Ketemu WALONDO di Kraton…………..


Kraton Jogya memang jujugannya para Wisatawan Mancanegara, semua orang sepakat, banyak orang asing (WISMAN) di Jogya, sehingga seperti aku nampak (geleng geleng kepala) gedeg gedeg melihat WISMAN yang biasa pake pakaian rodok ga lumrah (pakai mini atau sobek sobek).
di Kraton acara poto potoan sangat menyenang karena obyek dan angel menarik kali, sehingga tak satupun moment penting atau tidak harus ku tinggalkan, saat memasuki bangsal ke bangsa dengan dipandu oleh pemandu wisata, ada yang aneh pada seorang turis wanita yang berpakaian setengah nyeksi gitu, mau mendekat ngomongnya ga bisa cas cis cusnya, kami hanya saling pandang terus mesem bareng, heeem heeeem, kemudian ke gedung yang bercerita tentang kereta yang dipakai RAJA JOGYA dari masa ke masa saat prosesi SEKATENAN maupun acara acara penting keraton.

Cewek turis itu masih saja mendekat bersama sama kami, namun ga mendengarkan malah mencatat catat apa?, saya ngga tahu!, sesekali mesam mesem (senyum senyum) pada kita, kita juga balas dengan senyuman, karena memang sama sama ga ngerti bahasa verbal masing masing, yaaa pake bahasa ndayak atau bahasa bisu (isarat), gitu aja rasanya da marem (seneng).
Saat bener bener mendekat, koncoku bilang, pakde, paling iki turis miskin dengan bahasa suroboyoan, cewek turis tadi mesem, kita juga mesem, kemudian turis itu menjawab : nuwun sewu pak dalem teng Jugjo sampun gangsal taon (maap pak, saya di jogya sudah 5 tahun), dalem mahasiswi UGM Sastra Jawi (saya mahasiswa UGM sastra jawa), aku langsung malu bener, saya saja orang jawa ga bisa bahasa jawa alus kok WALONDO ngomong jowo mripit (saya ga bisa bahasa jawa alus kok yg bule bahasanya malah alus banget), waduchhh sepurane nduk !, bapak ga tahu kalau sampean mahasiswa. Katanya: , saya juga sudah punya tunangan orang jawa kok pak!, dan saya sekarang sudah MU’ALAF, ALHAMDULLLAH, jawabku, sepurane, nek olehe pakde sampe menghibah sampean yoo, mergane ga ngerti. Wes sampe ketemu lagi yoooo nduk!

Kesimpulan :
Kadang yang ga kita kira menjadi sebuah perbuatan dosa, walaupun itu hanya sebuah ucapan yang tak di ngerti orang, pengalaman ini semoga tidak menular ke dulur dulur dan ponakanku semua.
Ingatlah perbuatan ghibah itu sepewrti yang tersurat di bawah ini :
Ghibah disebut juga suatu ajakan merusak, sebab sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca.
Oleh karena itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menumbuhkan perasaan.
Firman Allah:
“Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!” (al-Hujurat: 12)
Setiap manusia pasti tidak suka makan daging manusia.
Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau daging itu telah menjadi bangkai?

Pengalaman dengan berlumuran dosa
Pakde Azemi
Nyeruput wedang Ronde isuk isuk wenak tenan

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s