Pengen meniru Keikhlasan Tukang Becak di Jogya


ilustrasi

ilustrasi

Pak Unang, itu kalimat pertama kali saat memperkenalkan diri, dikala bus sudah berhenti di areal parkir Bank Indonesia Jogya, monggo pak, saya anter ke pia pathok, kaos dagadu dan kampung batik, sampai kembali kemari lagi cuman 5 ribu. Biasanya saya paling ga suka dengan tukang becak mendekati diri saya, tetapi entah kenapa Pak Unang ini bisa meyakinkan saya, saya ini ikut paguyuban becak yang selalu mangkal disini, monggo pak dalem derek’aken, puter puter sampai kraton………

Pak unang sebenarnya masih muda, umurnya masih 45 tahun tapi gayanya sudah seperti orang orang sepuh (tua), suka memberikan nasehat, paribasan, sehingga puter puter naik becak jadi menyenangkan, pak sampean kulo donga’aken katah (banyak) rejekine, sehat, lan (dan) sukses pendamelan (kerjaan) jenengan, amin.
Karena tertarik dengan kata kata dan kalimat yang meluncur dari Pak Unang, maka saya putuskan untuk puter puter lebih jauh lagi, pak Unang terus saja tanya, umur sampean berapa?, saya jawab 52 tahun kok jenengan kelihatan lebih muda dari saya sih pak?, haaa, kan cuman nampak luarnya saja dalamnya tetep aja tua Pak Unang: jawab saya, pak Unang makin ngekel (keras) ketawanya, jenengan kok saget keh mawon. Makin lama bahasa yang dipakai makin alus, saya hampir ga ngerti bahasa mereka, saya stop : Pak Unang, sampean jangan pakai bahasa wayang, saya memang orang jawa tapi ga ngerti bahasa jawa KROMO INGGIL (alus lus), ohh mangaten (begitu) heeeee,

Ketetaritarik saya, makin besar pada sosok unang ini, kocak, pinter dan sopan, pak unang kata saya: Jenengan kagungan (punya) putro pinten (berapa) ?, 2 jabwab saya, menawi dalem 3, kata pak unang, semua hasil saya mbecak meniko (ini) saya peruntukkan buat bekal anak anak saya sekolah, semua yang saya lakukan ini saya niatkan IBADAH pak !
Ya Allah, betapa agungnya orang ini, kaki dan tenaganya diamalkan untuk beribadah kepada Gusti Allah, pengen punya anak yang sholeh, anak yang pinter anak yang berbudi luhur.

Cari kain Lurik di Kampung batik ga ketemu saya putuskan untuk ke MIROTA atau pasar Bringharjo (malioboro), itulah lucunya becak di Jogya, tak boleh lintas daerah, katanya daerah A yaaa harus ke A ga boleh ambil di B, katanya ini model PARIWISATA JOGYA.
Pak Unang, harus kembali lagi ke parkiran Bank Indonesia, agar saya bisa ke bringharjo, setelah itu akan dilanjutkan ke KRATON.
Saat itu, saya putuskan untuk berhenti dulu transaksi dengan pak unang, maunya saya bayar, tetapi pak unang menolak, karena nanti juga akan dipakai lagi.

Selesai beli lurik di MIROTA dan Bringharjo, saya kembali ke Parkiran Bank Indonesia, ternyata pak Unang sedang narik orang lain, jalan jalan sama seperti saya tadi, lama saya tunggu hingga bus akan meninggalkan Parkiran BI, pak uang juga belum nampak ada, saya panik, karena belum bayar jasa yang telah dberikan pada diri saya, saya tanya kemana mana, saya sewa becak untuk mencari Pak Unang, saya bayar biasanya cuman 5 dribu saya bayar 15 ribu satu becak. Saya sewa 3 becak untuk berpencar mencari pak Unang, tetapi hasilnya juga NOL, saya gelisah, kata beberapa temannya, ga papa pak sudah biasa kok begini, pak unang juga kami, akan ikhlas bila terjadi hal yang demikian.
Waduhhh, pak, saya ga bisa begitu, ucap saya, saya kasihan, saya betul betul da merasa dosa, karena ga membayar sesuai sunnahnya bayarlah sebelum keringat itu kering.

Jam 13.30 Bus harus meninggalkan Parkiran BI, saya panggil tukang becak yang kenal, salah satunya bernama Pak TIMUR, saya beritahukan bahwa saya harus pulang, tolong saya titip uang untuk jasa pak Unang, saya titipkan 20 ribu Plus Ongkos Kirimnya untuk Pak Timur 5ribu sesuai ongkos jasa nggowes puter puter jogya, sebenarnya saya pengen kasih duit lebih besar dari itu (maap bukan sombong), karena kalimat kalimatnya yang begitu baik, meyakinkan saya, tetapi karena saya belum begitu percaya pada Pak Timur, maka saya cuman kasih 20 ribu saja untuk pak Unang.
Hingga kini saya masih gelisah, memikirkan uang tersebut nyampai apa ngga’ yaa ?, walaupun kata temen temennya bahwa Pak unang tak akan banyak berharap, bayaran jasa yang telah diberikan, namun saya tetap, ga bisa menerima kesalahan itu

Kesimpulan :
1. Andai semua tukang becak di Jogya bersikap seperti pak Unang, tentu akan memberikan dampak positip pada pariwisata kota Jogya.
2. Keikhlasan pak Unang, perlu dijadikan aset untuk masyarakat kota Jogya, karena orang seperti pak Unang itulah yang dapat m,engangkat pariwisata kota Jogya
3. Pak Unang adalah penjual Jasa yang tak selalu mengharapkan balas jasa.
4. Bagi kita, harus bisa belajar sedikit sedikit melepaskan citra buruk pada orang kecil yang kurang bersahabat bahasa jawanya tak diGeyah Uyah (tak disama ratakan) yang salah satu bukan berarti semua ikut menerima predikat salah.
5. Sifat su’udzon yang yang diletakkan di depan, akan selalu memberikan citra buruk pada semua orang

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159).

Catatan :
Apabila ada sohib atau konco yang kebetulan datang ke Jogya dan menemukan Pak Unang tolong dong saya diutangi dulu, untuk membayar pak Unang, ntar saya bayar lewat transfer bank atau wesel. sebab siapa tahu wesel saya kirimkan melalui Pak Timur tak nyampe, orang seperti Pak Unang tak memerlukan banyak duit, tapi bila kita berikan hak yang sebenarnya, keceriaan dan kegembiraan akan ditampakkan pada diri kita.
Sayangnya, pakde belum sempat poto karena akan poto bareng setelah kita sama sama di kraton, akhirnya yang ku dapat yaaa penyesalan yang mendalam seperti ini.

Pak Unang, maapkan saya, bukan maksud saya keplayon seperti kata bapak (melarikan diri), tetapi memang saya harus meninggalkan kota jogya, tapi jasa untuk bapak sudah saya titipkan pada teman bapak yang bernama pak Timur, semoga bapak bisa mengerti, kata kata saya ini, dan saya berjanji suatu saat kita masih bisa bertemu lagi, dan saat itu saya akan tunaikan apa yang menjadi keinginan saya itu.

Pakde Azemi
Maem GUDEG KENDIL mbok Berek asli Jogya pake AYAM bakar Plus tahu dan TEMPE BACEMnya maknyusss

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s