PENOMENA PENGEMIS SUROBOYO …..


Terinspirasi dari statusnya konco – Pak Momo Sudarmo ASTAGA… Disinyalir bayi yg diajak ngemis itu dibius…… Pantas kok anteng, tidak rewel terjemur disiang bolong dan pada udara yg heavy poluted………… Makasih pak Statusnya sangat mengena sekali di bulan suci ini, semoga kita semua dapat merenung lebih dalam lagi, tentang “SEJATINE URIP”, mulyo mulyane manungso yen isok mulya’ake manungso, seneng senenge manungso yen isok nenyengke Manungso, SEMOGA!

Pengemis menjelang bulan ramadhan dan Lebaran, selalu merepotkan petinggi kota, karena mereka dianggap kotoran yang perlu di basmi, mereka dianggap memalukan kota bahkan bangsa (takut di sebut bangsa ngemis), padahal nyatanya malu of tidak, kita telah sering ngemis ngemis pada BANG DUNYO, untuk menambah UTANGAN, apapun dalilnya cara ngutang bangsa ini sudah kelewat parah kalau boleh di bilang mirip para pengemis yang minta belas kasihan pada dermawan, tapi biarkan saja sudah ada yang ngurusi sendiri. (Indonesia telah mengelola beban utang pemerintah dengan baik).

Ukuran terluas dari dampak utang adalah rasio total utang pemerintah terhadap total output ekonomi atau PDB. Rasio utang publik terhadap PDB turun dari 100 persen (1999) menjadi 40,8 persen pada tahun 2006 dan diperkirakan akan terus turun hingga 30-35 persen pada tahun 2009 (Gambar 1). Hal yang serupa juga terjadi di negara-negara tetangga.) Apapun namanya, kita masih terbebani utang, betul ? (gaya – KH. Zainudin M.Z) (http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAINBAHASAEXTN/0,,contentMDK:21014341~pagePK:1497618~piPK:217854~theSitePK:447244,00.html)

Saat kuliah dulu gejalah ngemis sudah menjadi buah bibir masyarakat surabaya (kotaku), 1979-1983 perjalanan menuju KAMPUS di ketintang saya selalu ikut tumpangan umum (bus kota), karena itu satu satunya milik ku yang setia mengantar dari dan ke KAMPUS Ketintang, menariknya perjalanan panjang dari JEMBATAN MERAH KE WONOKROMO penuh dengan cerita yang seru, konyol, sampai yang serius.

Kali ini cerita yang saya angkat tentang perjalanan pengemis di surabaya. Di TERMINAL JOYOBOYO (wonokromo), ada bekas stasiun kereta api mangkrak, karena di tinggalkan oleh yang empunya (PJKA), bekas stasiun itu dimanfaatkan banyak orang untuk tempat mangkal, mulai makelar, sopir angkot, tukang becak, copet, dan pengemis. Pengemis Surabaya, adalah masyarakat Nomaden berpindah “LADANG” mata pencarian ngemis dari daerah asalnya kota tertentu, hingga menclok (hinggap) di kota SUROBOYO yang diplesetkan SURO=WANI, BOYO=BAHAYA jadi kota yang berani nyerempet BAHAYA atau SURO=WANI BOYO = utang heeee wani utang dulu untuk mencapai sukses (kredit). Surabaya memang menarik dan menguntungkan bagi sebagian masyarakat luar surabaya untuk dijadikan LADANG ngemis, walapun tidak dermawan dermawan amat masyarakat Surabaya dibandingkan masarakat Jakarta misalnya kalo ngasih 5ribuan, di Surabaya orang masih ada kasih 100perakan (klitikan), tapi yaa itu mereka telaten ngumpulkan uang kecil kecil, kan ada pepatah “SEDIKIT SEDIKIT LAMA LAMA yooo KABOTEN” karena yang diterima uang recehan. Itulah hebatnya pengemis di Surabaya, sedikit tapi pasti dapat, daripada banyak jarang jarang dapat.

Para Tamu Surabaya yang punya Hobbi ngemis biasanya datang dari luar surabaya, setelah sampai di terminal Joyoboyo, mereka berganti pakaian dinas kebesarannya, dari yang semula perlente, ehhh setelah masuk bekas stasiun mereka keluar dengan PDH ngemis, ternyata baju yang mereka pakai dari nyewa di bekas stasiun tersebut beserta atribue atribute (tas cangklong, cat pewarna untuk wajah, sampai perban untuk mereka yang berdandan cacat kaki atau tangan), semua disana tersedia komplit, yang lebih penomenal lagi disana juga disewakan anak anak BALITA, dengan biaya sewa berpariasi dari yang biasa sampai yang HOKI, kalau biasa harganya sekian, kalau yang HOKI lebih mahal lagi. Hal ini mungkin yang mengilhami pencurian BALITA saat ini, karena BALITA dapat disewakan dengan keuntungan yang menggiurkan, bayangkan ini terjadi antara 1979 -1982 yang dapat saya amati selama dalam perjalanan, tentunya saat saya ngopi di warung dekat terminal, semua obrolan mulai dari copet, makelar, sampai pengemis keluar dari pemilik warung yang tanpa basi basi mereka ceritakan dengan polos, tanpa bayar tentunya.

Sekitar 1999 – 2003 – fenomena pengemis mulai bergeser, dari yang dulu di TERMINAL sekarang sudah nekat berganti di tengah kota, pengalaman ini saya temukan saat perjalanan saya dari rumah hingga pelabuhan tanjung perak naik ANGKOT, setiap pagi dipertigaan TUGU PAHLAWAN bubutan, kebon rojo, dan jalan Indrapura, karena saya selalu berganti ANGKOT dengan BUS KOTA di depan Bank Indonesia PAHLAWAN untuk menuju pelabuhan Tanjung Perak, ditempat ngetem/Halte BUS kota itulah banyak orang yang

selalu berganti angkutan, setiap pagi kira kira jam 5.20wib, mereka tanpa sungkan sungkan lagi berganti baju dinas dari PERLENTE menjadi KERE, setelah ganti dengan pernak perniknya mereka dengan acuh meninggalkan halte bus yang penuh calon penumpang. Untuk mencari posisi tempat mereka ngemis, tentunya orang orang seperti saya tahu dimana dan kapan mereka menjalankan pekerjaannya.

Ada yang yang lebih FANTASTIS, setiap pulang saya ganti ANGKOT lyn N, setelah turun di depan Studio 21 jl. Pahlawan, saat melintas di perempatan Jl. Pahlwan, Jl. Pasar besar, Tembaan, kramat gantung, disana ada Pulau jalan (jalur hijau), ditempat itu banyak anak anak kecil yang selalu minta minta, tangan ditengadahkan ke arah angkot atau bus kota, yang menarik ada 2 anak kembar kakinya buntung, dengan cepat dan cekatan mereka lari sambil ngesot mendekati angkot atau bus kota, mana yang dekat dirinya, setiap orang yang melihat pasti iba dan selalu menjatuhkan duit pada kaleng yang mereka bawa, saat saya akan memberi duit, penumpang sebelah saya mengatakan :”jangan dikasih pak !”, lho kenapa ?, mereka itu ga buntung, mereka itu normal cuman pakaiannya saja yang dibuat seperti buntung, satu kakinya ditekuk saat memasukkan celana sebelah kiri, coba perhatikan semua kaki kiri yang buntung, setelah saya perhatikan, bener juga, kata penumpang itu : “kalau bapak pengen tahu”, besok bapak pulang agak sorean dikit, bapak akan melihat mereka bermain sepak bola di jalur hijau ini, esok harinya saya sengaja pulang agak sore, masa’allah, bener dua anak kembar yang ganteng ganteng itu, bermain sepak bola, Yaa Robbi, Pertanda apakah ini ?, dalam hati saya bertanya, apakah ini akibat kita ini PELIT ?, seneng dibohongi, untuk mengeluarkan duit sodaqoh, atau kita memang tak memilii EMPATI pada wong cilik, atau memang “GEJALAH” masyarakat males cari duit dengan bersusah susah ?. semua jawaban tergantung rasa dan aroma hati kita masing masing.

CATATAN :

  • Masih perlukan kita berbelas kasihan pada pengemis, apabila penomenanya seperti itu
  • Apakah pengemis ini tanggung jawab pemerintah
  • Ada wacana dari Pemerintah DKI siapa yang memberi pengemis di jalanan di HUKUM, ini sebuah renungan APAKAH ini bagus atau malah kurang baek – Banyak orang yang cukup tapi bermental KERE
  • NGEMIS sudah menjadi PEKERJAAN yang menguntungkan
  • Banyak tangan yang terampil mengorganisir pengemis agar sukses mendapatkan REJEKI (bos pengemis di Surabaya penghasilannya 200juta/bulan pernah di muat di jawa pos) – http://fact-and-information.blogspot.com/2010/08/pengemis-terkaya-di-indonesia.html)
  • Belum ada tanda tanda pemerintah memperhatikan para pengemis ini untuk diberikan solusi yang baek, yang ada justru SATPOL PP kejar kejaran dengan PENGEMIS CILIK, TUA dan CACAT

Mari kita renungkan kata kata Ustad Zainuddin MZ. Hari pertama Tabligh Akbar di TV-One :

  1. Sebaiknya pemimpin negera ini mulai meniatkan diri dengan membaca NAWAITU SHOMA GHODIN…… membulatkan diri berpuasa menahan pake mobil yang bagus bagus sampai rakyatnya da dapat mengatasi kemiskinan, karena orang berpuasa dapat menahan keinginan sampai waktunya tiba.
  2. Jangan malah kita berucap : “Allahumma laka shumtu wa bika amantu.. ” karena orang berbuka itu maruk, apa saja pengen dia makan……..

Untuk itu BAGAIMANA cara kita BEREMPATI pada saudara saudara kita, marilah kita pake rumus 3M milik AAK GYM, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil2, Mulai dari sekarang, Insya’ Allah puasa kita akan selalu memiliki makna bukan hanya untuk diri sendiri tetapi sudah bisa RAJMATAN LIL ALAMIN, berbunga semerbak untuk orang lain, amin

Wassalam’

Surabaya Jumat (Pon), 13 Agustus 2010

Pakde Azemi

Jangan mentang mentang puasa pas ga mau bicara

Jangan mentang mentang puasa ga mau kerja

“TIDUR IBADAH” itu bukan berarti bekerja itu TAK BAEK, tapi malah ……..

Iklan

1 Komentar

  1. Hello There. I found your blog using msn. This is an extremely well
    written article. I will make sure to bookmark it and come back to read more of your useful information. Thanks
    for the post. I will definitely return.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s