Khusu’nya mereka yang memiliki keterbatasan


ilustrasi

ilustrasi

Beberapa malam saya selalu terfokus pada pemuda yang memiliki keterbatasan, pemuda ini sejak kecil terkena polio, sehingga kaki sebelahnya mengecil, sehingga bila berjalan harus dibantu dengan Egrang (tongkat gapit).

Kehadiran pemuda ini, mengusik pikiranku, seraya berucap, Subhanallah, astghfirullah, sungguh khusu’ cara pemuda ini melakukan i’tikaf, doa doa yang dipanjatkn sangat lama, air matanya nampak netes, entah doa apa yang dipanjatkan, hingga suasana hening malam itu menunjukkan padaku, azmi seperti itu kalau kamu pengen berdoa, astaghfiullah, sungguh antara hati dan kenyataan yang ku alami ga sama, hatiku berkata tirulah tirulah, namun aku masih tetep sulit melakukan doa doa hingga meneteskan airmata.

Pemuda ini juga melakukan sholat sunnah, beberapa kali saya lihat dia berdiri untuk melaksanakan sholat sunnah, tahu ngga bagaimana dirinya sholat ?

Pemuda yang punya keterbatasan karena kena polio, menyebabkan dirinya tak dapat berdiri sempurna, saat sholat Egrang (tongkat gapit) diletakkan, kaki yang kecil terangkat ke atas karena panjangnya tak sama dengan kaki normalnya, pemuda ini sholat dengan satu kaki saat berdiri, saat sujud kaki yang polio terangkat ke atas, sehingga nampak kurang sempurna sholat mereka, tetapi gusti Allah melihat dari hati, bukan gerakan.

Dari jauh terus kupandangi pemuda ini, tak terasa pelan pelan air mataku jatuh, tak terasa aku terisak, dadaku sesak, kalimat yang keluar subhanallah, astaghfirullah, kubayangkan andai diriku menerima cobaan seperti itu, tak sanggup rasanya menerima takdir gusti Allah seperti itu, baru diberi kenyang saja sudah pengen lapar lagi, karena tersiksa dengan sesaknya perut, padahal kenyang itu bukan akibat takdir, tapi akibat keserakahan kita melahap makanan.

Kalau merujuk ayat :

Ayat QS Al-Baqarah 286 yang di akhirnya ditutup dengan doa menyatakan bahwa Allah tidak akan membebani makhlukNYA diluar kadar kemampuannya. Selain universal, Islam juga agama yang fithry (alamiah) atau sesuai dengan alam artinya semua aturan agama Islam akan disesuaikan dengan irama alam, dengan sifat alam, dengan hukum alam.

Mungkin saja kita tak diberi cobaan seperti pemuda ini, karena gusti Allah menganggap kita tak akan sanggup menerima kenyataan. Sebaiknya dalam diri kita punya kewajiban untuk dapat menerima takdir gusti Allah apapun bentuknya, Kita harus ridha kepada apa yang diberikan kepada manusia (radhiatan mardhiyyah).

Saat dapat jatah sahur, yang normal malah rebutan tak karuan, sedangkan pemuda ini menunggu dengan sabar, karena punya keyakinan semua dapat jatah, tak sanggup aku melihat banyaknya orang tak sabar hingga pemuda ini  terabaikan, aku maju, minta dua porsi, ditanya untuk siapa ?, tuh sambil menunjuk pemuda polio, saya serahkan duan porsi tapi, katanya, wahh jangan pak, jatah saya cuman satu, yang satu kan untuk bapak, ga papa, ntar saya beli, waah jangan pak ga baek, kalau semua jatahnya satu saya ga boleh terima dua porsi, Yaa Allah, tak terasa air mataku netes lagi, ya udah ini untuk saya !, kita bisa makan bersama sama yaa, maap pak saya makan di sana saja yaaa pak, ohhh gitu, ya udah kalau airnya kurang saya bawa lebih yaa mas, makasih pak, sambil pergi meninggalkan aku.

Yaa Robbi, ternyataa pemuda ini tulus dalam menerima kenyataan, tak rakus, tak mau berlebih dalam menerima pandum (jatah), patut aku meneladani. Kita untuk parkir dan wudhu saja pengennya nomor satu apalagi soal maem yoooo pasti minta duluan.

Hikmah yang dapat kita ambil :

  1. Senyampang takdir yang kurang baik belum menimpa kita (kita masih sehat), mari kita ajari raga ini untuk selalu bermunajat kepada gusti Allah
  2. Apabila yang memiliki keterbatasan saja dapat melaksanakan, kenapa kita tak melebihi mereka, seharusnya kita cemburu dengan keikhlasannya
  3. Jangan malu meniru kebaikan walaupun nitu dilakukan orang yang memiliki keterbatasan
  4. Jangan meremehkan orang lain, karena gusti Allah saja yang tahu “QOLBU” makhlukNYA.

Semoga bermanfaat, mari kita menata hati dengan kesabaran, mari kita bersabar dalam kenyataan takdir gusti Allah

Surabaya;  6 September 2010

Pakde Azemi

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s