MERTUA SAMBANG (mengunjungi) MENANTU


MERTUA SAMBANG (mengunjungi) MENANTU
Crita konyol dari cak bakir ini patut atau tidak kita teladani tergantung niatnya, tapi namanya juga teman cangkru’an (ngobrol) di pinggir jalan perlu juga kita dengar ocehannya.
Sore ini seperti biasa, penghuni pertigaan jalan sudah mulai ngerumpi soal TARUHAN BAL BALAN (sepak bola), yang kalah marah marah khas suroboyo “jan@@k”, sedang yang menang berlagak bagai Robinhood atau maling cluring seneng bagi bagi makanan pada kaum papa, padahal dirinya sendiri juga masuk kaum papa.
Usman bakul tahu tek membuka pembicaraan, pakde cak bakir (putu), hari ini hatinya sumpek (kesal), karena mertuanya barusan pulang !. bener kang bakir, sampean kesel karena mertua sampean pulang ?, cak bakir mengangguk pelan tanda kurang berminat berbicara soal mertuanya.

Crita cak bakir dapat terekam dengan gaya tutur bakul putu asal kota Kediri ini nyantai namun bisa kita tarik kejujuran wong pinggiran (kurang beruntung)

Setahun yang lalu aku nikah dengan perempuan asal diwek JOMBANG, sedang aku sendiri asli KEDIRI pakde, isteriku sama dengan diriku berasal dari keluarga yang kurang beruntung, kami ketemu di Surabaya, saat itu isteriku jadi Asisten rumah tangga orang jakarta memnyebut PEMBOKAT, seringnya ketemuan, karena majikannya doyan putu, maka setiap sore aku datangf ke rumah majikan isteriku (sri), witing tresno jalaran soko kuline ungkapan jawa itu bener pakde seringnya ketemu lama lama aku jatuh hati juga pada sri (isteriku), kami pacaran selama 3,5 tahun, ya itu pakde, pacaran gaya saya beda dengan pacaran orang bebas (kebanyakan muda mudi), kami hanya ketemu tiap sore, sudah seneng, memanfaatkan majikan sri membeli putu, setelah selesai kami langsung pisah, besok ketemu lagi.

Perkawinan ku berlangsung sederhana di kota jombang, tapi aku sudah bersukur bisa nikah dengan sri kuntini, gadis sederhana, manis dan tak banyak tuntutan, nurut dan yang penting lagi ibadahnya sangat istiqomah. Keluargaku sangat menyayangi sri, dia selalu memberikan oleh oleh kalau kita pengen ke Kediri demikian juga kalau kami ke Jombang sri selalu membawa oleh oleh untuk orang tuanya.

Kehidupan kami di Surabayan dianggap keluarga isteri saya sangat mapan, karena mengendarai sepeda motor kalau pulang ke Jombang, dan selalu pakai kaos yang masih bagus, sehingga banyak saudara saudara sri mengira kalau kami di Surabaya hidup berkecukupan.
Pemikiran yang salah tersebut, menyebabkan banyak keluarga isteriku yang selalu datang ke Surabaya dan mampir ke kos kosan ku, padahal mereka tak dapat tidur nyenyak saat di kos kosanku, karena memang ga ada kamar yang nyaman ga ada lemari es, hanya TV satu satunya hiburan untuk kami berdua. Kami bertekad untuk menabung sedikit sedikit untuk bisa membayar kos kosan yang makin lama makin mahal saja, tetapi Alhamdulillah penghasilan jualan putu cukup untuk menghidupi kami berdua.

Minggu lalu mertuaku berkunjung (sambang) ke koskosanku, seneng rasanya mertuaku alhirnya juga datang untuk melihat dari dekat menantu dan anaknya sehari harinya hidup kota buaya ini. Seperti orang desa lainnya bapak dan emak mertua datang membawa sekarung beras dan beberapa butir kepala, katanya untuk bekal kami selama beberap hari.
Setiap hari tak hiburan yang bisa dinikmati mertuaku hanya nonton TV, apalagi acara sepakbola paling gemar mertuaku mantengi layar kaca berlama lama, kopi pahit selalu disediakan siteriku sri untuk bapaknya, makin antusias bapak mertuaku ditemani kopi pahit yang selalu disediakan isteriku.
Kemarin bapak dan emak mertuaku pamit pengen pulang karena sdudah beberapa hari nginep, sebagai menantu aku berpura pura mencegah, agar nampak seperti menantu yang berbakti pada mertuanya, tetapi mertuaku tetep pengen kembali ke desanya.

Seblum pulang mertuaku bilang, bakir, di desa bapak ga ada hiburan, kan sekarang musim sepakbola, bapak akan kehilangan acaraa yang paling bapak senengi itu, “kalau boleh”: kata bapak mertuaku, kalau boleh bapak bawa TV yang kamu punya itu ke Desa, kan kamu bisa beli lagi, ntar kalau bapak panen, akan bapak kembalikan dan akan bapak belikan kamu sepeda motor, bagaimana?, saya boleh boleh saja pak, kan saya juga jarang melihat TV, kalau dik sri ini yang hobinya nonton sinetron dari pagi sampai malam. Tapi kalau bapak kerso (mau) monggo (mari) silahkan dibawa saja, nanti saya akan membeli yang baru.
TV kesayangku langsung di bungkus dengan klain sprey milikku, saat itu juga bapak dan emakku cabut dari rumah.
Setelah kepulangan bapak aku geger (tengkar) dengan isteriku, karena isteriku yang marah marah, katanya: sampean itu gimana sih mas, wong TV itu hiburan saya kok diberikan bapak!, lhoo dik, itu kan orang tua kamu, mana bisa aku berkata ”tidak”, andai saja kamu sendiri yang melarang yaa masih mungkin kan itu bapak dan emak kamu, kalau aku yaaa ga bisa ngomingnya.
Hingga kini, aku dan isteriku tak saling tegur sapa pakde, pas gimana ini solusinya ?

Walahh cuman itu toh masalahnya :
Begini cak bakir, beri tahu isteri sampean ada ayat yang tersurat demikian :
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”. -Demikian penjelasan sangat menarik dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah[11]-.

Seandainya sampean percaya dengan firman Gusti Allah tersebut, maka sampean akan mendapaat ganti lebih banyak dari sekedar TV yang sampean berikan pada bapak dan emak smdertua sampean, coba sampean simak lagi kata kata mertua sampean: “ntar kalau bapak panen, akan bapak kembalikan dan akan bapak belikan kamu sepeda motor, bagaimana?”
Itu sebagai tanda Gusti Allah Maha Rahman dan Rahim, pada sampean, karena itu jangan sampean pikiri TV yang telah dibawa bapak mertua sampean, insya’ Allah Gusti Allah akan mengganti yang lebih baik, karena sampean telah menyenangkan hati orang tua sampean, insya’ Allah.

Cak bakir, harta yang sampean simpen itu bukan sejatining harta sampean, sejatining harta itu adalah yang sampean berikan/sedekahkan pada orang lain itu adalah harta sampean yang sebenarnya, karena itu merupakan simpenan untuk bekal sampean meuju suargane Gusti Allah, tapi kalau harta masih ada dirumah sampean bisa bisa harta bukan menjadi milik sampean teta[pi milik “MALING” karena dicuri orang, tapi yang sampean sedekahkan itu akan menjadi amal yang tercatat oleh malaikat. Gimana cak, da ngerti ta sampean?, mulailah sedekah itu dari orang terdekat sampean dulu, bapak inu. Saudara dekat saudara jauh, baru melangkah kepada orang lain, tetangga, teman di jalan seperti ini. Wes cak pakde mau berangkat cari MARTABAK dulu, takut budhe nunggu kelamaan.

semoga tidak mencederaiu hati pembaca, nama dan alamat hanya piksa saja
cerita itu bukan sebenarnya, tapi akan bisa terjadi pada diri kita

Pakde Azemi’
nyeruput teh tawar plus putunya Cak BAKIR

3 Komentar

  1. Pak De, salam kenal yo…
    Apik ceritane, gaya berceritane mengalir khas gaya arek-arek suroboyo nek pas cerito. Semula aku tertarik nama blogmu, bareng tak buka JEBRET… HUUIK… ternyata sing nulis tonggo kuto dewek. Aku tonggone bojone Cak Bakir 🙂
    Cekak aos, apik… apik…

    Saling ngelink yo, Pak De.. Sampeyan tak lebokno link-ku disek..

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    • Alhamdulillah entuk dulur maneh (nambah siji jalane suargo)
      matur suwun sanged mas Muhammad, nek sampean suka dengan tulisan
      sing konyol iki. mugo mugo seduluran iki ketemu kebeciane
      aku seneng mas, nek saling LINK tapi sepurane aku sing GAPTEK
      ngerteni ngeBLOiG, insya’ Allah pelan isok ketemu di dimaksud yooo mas

      suwun
      pakde azemi

  2. Reblogged this on Rhakateza’s Weblog.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s