Saling Suudzon berbuah manis………………


Kali ini pulang dari Bandung, saya putuskan untuk naik kereta api (mutiara selatan), tak seperti biasanya saya seneng naik BUS atau PESAWAT TELEPON, naik kereta api lebih rileks dan banyak kenalan pikirku begitu, apalagi saat itu aku kena sakit mata sehingga perlu pakai kaca mata hitam, agar tidak menular pada orang lain, juga harus banyak istirahat, ini alasan mengapa harus naik kereta api.

Stasiun Bandung sudah banyak berbenah, tak seperti 10 tahun lalu, kios kios makanan dan minuman sudah tak perlu cari cari lagi pengen apa sudah tersedia disana.
Saat mau beli tiket kereta saya dikejutkan oleh seseorang kebingungan membawa tas koper sesekali orang tersebut ngendap ngendap di balik tembok pilar stasiun.

Karena penasaran dengan orang tersebut, saya mencoba juga mengikuti dengan mengendap ngendap agar tidak mencurigakan, kekhawatiran saya tertuju pada teroris, bagaimana kalau orang ini bener membawa BOM, waah bisa tewaslah awak (batak mode on), kemana orang itu pergi selalu saya awasi, sehingga bagai film tom and jerry, saling waspada pada target. Makin lama makin curiga, sebab orang itu nampak ketakutan melihat saya membuntuti dirinya walaupun agak jauh.

Loket tiket sales sudah buka, saya langsung beli, kemudian bergegas naik kereta, ini saya lakukan semata mata untuk mengawasi, orang tersebut kemana ?, dari atas kereta saya selalu perhatikan penumpang yang akan menaiki kereta, tak terlalu lama saya lihat target sudah memasuki peron stasiun, masih tolah toleh sambil membawa koper, mendekati kereta dia masuk gerbong sebelah, dlam hati saya berkata : “andai dia satu gerbong saya akan selalu mengawasi dia”, tak berapa lama doaku bener terkabul dia bukan hanya satu gerbong dengan saya malah satu tempat duduk (deret), astaghfirullah doaku bener bener manjur. Sekarang aku jadi kikuk juga dengan orang yang selama ini saya jadikan target sasaran suudzon, begitu juga dia merasa ketakutan saat duduk sebangku dengan aku.

Sampai di tasikmalaya, saya masih belum bisa membuka pembicaraan dengan dia, padahal dengan penumpang depan, saya enak sekali (gayeng bhs jawa), tanya tanya masalah masalah teroris segala maksud saya nyindir sebelah. Kereta terus melaju sampai kota Gombong masih adem ayem belum dapat inspirasi untuk memulai pembicaraan, masing masing masioh saling pandang dan mesem hanya sekedar itu. masuk kota solo, orang ini membeli nasi, nah saat itu mau atau tidak haris menawari saya sebagai basa basi bertetangga dalam perjalanan. Pak, monggo, apa bapak ngga beli nasi gudeg solo ?, enak lho pak, kalau gudeg jogya sudah biasa tapi kalau gudeg solo kan bakap ga pernah, coba aja sapa tahu bapak nanti ketagihan, ucapnya meyakinkan. Saya juga beli sekedar untuk membuka pembicaraan dengan dia.

Setelah makan, saya sodorkan tangan, nama saya khusnul, anda ?, nama saya romadhon?, bapak mau kemana ?, ke surabaya?, kalau anda , say juga ke surabaya, ohhh gitu yaaa. Pembicaraan makin enak saat memasuki kota Jogya. Saya mulai membuka pembicaraan agak berat. Kata saya : Mas, maap yaaa, mulai tadi saya sudah suudzon dengan sampean mas romdhon, karena sampean membawa koper itu, sambil menunjuk koper yang berada di atas, kenapa ? terus terang saya masih trauma dengan peledakan BOM oleh terororis, sehingga melihat sampean bawa koper seperti orang bingung langsung saja saya anggap sampean itu teroris, heeee sambil mesem. Ohhh gitu yaaa pak!. “Saya juga minta maap”, : kata rtomdhon, karena saya juga sudah suudzon dengan sampean pak khusnul, maap yaa, saya melihat sampean itu takut karena pakai kaca mata hitam, waduh serem amat pak, saya anggap sampeaan itu membuntuti saya akan merampok tas saya ini, padahal saya ga bawa apa apa, bukan masalah tasnya pak, tapi urusannya kalau bener dirampok, bisa ga pulang cepat, karena harus memberikan kesaksian saat olah TKP haaaaaa haaaaa haaaaaa kami berdua ngakak sekeras kerasnya, mendengar cerita masing masing, saya cerita kalau pakai kaca mata ini karena sakit mata, sedangkan dia mas romdhon cerita kalau koper itu pemberian anaknya di bandung.

Kereta sudah memasuki stasiun Gubeng, masing masing kami memberikan kartu nama, sebagai tanda persahabatan di atas kereta. Keesokan harinya mas romdhon datang ke rumahku bersama dengan keluarganya, kami bercerita tentang suudzon kami masing masing di atas kereta, maka semua ngakak bareng haaaa haaa haaaa. Sejak saat itu saya dan mas romdhon menjadi keluarga yang selalu berkomunikasi dengan baik dcan pada akhirnya menjadi BESANan (menjodohkan anaknya).

Demikian semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk melapangkan hati apabila kita punya rasa suudzon dengan orang lain, dengan berterus terang semuanya akan terang, dengan keikhlasan semua akan menjadi menyenangkan.

Dulur, jangan suudzon ya.. ^^
cerita ini imaginasi dari serita teman, tak punya tendensi apa apa, hanya sekedar pelampiasan dendam ga bisa buat status yang manis.

Wassalam
Pakde Azemi
Dalam cengkraman boneka unyil dan upin ipin (dua sahabat yang saling seteruuuu)

1 Komentar

  1. Pretty section of content. I just stumbled upon your site and in accession capital to assert that I get in fact enjoyed account your blog posts.
    Anyway I’ll be subscribing to your augment and even I achievement you access consistently quickly.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s