanyak ini, saya tak sanggup memelihara kekayaan sebanyak ini, saya pengen semua harta saya ini saya waqafkan, tetapi saya masih diperbolehkan ikut numpang di waqah saya ini, ini gelang emas saya, kira kira ada 2,4 kg, ini berlian saya, ini kunci mobil, sepeda motor dan BPKBnya, ini sertipikat rumah saya, tolong semua ini dijual agar saya terputus dengan kehidupan lama saya, setelah semua terjual, bangunkan saya sekolah Islam dari TK hingga SD, saya nanti bisa jadi gurunya disana sekaligus saya bisa menempati rumah dinasnya”, bagaimana pak Ustad ?, iya bu, bisa sebaiknya kita ke Notaris nanti saat pembuatan akta jual beli dan waqaf nya, iya pak ustad saya akan selalu ikut saran pak ustad, asal hidup saya bisa lepas dari beban kekayaan ini.

8 bulan kemudian sebuah madrasyah cukup mewah berdiri disebuah perkampungan kumuh, guru gurunya juga relawan termasuk BUNDA WATI yang dulu juga lulusan IKIP Surabaya fakultas Sastra ambil jurusan bahasa Jawa, menjadi pengajar disana.

Cerita diatas mengingatkan kita pada sebuah ayat :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15) [Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Al-Alusi berkata: “Janganlah karena mementingkan pengurusan (anak-anak dan harta) dan memerhatikan kemaslahatannya serta bersenang-senang dengannya, menyebabkan kalian tersibukkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa shalat dan ibadah-ibadah lainnya, yang akan mengingatkan kalian kepada sesembahan yang haq Subhanahu wa Ta’ala.” (Tafsir Al-Alusi)

ANJURAN :
rasa cinta kepada seorang anak dan harta, seharusnya membawa dampak yang positif, yang semakin mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengan cara menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika itu berupa harta. Adapun anak adalah dengan mendidiknya dan membiasakannya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semenjak kecil.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita dan keluarga kita agar senantiasa menjadi hamba yang ikhlas, bersabar dan istiqamah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhkan kita dari fitnah serta penyebab jauhnya hamba dari beribadah kepada-Nya.

Terinspirasi mewek meweknya mbah Jah dan mbah mah di PANTI JOMPO
Pakde Azemi
nyeruput TEH Anget camilane Tahu isi Plus ote2

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s