Belajar dari Asongan KORAN……………………….


Masih pagi begini, pengen nyeruput teh anget mbok jah, sambil nguping berita seputar wong cilik di perempatan jalan, cak karim, cak sulkan, ning qom, yu ngah, bang amang semua sudah ndasar sendiri sendiri, sesekali mereka saling ledek sebagai penyedap mengkais rejeki ditengah jalan, cak man asongan koran juga sudah nampak aksinya mondar mondir sambil melirik lampu trepek-lite (traffic light) sudah kuning apa belum !

Cak man demikian panggilan asongan koran yang biasa mangkal di perempatan jalan, lelaki yang kurang memiliki kesempurnaan anggota badan (tuna daksa), berjalan, dengan kaki sebelah harus diseret seret, namun semangat untuk mencari rejeki Gusti Alah tak pernah surut untuk di kais di tengah ramainya lalu lintas.

Saat istirahat (jawa: ngaso), cak man nyeruput kopinya, kopi diseruput sedikit sedikit sampai selesai berjualan koran. Saat seperti ini, tak saya sia siakan untuk ngobrol dengannya. Cak man, sampean itu ga takut yaaa dipinggir jalan ?, waduch pakde, kalau saya katakan berani kok sombong amat sih, tapi kalau saya katakan takut, kok selalu ke tengah saat jajakan koran?.
Pakde saya ini orang ga sempurna, yang bisa saya lakukan untuk mencari rejekinya Gusti Allah yaa seperti ini, Gusti Allah itu Welas Asih pakde!, mobil yang saya tawari juga dalam keadaan berhenti, karena saat lampu merah.

Begini Cak, saya tadi ditanya yu ngah (penjual jajan pasar), pakde : “kenapa kok langganan koran saja, daripada setiap pulang subuhan harus ke perempatan untuk beli koran kan mending langganan lebih murah dan diantar lagi?”.
Saya jawab : “yu, saya beli koran ini sebenarnya bukan cuman untuk dibaca, tetapi lebih dari sekedar itu yu!”, “apa itu pakde? “, tanya yu ngah, saya beli eceran ini, karena kasihan melihat semangat cak man untuk mencari rejeki itu lhooo yu, sehingga saya tak mau langganan.

Kalau sampean gimana cak?, Yaa Allah, cak man mberebes mili (berkaca kaca) sepertinya dia mau nangis, lhoo cak man!, saya ga akan langganan, sampean takut saya hijrah yaaa cak?, jangan kuatir cak, saya akan jadi langganan setia sampean, kalau saya berangkat pagi kan anak saya yang beli ke sampean bener kan?, cak man mengangguk, tanda setuju!
Begini pakde, saya bukan saja merasa kehilangan pelanggan, kalau pakde langganan koran, tetapi saya akan kehilangan teman curhat saat saya sudah judeg (otak penuh). Sambil berkaca kaca, cak man menuturkan kalimat : “saat saya dulu, sudah putus asah karena ga laku laku, pakde selalu memberikan semangat, cak sing sabar yooo, Gusti Allah iku sugih, gusti Allah selalu menepati janjine,

”Mintalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan.” (QS. Ghaafir: 60)

Mungkin sampean cuman semangat kerja, kurang semangat olehe berdoa, kalimat itu pakde selalu saya pegang, insya Allah tak dapat saya lupakan selamanya.

Yaa Robbi, orang seperti ini hatinya selalu sambung dengan Gusti Allah, padahal orang orang normal seperti saya, belum tentu selalu ada getaran sukur seperti cak man ini. Begini pakde, kalau pakde keberatan dengan harga yang saya berikan, pakde bisa gratis kok!, subhanallah, cak man, sudah saya katakan, saya membeli koran ini karena liat semangat sampean hebat, sesemangat pantang mundur, percayalah cak, saya tidak akan berlangganan koran sampai kapanpun, ‘Alhamdulillah’, makasih pakde, makasih.

Dalam hati aku menagis, Yaa Robbi, Ya Razzaq yang memiliki Segala macam rezeki, curahkan kelebihan rezekiMU pada hambahMU yang sabar ini, Ya Fattah bukalah jalan keberkahan untuknya, Ya Mughni berikan kemakmuran batin, kemakmuran lahirnya untuk semua hambahMU yang sholeh, amin .

Mari kita bercermin pada wong cilik seperti cak man :
1. Mencari rejeki bukan semata untuk kehidupan dunia saja, yang lebih untuk bekal akherat
2. Kesabaran mencari rejekinya gusti Allah, akan memberikan ketenangan batin
3. Percayakan derajat rejeki kita pada pemilikNYA
4. Perhatikan ayat Al Baqarah ayat 186; disana dengan jelas Allah menyatakan bahwa ‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku’….”


Pakde Azemi
Nyeruput Kopinya Mbok Jah
Camilannya cenil dan klanting abang

Iklan

2 Komentar

  1. mau ikutan mbrebes mili pakde.. cak man… hmmm 🙂
    bagus postnya pakde


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s