Perlu sebuah Pembelajaran…………….


ilustrasi

ilustrasi

Sepanjang perjalanan menuju tempat sholat iedul fitri dilaksanakan, jamaah selalu membesar besarkan Gusti Allah dengan bertakbir “Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilham”.

Perasaan suka cita, perasaan mendapatkan kemenangan setelah 1 bulan di gembleng dengan puasa, sehingga perasaan menjadi manusia baru lahir tanpa dosa, bener bener di miliki semua umat islam, baik yang melaksanakan sesuai dengan pakem “AGAMA ISLAM” maupun yang menurut “PAKEMNYA SENDIRI” puasa hanya seperlunya, taraweh hanya seperlunya, apalagi tadarus alquran tak terjamak sama sekali, tetapi mereka merasa tetap sebagai pemilik “IEDUL FITRI”

Sebagai pemilik sertipikat “LULUS” dengan predikat “TAQWA” setelah mendapat dari pelatihan selama 1 bulan di bulan ramadhan, diharapkan umat islam memiliki jiwa “RAHMATAN LIL ALAMIN”, peka terhadap lingkungan, juga kudu mampu menterjemahkan hubungan dengan Gusti Allah dan juga hubungan dengan sesama manusia.

Antusias umat islam untuk mengikuti sholat Ied, sungguh menunjukkan bahwa umat islam masih ada titik keimanan, titik keyakinan, titik kebagusan, ini tercermin dari suasana dan hingar bingarnya saat menuju dan saat meninggalkan tempat sholat ied. Tanpa kita harus mempermasalahkan bagaimana dan bagaimana mereka keseharian setelah ini, itu tak penting !.

Ada sedikit, ganjalan dalam hati memperhatikan umat Islam setelah meninggalkan sholat Ied, rata rata mereka enggan atau malu dari beberapa orang yang saya tanya, kenapa kortan mereka ga di bawa kembali atau di letakkan di pinggir jalan agar pemungutnya lebih mudah untuk mengambil, ini sudah saya ajarkan pada anak anak, rupanya anak anakku, sama dengan mereka alasannya malu, takut dikira dan dikira orang, wahh pokoknya banyak alasan yang dikemukakan, padahal kalau mau jaraknya hanya sejengkal saja dari mereka, paling jauh 3-4 jengkal saja, tetapi budaya tak biasa itulah penyebab hilangnya kepedulian umat islam terhadap masalah masalah yang sepele, inilah kadang kurang diperhatikan oleh para khatib JUMAT, KHATIB SHOLAT IED dan majelis ta’lim mingguan.

Andai mereka mau sedikit meluangkan waktu, maka akan :

  1. Andai kita dapat meluangkan waktu untuk memungut, kita pinggirkan, insya’ Allah akan bernilai sodaqoh.
  2. Andai kita mau, akan membantu banyak orang (pemulung) untuk mendapatkan kemudahan dalam memungut limbah.
  3. Andai kita mau, maka pemulung itu akan tersenyum, sebab yang mereka dapatkan adalah limbah korang yang masih bagus, bukan seperti yang kita perhatikan, mereka dapat limbah yang telah sobek sobek dan kotor, hal ini menyebabkan harga jual limba koran tidak signifikan (kata orang sekarang)
  4. Andai kita mau, insya’ Allah, tak akan ada kata kata Islam itu kumuh, jorok, kotor (walaupun sekarang belum ada kalimat seperti itu), cepat atau lambat predikat itu akan ditempelkan oleh mereka yang kurang suka dengan “AGAMA ISLAM”, yang sebenarnya mengajarkan kebersihan.

DULUR dan PONAKANku, marilah berbuat yang ringan ringan saja, kita mulai dari sekarang, kita lakukan yang dapat kita lakukan, jangan kita pengen berbuat yang PRESTISIUS, padahal yang sepele tak dapat kita lakukan.

Semoga ada manfaatnya.

TAQOBALALLAHU MINNA WA MINKUM

Pakde Azemi

Sambil maem nasi kuning plus Ayam AMRIK + minum teh AMRIK (kocak kolak)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s