Tertipu Calon MANTU……………….


Cangkrukan di Pertigaan jalan bersama wong pinggiran ga akan ada matinya untuk mendapatkan berita berita seputar surabaya, dari masalah kematian, perselingkuhan, perjudian sampai perjodohan.
Kali ini yang membuka percakapan adalah Bang Rojak penjual batagor, sedang asik bercerita masalah tetangganya saat ini sedang di rundung duka dan malu, sekarang sedang meratapi dan menangis di rumah sakit Haji Surabaya.

Cak sujak dan Ning koni, pasangan asli Trenggalek, mereka sudah menjadi penduduk surabaya sejak anak pertama mereka lahir 24 tahu silam, qiqqi demikian panggilan wakiyah anak semata wayang pasangan cak sujak dan ning koni, cewek manis lulusan IKIP PGRI Surabaya yang sekarang berganti nama menjadi UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA. Ning qiqi adalag guru TK swasta yang lumayan terkenal di Surabaya Timur.

Manisnya qiqi banyak lelaki muda, ganteng selalu selalu ingin menjaid pacarnya, tetapi cak sujak dan ning koni selalu bertanya BIBIT BOBOT BEBET, calon menantu yang datang selalu terpental dengan keinginan kedua ortang tua qiqi, karena emak dan bapaknya pengen punya menantu yang hidupnya mapan, rumah gede, mobil punya, penghasilan besar, agar anaknya kelak dapat hidup enak tak seperti emak dan bapaknya yang masih ngontrak rumah.

Sebetulnya tujuan cak sujak dan isterinya itu mulya, namun tak melihat bahwa perkawinan itu adalah masalah “hati” bukan masalah harta, tapi dasar cak sujak setiap tetangganya memberitahu, selalu saja ditolak dengan alasan macam macam.
Sebenarnya cak sujak dan ning koni pengen punya menantu yang kaya, agar punya nilai jual saat dirinya “PULKAM” (pulang kampung), menantunya akan diarak keliling desa dengan mobil yang mentereng itu (itu angan angan cak sujak dan isterinya ning koni).

Ning QIQI, kini punya pacar lagi, seorang mahasiswa ITS, yang ganteng dan perlente, liat dandanannya, semua akan berdecak kagum, namun sujono, tetep saja anak petani miskin yang sekarang gagal panen di gunung kidul Joyakarta, hidup di surabaya, selalu pindah pindah kos kadang juga tidur di langgar langgar deket kampus.
Dapat BRONDONG, demikian pikir ning QIQI, kini tak mau gagal karena tertolak bapak dan emaknya selalu tanya BIBIT BOBOT dan BEBETnya, “tak pernah koreksi dirinya sebenarnya mereka itu dari keluarga BIBIT BOBOT dan BEBETnya gimana?”: Kata ning QIQI!

Ning QIQI bersekongkol dengan Sujono, mengelabuhi emak dan bapaknya, “agar mas Jono dapat diterima dengan senang hati oleh bapak dan emak : demikian kata ning QiQi.
Setiap APEL ke rumah QIQI , mas Jono selalu membawa Mobil carteran, parkir didepan gang cak sujak yang rumahnya masih masuk gang kecil yang tak mungkin mobil bisa masuk, namun hati cak sujak dan ning koni sudah berbunga bunga, mas Jono di terima dengan senang hati, tanpa tanya lagi BIBIT BOBOT dan BEBETnya gimana gimana!.
Seluruh tetangga cak sujak selalu di beritrahu. Kalau mobil yang parkir di depan gang itu adalah mobil calon menantunya. Demikian bangganya cak sujak pada mas jono, kata ning QiQi.
Setelah beberapa kali APEL, mas Jono mengutarakan hari minggu yang akan datang mau melamar ning QIQI, tentu saja cak sujak dan ning koni setuju.
Saat lamaran, betul yang datang banyak, mobil yang parkir di depan gang cak sujak, ohhh mewah bener, demikian ucap orang orang orang kampung, padahal inilah adalah setingan Mas Jono dan Ning QIQi, agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.

2 bulan kemudian, Ijab kabul dilaksanakan di Mesjid dekat rumah ning qiqi, akad nikah dan resepsi perkawinan sangat meriah, di gedung balai RW, namun besan cak sujak dan ning Koni tak nampak hadir, dalam resepsi pernikahan tersebut, menurut mereka (qiqi dan jono), emak dan ibunya Jono sedang di luar negeri ga mungkin bisa datang, cak sujak dan ning koni tak mempermasalahankan, yang penting hari itu, anak semata wayang mereka bisa hidup bahagia berkecukupan dan yang penting menyenangkan kedua orang tuanya.

1 Minggu setelah resepsi, Jono pengen memboyong isterinya untuk diajak menempati rumah sendiri, tentu saja cak sujak dan ning koni seneng, namun setelah mereka tahu, bahwa rumah mas Jono adalah kos kosan kecil sumpek berada dalam lorong kecil di perkampungan deket kampus.
Sepontan saat itun pecah tangis anak, bapak dan emaknya, saat itulah ning qiqi mengaku kalau ini semua dirinya yang mensetting.
Yaa Allah nduk nduk! kok yoo teggo tenan awakmu bohongi orang tuamu!, aku malu nduk aku malu………………………………..

Begitu pakde, kira kira cerita tetanggaku yang hingga kini masih numplek di Rumah sakit karena stress berat, kata pak dokter: “harus istirahat beberapa hari di rumah sakit, hingga pulih stressnya”.

Bang Rojak!, tetangga sampean itu ga pernah baca al-quran yaa bang?

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(Al-Munafiqun: 9)

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15) [Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Al-Alusi berkata: “Janganlah karena mementingkan pengurusan (anak-anak dan harta) dan memerhatikan kemaslahatannya serta bersenang-senang dengannya, menyebabkan kalian tersibukkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa shalat dan ibadah-ibadah lainnya, yang akan mengingatkan kalian kepada sesembahan yang haq Subhanahu wa Ta’ala.” (Tafsir Al-Alusi)
Asy-Syaukani rahimahullahu menyebutkan bahwa harta dan anak-anak yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu akhlak kaum munafiqin. (Fathul Qadir)

Saran untuk orang tua, perkawinan itu masalah hati, tak daoat diukur dengan harta, karena harta itu bisa hilang dalam sekejab akbat kebaran, kemalingan, namun hati akan selalu dirasakan setiap waktu (kekal) kecuali mati.
Memikirkan nasib anak itu bagus, namun jangan sampai kita seperti tahu akan nasib anak kita apabila kawin dengan………………… kaewin dengan ………………… akan menjadi ……………….akan menjadi……………………
Semua itu gustiu Allah yang memberikan jatah maem dan rejeki setiap manusia, nasib sejkarang akan bergantiu dengan nasib esok hari apalagi lusa dan tahun tahun yang akan datang…………….
Hari gene masih memikirkan menantu “KAYA” apa kata dunia………………..
Itulah lugunya orang pinggiran, LAMARAN kok ga ada BESAN kok yaa mau, Resepsi tanpa besan kok yaa ga mikir, harusnya tanya saat lamaran, bapaknya kerja apa alamatnya dimana, kan begitu, huuu dasar MATREEE yoooo wes nasibmu CAK…………………

Semoga bermanfaat.

Pakde Azemi
Nyeruput Kopi Tubrug’an dengan Kapal Api

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s