Eyang penjual Lurik itu curhat padaku……………


Pagi itu, matahari di kota Jogya terik sekali, sehingga es dawet laris manis dibeli banyak orang untuk sekedar melepas haus akibat panas mentari, namun terik mentari tak nyurutkan orang untuk berburu cendera mata khas kota gudeg, apalagi kalau bukan batik!. Batik Jogya katanya khas, namun di Jogya sudah banyak batik yang bukan buatan kota gudeg itu sendiri, ada batik solo, pekalongan, bahkan batik sidoarjo dan madura disana juga ada. Berburu batik murah biasanya para pedagang selalu Pasar Bringharjo sebagai jujugan utama untuk kulakan batik murah meriah.

Jogya hanya gudeg yang aku suka, tetapi kali ini, hasrat untuk beli “LURIK” batik khas jawa beneran karena LURIK tak dimiliki selain jawa, kalau pake kain lurik semua akan menekbak bahwa aku adalah “Wong Jowo” (orang baik,pinter, pangerten), sama dengan orang pake ULOS semua tahu yang bersangkutan orang batak.

Menelusuri pasar Bringharjo, biasanya orang membeli di kios kios pinggir jalan utama saja, tak terpikirkan BAGAIMANA KIOS dalam (lorong lorong), sepintas kios di dalam sepi pengunjung wisata, memang benar adanya, karena umumnya wisatawan/wati, membeli barang jadi, baju, stelan sarimbit, busana wanita, jilbab batik, pokok yang enak enak saja bisa dibeli di jalan utama, disamping itu penjualnya juga relatip masih muda muda, sehingga
daya tarik dan daya pikatnya dapet, semua uang akan ditumpahkan untuk keperluan oleh oleh batik dan kaos batik.

yang berada di kios dalam, mereka sangat percaya pada ayat :
Dalam Al Qur’an surat Ar Rum (30:37-40) disebutkan:

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-NYA dan Dia pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

38. Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orag-orang yang beruntung.

39. Dan sesuatu riba (tambahan) yang jika kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

40. Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu?. Maha Suci lah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Memasuki lorong yang sempit, berjajar penjual batik yang sudah sepuh sepuh, mereka tidak berebut pengunjung seperti di jalan utama, setiap yang lewat selalu disapa khas jawa, “monggo badhe ngersak’aken menopo?” kira kira seperti itu kalimat yang selalu saya dengar setiap saya melewati lapak demi lapak yang ada “monggo pak, pados bakalan wonten pak” (mari pak mau cari kain untuk baju dan kebaya juga ada). Tertarik dengan seorang perempuan sepuh, rambut sudah beruban semua, saya tanya : “bu, kain lurik bakalan wonten bu?”, wonten pak monggo, ini mungkin yang sampean cari!, beberapa tumpukan kain lurik yang mirip lipatan sarung atau jarik (kain kebaya) ditunjukkan pada saya, ini pak bagus bagus coraknya!, berapa ini bu ? 60ribu pak, wuihhh kok mahal sihh bu ?.
Sampean mau nawar berapa ?, ganteng ganteng kok yoo seneng nawar ? wahhh awahahh, bojoku ngakak!, kata bojoku, bu sampean kira pakde ini umurnya berapa ?, paling paling masih 40an: jawab ibu itu, wkekekekek bojoku ngakakk lagiiii, pakde ini umurnya sudah 52 tahun buu, waaahh ga percaya, kata ibu penjual lurik itu: kalau saya sudah 86 tahun pak ehhh bagus, karena sampean masih nampak muda saya panggil den bagus aee yooo!.

Kataku: bu nyuwun pangapunten nggih, jenengan kagungan putro (punya anak), kok sampean masih jualan seperti ini, mendadak percakapan berhenti, air mata ibu tumpah tak terbendung, seolah teringat sesuatu yang tak menyenangkan, maapin saya yaa bu, kalau kata kata saya menyinggung perasaan ibu?, hanya geleng geleng saja, sesekali isak itu tertahan, ga papa bagus: keluar juga kalimat itu, saya bukan sombong yaaa, anak anak saya semuanya sudah hidup mapan, jadi dosen 2 orang, 1 polisi pernah jadi kapolres di JABAR, pengusaha 2 orang dan 2 orang lagi dokter di nusa tenggara dan sulawesi, pernah anak anak saya itu punya kesepakatan, agar saya istirahat, caranya semua dagangan ini dibeli dan diberikan orang lain, lapak dibeli kemudian dipinjamkan orang lain, saya disuruh istirahat dengan diberi uang cukup, diberi pembantu untuk mengurusi saya agar tak melakukan sesuatu, tetapi, sampean tahu ? saya justru marah pada mereka, saya katakan, Leh, nduk, olehe awakmu dadi sampe pangkat ngene iki, yooo soko koyone wong tuwamu adol batik(kamu bisa punya pangkat spt ini karena usaha orang tuamu jual batik), iki ngono tinggalane bapakmu (ini adalah tinggalkan bapkmu), saiki awakmu wes pangkat kok arep ngelarang ibumu adol batik(skrg kamu da sugih, melarang ibu jualan), ibu mbok kongkong lungguh manis nang omah, gak entuk kerja opo opo (ibu kamu suruh duduk manis tanpa bekerja), koyok ngene ini podo karo mateni ibumu pelan pelan (sama dgn membunuh pelan pelan ibumu), yen awakmu isin duwe ibu adol batik yoo wes ojok marani ibumu maneh (kalo malu jangan datang lagi), lungo’o sing adoh (pergilah menjauh), ibumu tugasnya sudah selesai membesarkan, menyekolahkan agama, membiayai kamu kuliah agar dirimu berbudi luhur pada pada manusia, ngerti pada orang tua, ora padu (tengkar) dengan saudara, itu saja ibumu sudah seneng, melihat kamu rukun bersodara, banyak sodaqoh dan ora lali marang gusti Allah.

Yaa Robbi, betapa mulianya hati ibu ini, ikhlas tak berharap kembali, bagai sang surya menyinari dunia, Alhamdulillah pagi ini kau tunjukkan diriku pada ILMU yang paling BESAR, yaitu IKHLAS dalam berbuat semua disandarkan pada ritual ibadah pada gusti Allah.

Untung anak anak Eyang dibekali agama: kata Eyang, sehingga saat ditunjukan :

QS Al Israa’ 17:23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

QS Al Isra’ 17:24:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

QS Luqman 31:13-14.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Sabda Rasulullah saw. : “Surga terletak di telapak kaki ibu” ; “Keridloan orangtua merupakan keridloan Allah”

Mereka menangis, dan semua dikembalikan harta ibunya yang menyebabkan ibunya marah, sekarang ibunya bebas bekerja, untuk menghibur kesepihan, karena anak anaknya sudah “MENTAS” (berkeluarga) semuanya. Mereka PERCAYA Hanya doa ibu yang dapat menentramkan hatinya, doa ibu selalu dinantikan agar cahaya rumah tangga selalu bersinar.

Semoga oleh oleh ini bisa menyadarkan kita, agar berhati hati terhadap keinginan orang tua, walaupun kita punya rasa iba pada mereka, namun yang kita lakukan kadang kadang justru dianggap menghancur perasaan mereka, apalaagi sampe mencerai orang tua, berbicara “ah, hust, cust” saja kita dilarang oleh Gusti Allah, dianggap durhaka pada orang tua sama saja durhaka kepada Gusti Allah.

Mari kita berbicara lembut (karimah, sadidah), jangan sampai suara kita melebihi suara orang tua kita, jagalah perasaan orang tua kita, agar mereka bisa menerima kita sebagai anak atau anak menantu tanpa rasa canggung, semoga yang punya isteri atau suami tak menyebabkan suami atau isterinya menghalangi kita untuk berbuat baik kepada orang tua.

Maap bahasa yang pakde pake bukan bahasa Jogya, tetapi lebih pada bahasa reka reka saya, sebab memang pakde ngerti maksudnya, namun tak bisa berucap seperti orang Jogya yang alus tenan, semoga kalimat kalimat diatas tak mencederai hati orang asli Jogya.

Pakde Azemi
Minum MyDone dan Teh KoCak wangi
Camilan Brengos kukus

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s