Catatan Abriansyah M. Noor: “Gemar Bicara.”


Syahril Kalam, yakni sangat gemar bicara yang tercela menurut syara’.Firman Allah Swt, artinya;

“Tidak ada kebajikan pada kebanyakan dari percakapan rahasia mereka, kebajikan hanya ada pada percakapan yang menganjurkan orang bersedekah atau berbuat kebajikan, atau mengadakan perdamaian antara sesama manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mengharapkan keridhaan Allah, maka Kami karuniakan kepadanya pahala yang amat besar.”(QS. An-Nisa’:114).

Tidak suka mencampuri yang bukan urusan dan sangat ni’mat kalau kita berbuat kebaikan. Hari-hari tak lepas dari menjaga silaturahim sikap penuh hormat selalu berterima kasih penyantun lemah lembut bisa menahan dan mengendalikan diri serta penuh kasih sayang.

Sama sekali bukan kebiasaan bagi yang akhlak baik perilaku melaknat ,memaki-maki ,memfitnah, pendusta ,menggunjing , menghasut, dan sebagainya yang dilarangkan agama.

Allah SWT berfirman, artinya; ”Sesungguhnya mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Al-Nahl: 105).

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu makan daging saudaranya yang mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
(QS. Al-Hujarat : 12).

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS.Al-Qalam : 11).

“Kecelakaan besar bagi orang yang banyak mengumpat lagi banyak mencela.” (QS. Al-Humazah : 1).

Dari Abu Hurairah r.a. : Sesungguhnya Rasulullah Saw bertanya :

“Tahukah kalian, apa itu ghibah ?”.

Para sahabat menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Beliau bersabda : “Kamu berbicara tentang saudaramu dengan pembicaraan yang tidak disukainya.”

Sahabat bertanya : “bagaimana apabila yang aku katakan tentang dia itu benar ? “

Rasulullah menjawab ; ”

Jika yang engkau katakan benar, maka kamu telah berbuat ghibah, tetapi jika tidak benar, sungguh kamu telah membuat kebohongan (fitnah) tentangnya” ( HR. Muslim )

Imam Al-Jurjani berkata :

“Ghibah adalah menyebut kejelekan orang, tanpa sepengetahuannya”

At-Kafawi berkata :

“ Ghibah adalah berbicara mengenai seseorang, tanpa sepengetahuannya”

At-Tahanawi berkata :

“Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan perkataan yang jika perkataan itu sampai kepadanya, dia tidak menyukainya. Sama saja apakah engkau menyebut kekurangannya pada badannya, pakaiannya, akhlaknya, perbuatannya, perkataannya, agamanya, dunianya, anaknya, tempat tinggalnya atau selainnya.

Rasulullah Saw, bersabda, artinya : Barang siapa yang melempar saudaranya dengan pergunjingan, dia maksudkan dengannya untuk mencelanya, maka Allah akan menempatkannya pada jembatan jahanan dihari kiamat kelak sehingga dia keluar dari apa yang diucapkannya.”

Takutlah pergunjingan, karena di dalamnya terdapat 3 macam bencana, yaitu;

1. Tidak dikabulkan do’a bagi orang yang selalu menggunjingkan orang,

2. Tidak diterima kebaikan amal ibadahnya,

3. Bertumpuklah kejahatan-kejahatannya.

(Mutafaq ‘alaihi).

“Barang siapa yang banyak bicaranya, maka ia sering tergelincir dalam kesalahan. Barang siapa yang tergelincir, maka ia banyak dosa dan kesalahannya. Barang siapa yang banyak dosa dan kesalahannya, maka neraka layak baginya.” (Sayyidina Umar bin Khattab)

Dalam Al-Quran, Allah Swt menunjukkan kemurkaan-Nya kepada orang-orang yang berbicara:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu membicarakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Al-Shaf: 3)

Meskipun demikian, dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa kemampuan bicara adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah seperti dinyatakan dalam surat Al-Rahman: “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara”. (QS. Al-Rahman: 1-4).

Dalam peristiwa mikraj diceritakan ketika Nabi Muhammad Saw, Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Beliau melihat di pertengahan jalan ada seorang yang mengguntingi lidahnya berulang kali.

Malaikat Jibril menjelaskan, “Itulah tukang-tukang ceramah yang suka memberikan nasihat kepada orang banyak tetapi ia tidak mempraktikkan apa yang ia bicarakan/khotbahkan.”

Ataqfirullah,,,

Rasulullah SAW, bersabda, artinya; “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain.”(HR>Bukhari).Subhanallah,,,Hadist ini seakan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauhmana nilai manfaat diri ini?,,

Yaa Rabb, berikanlah kami… untuk dapat melaksanakannya, Aamiin Allahumma Aamiin.

Wallahu’alam bishawab,

Wassalam

Hyperlink ke Facebook

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s