Sampai Lupa kalau hari ini Proklamasi Negara Indonesia


Tak nampak greget 17 Agustus 2010 kali ini, biasanya kegiatan lomba lomba di kampung begitu semarak gapura di cat, umbul umbul begitu banyak menghiasi seluruh kota, lampu lampu penjor begitu indah di balai kota, Pendopo kelurahan dan Kecamatan, tahun ini sepi, tak begitu ada greget memperingati Ulang tahu kemerdekaan Negara Indonesia.

Apakah ini karena Bulan Puasa ?, bisa jadi bisa juga bukan!. Kalau bukan ini suatu tanda ada pergeseran nilai, ada pergeseran semangat masyarakat Indonesia untuk memperingati Proklamassi negara Indonesia yang ke 65, boleh jadi asumsi ini tidak terlalu salah apabila dikatakan ada pergeseran semangat bangsa Indonesia pada proklamasi tahun 2010 ini, apakah ini karena dipengaruhi kenaikan harga bahan pokok?, kenaikan harga daging AYAM, TELOR, BERAS, MIGOR, BAWANG PUTIH, DAGING SAPI sampai HARGA LOMBOK pun sudah ga masuk akal kata para emak emak, semoga bukan itu, tahun 1998 saat Indonesia kena krisis ekonomi yang begitu dahsyad (krismon), bangsa ini masih memperingati Proklamasi dengan gemilang semangat yang masih bagus.

Apabila karena bulan puasa, seolah bangsa ini tak mau bercermin pada sejarah,bangsa ini MERDEKA pada bulan Ramadhan, semangat bangsa begitu hebat untuk mengukuhkan jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat, bukan bangsa KACUNG, diperintah oleh bangsa lain, cinta cita yang MULIA pendiri bangsa ini, seolah bertolak belakang dengan keadaan bangsa ini saat sekarang, semangat “HANYA” memperingati proklamasi 17 Agustus saja bangsa ini sudah nampak loyo, biasanya kampung kampung nampak gapura gapura di hias bermacam macam, ada lomba GAPURA dari media massa besar di Surabaya, di kantor kelurahan, kantor kecamatan bahkan di balai kota nampak begitu semarak memperingati KEMERDEKAAN, tahun ini nampak lesu, pawai alegoris sebagai penutup dan Panggung hiburan untuk menunmjukkan kreatipitas warga sudah tak banyak yang melaksanakan, masihkah kita berkata ini karena BULAN RAMADHAN? Marilah kita bercermin pada sejarah saat proklamasi di Bacakan, saat Bung Karno dan Bung Hatta, diamankan oleh anak anak muda saat itu (bukan di culik) seperti bunyi sejarah, karena kalimat “CULIK” identik dengan sipat negatip, niat anak anak muda yang bergelora pengen cepet MERDEKA tak diberi ruang oleh Bung karno dan Bung Hatta, untuk secepatnya menyatakan KEMERDEKAAN, Alhamdulillah, akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta dapat mendengarkan saran dari Para Pemuda saat itu. Sehingga kalimat sejarah bangsa ini bukan atas pemberiaan JEPANG.

“Renungan Malam” semalam biasanya ada bermacam macam makanan yang enak enak, karena setiap KK (kepala keluarga), mengirimkan makanan sesuai dengan selera keluarga, yang menjadi inspirasi saya bukan makanannya, namun makanan ini sangat di tunggu oleh beberapa orang yang kurang beruntung (gepeng), biasanya para gepeng (gelandangan dan pengemis), selalu mengintai dari kejauhan, hingga bubarnya acara renungan, setelah bubaran mereka mendekat pada kotak kotak atau tampa berisi tumpeng, biasanya tak abis (masih tersisa). Disinilah peran para GEPENG untuk membereskan semua yang ada hingga kampung nampak bersih kembali, namun semalam nyaris tak ada sisa makanan buat mereka, mereka nampak sedih, harapan yang sudah direncanakan (angan) mereka pupus malam itu, harapan makan enak, berganti dengan kekesalan yang mereka pendam, mau protes mereka ga berani, karena ini bukan acara mereka, mereka adalah masyarakat termarginalkan secara ekonomi dan sosial, mereka adalah anak cucu pemilik bangsa ini, mereka berharap MERDEKA ini dapat membalik dirinya menjadi manusia berguna, seperti cita pendiri bangsa ini, namun kenyataan berubah, bangsa ini seolah kembali lagi menjadi bangsa KACUNG, menjadi bangsa yang selalu berharap bangsa lain untuk berbelas kasihan, semoga ada perubahan “BATIN”, pemegang dan penerus kepemimpinan bangsa ini.

Ingat kata kata bapakQ dulu, saat melihat para GEPENG itu Lesu, kata pakaQ : “Azmi, kalo kamu selamatan atau apa saja yang mengundang banyak orang, jangan lupa sisakan meja khusus atau tempat duduk khusus untuk orang orang kurang mampu, agar mereka turut senang dalam kegembiraan kamu, siapa tahu justru doa mereka itu yang di Ijabah Gusti Allah ?”, kontan saya nangis, lelehan air mata tumpah tak terasa, melihat mereka (para gepeng) yang mengais ngais sisa sisa makanan yang hampir ta ada itu, ku panggil salah satunya, saya tanya, sampean kok nampak murung malem ini?, iya pak, malem ini tak ada sisa makanan yang dapat saya bawa pulang, Ya Robbi !, tadi saya sudah berbuka puasa, sekarang saya masih tetep aja menelan makanan yang enak enak, sedangkan mereka harus menangis ngais sisa sisa kami, asa mereka tak dapat diwujudkan. Pak, Bu sampean tunggu disini yaaa !, saya pulang mengambil beberapa lembar uang yang masih tersisa, tak banyak memang semoga ini dapat mereka belanjakan malem ini untuk membeli makanan sebagai ganti kegundahan hati mereka, matur suwun pak, jangan matur suwun yaa, maapkan saya ga bisa memberikan lebih untuk sampean, semoga lembaran itu cukup untuk keluarga sampean.

Kita pekikkan MERDEKA MERDEKA bukan diplesetkan MEREKA MEREKA ……………kaum NEOLIB.

Pakde Azemi

Marilah BELAJAR berEMPATI pada wong Cilik saat kita ber senang senang,

siapa tahu justru doa mereka yang di-ijabah Gusti Allah, untuk diri kita.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s