Catatan Elin Senang Membaca: Bahkan Yang Sudah Tak Bernyawapun Tidak Bisa Tenang


Saya tinggal di daerah Kemanggisan, terletak di antara komplek Pajak, sekolah dasar, perumahan kampung Betawi dan kuburan. Ya, dibelakang rumah saya persis, ada sebidang kuburan waqaf yang sudah ada sejak saya pindah ke Kemanggisan dari Slipi, tahun 1977 (banyak temen2 yang blom pada lahir yaaaa…). Saya juga tidak tahu pasti sudah berapa lama usia kuburan itu.

Selama ini keberadaan kuburan itu tidak terlalu saya perhatikan. Hanya karena anak kembar saya dimakamkan disitu, rasanya tidak ada lagi yang menarik untuk diperhatikan. Alhamdulillah……selama ini kami sekeluarga juga tidak pernah mengalami kejadian-kejadian aneh. Kalaupun ada cerita seram, bukan dialami keluarga kami, tapi dialami tamu atau dengar dari tetangga.

Penduduk sekitar kuburan ini ada yang merasa takut tinggal dekat kuburan. Bahkan kalau ada penduduk sekitar yang meninggal dan dimakamkan di belakang, beberapa tetangga bisa merasa takut selama beberapa hari. Tapi kami tenang-tenang saja. Mungkin karena tidak ada pengalaman menyeramkan, jadi cuek saja (moga-moga setelah membuat tulisan ini, tetap tidak ada kejadian seyeeem…).

Beberapa hari lalu, Bapak saya mendapat undangan rapat RT. Ternyata ada pihak yang menggugat tanah waqaf itu. Pihak itu merasa mendapat hibah dari ahli waris sebesar 700m dari tanah kuburan itu, dan ingin menggunakan hak hibahnya. Penduduk sekitar kuburan tidak mau tinggal diam, dan merasa memliki kekuatan hukum, karena sertifikat waqaf ada di tangan pengurus (warga sekitar kuburan). Sampai akhirnya penggugat meneruskan kasusnya ke Walikota Jakarta Barat. Semoga tidak sampai berlanjut ke sengketa tanah yang bisa menimbulkan kekacauan, aamiin……

Yang menjadi pemikiran saya, kenapa ada ya orang yang sebegitu rakusnya nekat ingin menguasai tanah di Jakarta yang sudah diwaqafkan selama puluhan tahun untuk menjadi tempat pemakaman umum. Apa dia nggak takut azab Allah? Apa dia nggak takut arwah-arwah yang dimakamkan di situ akan mendatanginya? Memang nilai jual tanah di Jakarta sangat tinggi. Kuburan saja dinilai Rp 500.000/m. Tapi ini kan kuburan, waqaf lagi. Kok tega-teganya mengganggu mereka yang sudah tak bernyawa. Penasaran saya cari di google tentang tanah waqaf. Dan saya menemukan beberapa pengertian dari banyak data yang keluar.

Definisi/Pengertian Wakaf, Rukun dan Persyaratan Wakaf (Waqaf)
Fri, 20/11/2009 – 7:38pm — godam64

A. Arti Definisi / Pengertian Wakaf (Waqaf)
Waqaf/Wakaf adalah menahan suatu benda yang kekal abadi secara fisik zatnya serta dapat digunakan untuk sesuatu yang benar dan bermanfaat. Contoh wakaf yaitu seperti mewakafkan sebidang tanah untuk dijadikan lahan makam penduduk setempat, wakaf bagunan untuk dijadikan masjid, dan lain-lain.

B. Rukun Wakaf (Waqaf)
1. Ada Orang Yang Wakaf
– Wakaf atas kemauan sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
– Pelaku wakaf memiliki hak untuk berbuat kebaikan.
2. Ada Barang Yang Diwakafkan
– Kekal abadi bendanya
– Milik sendiri
– Ada akad wakaf antara pemberi dan penerima waqaf
3. Ada Orang Yang Diwakafkan

C. Persyaratan / Syarat-Syarat Wakaf (Waqaf)
1. Mewakafkan untuk selamanya tak terbatas waktu.
2. Jelas siapa yang mewakafkan dan kepada siapa diwakafkan.
3. Dibayar secara tunah / cash.
http://organisasi.org/definisi-pengertian-wakaf-rukun-dan-persyaratan-wakaf-waqaf

Waqaf
Waqaf adalah lahan atau tanah yang dihibahkan oleh seorang muslim (wakif) dengan tujuan amal untuk kepentingan sosial umat dalam memberantas kemiskinan dan kebodohan. Bisanya lahan wakaf digunakan untuk pembangunan madrasah dan universitas, masjid, rumah sakit dan kepentingan sosial lainnya. Status tanah wakaf adalah abadi kepemilikannya. Tidak bisa dipindah tangankan, apalagi dijual atau diwariskan. Bila ada hasil atau keuntungan yang diperoleh dari wakaf, adalah untuk amal. Maka lahan waqaf biasanya terdaftar secara administrasi dan disahkan oleh qadi, atau pengurus tanah setempat.

Untuk kepentingan yang lebih luas dalam dunia konservasi, maka wakaf juga dapat didorong untuk melibatkan muslim dalam memajukan pelestarian alam untuk kepentingan publik misalnya untuk pendirian stasiun riset, laboratorium kultur jaringan untuk perbanyakan bibit tanaman, pendirian rumah kaca untuk kepentingan penelitian, institusi pelatihan, pengembangan dan penangkaran hidupan liar (untuk mencegah kepunahan) dll. Lahan wakaf dapat menjadi sarana yang memungkinkan muslim secara individu maupun kolektif memberikan kontribusi yang berarti untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan dan konservasi alam.
Posted by fachruddin mangunjaya at 12:57 AM
http://agamadanekologi.blogspot.com/2007/03/waqaf.html

Pengertian Waqaf
Waqaf itu sejenis ibadah maliyah yang speksifik. Asal katanya dari kata wa-qa-fa yang artinya tetap atau diam. Maksudnya adalah bahwa seseorang menyerahkan harta yang tetap ada terus wujudnya namun selalu memberikan manfaat dari waktu ke waktu tanpa kehilangan benda aslinya.

Wakaf berbeda dengan sedekah biasa. Kalau sedekah biasa, begitu seseorang memberikan hartanya, maka biasanya harta itu langsung habis manfaatnya saat itu juga. Misalnya, seseorang bersedekah memberikan 10 orang miskin makan siang. Begitu makanan sudah dilahap, maka orang itu dapat pahala. Tapi tidak ada pahala lainnya setelah itu, sebab pokok sedekah itu sudah selesai manfaatnya.

Sedangkan dalam wakaf, seseorang bersedekah dengan harta yang pokoknya tetap ada, namun harta itu bisa menghasilkan pemasukan atau penghasilan yang bersifat terus menerus dan juga rutin.

Misalnya seseorang mewakafkan seekor sapi untuk fakir miskin. Sapi itu tidak disembelih untuk dimakan dagingnya, melainkan dipelihara oleh orang yang ahli dalam pekerjaannya. Yang diambil manfaatnya adalah susunya yang diperah. Susu itu misalnya boleh dibagikan kepada fakir miskin, atau dijual yang hasilnya untuk kaum fakir miskin.

Contoh lain seseorang mewakafkah sebidang sawah untuk ditanami. Sawah itu diserahkan kepada orang yang amanah untuk menanaminya, di mana hasilnya diperuntukkan khusus untuk anak-anak yatim.

Contoh lain, seseorang mewakafkan sebuah sahamnya perusahaan. Semua deviden yang didapatnya akan diserahkan kepada masyarakat miskin untuk bea siswa pendidikan.

Masyru’iyah Waqaf
Bentuk sedekah model wakaf ini sudah dicontohkan sejak zaman nabi dan para shahabat. Salah satunya adalah apa yang diwakafkan oleh sayyidina Umar bin Al-Khattab ra., sebagaimana tercantum dalam hadits berikut ini.

عبد الله بن عمر, قال: متفق عليه

Dari Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Umar bin al-Khattab mendapat sebidang tanah di khaibar. Beliau mendatangi Rasulullah SAW meminta pendapat beliau, Ya Rasulallah, aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar yang belum pernah aku dapat harta lebih berharga dari itu sebelumnya. Lalu apa yang Anda perintahkan untukku dalam masalah harta ini? Maka Rasulullah SAW berkata, Bila kamu mau, bisa kamu tahan pokoknya dan kamu bersedekah dengan hasil panennya. Namun dengan syarat jangan dijual pokoknya , jangan dihibahkan, jangan diwariskan. Maka Umar ra. bersedekah dengan hasilnya kepada fuqara, dzawil qurba, para budak, ibnu sabil juga para tetamu. Tidak mengapa bila orang yang mengurusnya untuk memakan hasilnya atau memberi kepada temannya secara makruf, namun tidak boleh dibisniskan…

Pohon kurma itu bersifat tetap, yakni ada terus dan tidak ditebang. Pohon-pohon itu adalah pokok yang terus dipelihara dan dirawat. Yang dimanfaatkan adalah hasil atau manfaatnya yang diniatkan oleh beliau sebagai sedekah rutin kepada fakir miskin.

Kepemilikan
Harta yang sudah diwakafkan sebenarnya statusnya sama dengan semua pemberian lainnya, yaitu si pemberi sudah tidak lagi punya hak atas apapun atas harta itu. Namun hal itu tergantung akadnya. Bisa saja akad sebuah waqaf itu hanya pada manfaatnya, sedangkan kepemilikan benda itu tetap masih ada dimiliki oelh si empunya.

Contohnya adalah seekor kambing yang diwakafkan susunya. Kambing itu tetap miliknya namun bila ada susu yang diperas, maka misalnya menjadi hak fakir miskin. Akad seperti itu pun bisa dibenarkan.

Begitu juga tentang penerima wakaf itu, bisa dikhususkan kepada orang tertentu saja tetapi bisa saja umum. Misalnya, tanah yang diwakafkan untuk kuburan keluarga dan ahli warisnya. Sedangkan untuk masjid biasanya manfatnya untuk seluruh umat Islam, tidak hanya khusus kelurga. Jadi wakaf itu memang bisa juga hanya diperuntukkan kepada kalangan tertentu saja sebagaimana amanat yang memberi wakaf.

Satu hal lagi yang penting adalah bahwa harta yang sudah diwaqafkan itu tidak boleh diwariskan. Karena bila sejak awal kepemilikannya memang sudah dilepas, para ahli waris tidak berhak mengaku-ngaku sebagai pemilik. Para ahli waris ini sama sekali tidak punya hak apalagi kewajiban untuk mengelola sebuah harta wakaf bila memang tidak diserahkan oleh si pemberi wakaf.

Yang berhak dan berkewajiban adalah nazir wakaf itu. Dan dalam hukum di negeri ini, penunjukan nazir wakaf itu dikuatkan dengan sebuah akte wakaf. Bahkan bila berbentuk sebidang tanah, yang lebih kuat adalah sertifikat wakaf. Namun nazir bukanlah pemilik, sehingga tidak berhak menjualnya, menyewakannya atau pun memanfaatkannya bila tidak sesuai dengan amanah yang diberikan.

Kewajiban keluarga dan juga semua lapisan masyarakat adalah mengingatkan nazir agar menjalankan amanat sesuai apa yang diminta oleh pemberi wakaf. Sebab bila dia khianat, maka dia pasti berdosa dan diancam oleh Allah SWT.

Pemindahan Waqaf
Sebagian dari ulama membolehkan menjual harta wakaf yang memang sudah tidak bermanfaat lagi untuk dibelikan barang yang sama di tempat lain. Misalnya bila sebuah masjid terkena gusur proyek pemerintah, tanahnya boleh dijual namun wajib dibangunkan masjid lagi di tempat lain. Sedangkan merubah manfaat harta wakaf bukanlah hal yang disepakati oleh kebanyakan ulama.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber Beda Waqaf dan Sedekah : http://assunnah.or.id/

Di sumber kedua disebutkan : “Status tanah wakaf adalah abadi kepemilikannya. Tidak bisa dipindah tangankan, apalagi dijual atau diwariskan. Bila ada hasil atau keuntungan yang diperoleh dari wakaf, adalah untuk amal. Maka lahan waqaf biasanya terdaftar secara administrasi dan disahkan oleh qadi, atau pengurus tanah setempat.”
Hmmm……… saya agak tenang sekarang. Tanah waqaf memiliki kekuatan hukum dan abadi kepemilikannya, dan hanya orang-orang bakhil yang nekat untuk menggugat. Kalau sudah begini, saya hanya bisa mengembalikan kepada Allah apa yang akan menjadi ketentuanNya dan berdoa semoga yang terjadi adalah kemenangan di pihak yang benar. Ternyata…… di Jakarta, yang sudah tak bernyawa pun belum bisa tenang……………

Kemanggisan, 23 Juni 2010.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s