Haruskah Beramal itu Sembunyi ?


Tangan Kanan Memberi Tangan Kiri Tak Tahu, begitu ungkapan untuk menggambarkan seseorang ikhlas dalam sodaqoh, namun, perbuatan yang begini malah dapat menyebabkan pitnah di tengah masyarakat yang masih membutuhkan uluran sodaqoh.

Seperti biasa, sore sore yang mendung mendung mesra menyebabkan para bakul males untuk keliling kampung, mereka seneng ngerumpi di perempatan sambil duduk di pinggir jembatan perlintasan antar KAMPUNG.

 

Penjual batagor Bang Rojak, Cak Doel, Cak Samat, Bang Boni dan Lek Unun. Pandangan kali ini mengarah pada cak LIM penarik becak setia para Lansia. Karena ditanya kemana, beberapa hari ini kok ga nyangkruk disini ?, Cak Lim menjawab : “ saya pulang kampung, kebetulan ada tetangga saya meninggal, saya menunda balik beberapa hari!”. “Apa itu saudara sampean ?” : tanya Lek Unun, “bukan, ia tetangga saya yang paling kaya, dia dianggap orang paling “PELIT”, ehhh ternyata……………………………

 

Cak Lim mulai bercerita tentang tetangganya yang “PELIT” , nama tetangga saya itu Haji Romli (nama samaran), seorang saudagar BATIK dan Distributor pupuk, rumahnya paling mentereng, gaya PORTO, berlantai 3, sungguh ironis kalau melihat rumah rumah di sebelah sebelahnya, kenapa ?, karena tetangganya adalah pemilik rumah rumah dari sesek (kepang), yang tidak permanen, yang paling menjengkelkan tetangganya adalah. PAK HAJI ini tak pernah berbagi zakat atau sedekah pada saudara  dekatnya.

 

Pak Haji, yang sudah mulai sakit sakitan, hidupnya punya ketergantungan dengan Rumah Sakit, anehnya tetangganya tak satupun datang menjenguk (besuk) ke Rumah Sakit, kalau mereka di tanya, jawaban mereka : “Pak Haji, ga pernah peduli dengan kami, mengapa kita kok repot repot mau besuk, mending duitnya untuk makan, cari duit sekarang repot !, demikian ketusnya mereka.  Pak Haji tentu sedih, saat dirinya sudah tak berdaya tak ada tetangga (saudara muslim) yang menjenguk untuk memberikan semangat dengan doa doa mereka. Sakit Pak Haji, main hari semakin menunjukkan peningkatan, makin hari makin ada saja, benda benda yang menempel di tangan, mulut, bahkan penyakit Prostat makin menambah sengsara Pak Haji , usia yang sudah 80an tahun, tentu stamina untuk mempertahankan diri jauh berkurang dibandingkan sewaktu masih muda dahulu. Kamis Kliwon, malem Jumat Legi (manis), Pak Haji menghembuskan napasnya yang terakhir dengan melafaskan kalimat “LA ILLAHA ILALLAH”, matanya tertutup pelan pelan, bibirnya seolah tersenyum kepasrahan untuk berjumpa dengan Sang Khaliq.

Jenazah Sampai di Rumah Duka, namun tak satupun para tetangga Ta’ziyah pada keluarga Pak Haji, tentu saja keluarga pak Haji mohon mohon pada tetangga untuk ikut merasakan duka cita dengan datang ke rumah agar nampak rame, namun himbauan keluarga tersebut disambut dengan sinis oleh para tetangga.

 

Pak RW sebagai Jembatan Warga dengan keluarga Pak Haji, melihat warganya ga ada yang datang, maka pak RW yang dianggap Robin Hoodnya orang Kampung, karena setiap minggu memberikan jatah beras 5 kg, minyak 1 liter, gula 2 kg plus duit Rp.20ribu – tanpa menunggu RASKIN (beras untuk keluarga Miskin) dari pemerintah yang ga bisa di prediksi datangnya, Pak RW mengumpulkan warganya di masjid terdekat, kemudian Pak RW memberi wejangan : “saudara saudara, kenapa sampean kok ga mau datang ke rumah Pak haji Romli ?”, mereka menjawab, untuk apa pak ? kan mereka juga ga pernah peduli pada kita kita ini !. ahhh masak sih Pak Haji Romli ga pernah peduli dengan sampean ?, buktinya apa kalau mereka peduli ?. Begini bapak bapak, saya mohon maap, ini terpaksa saya buka, agar tidak terjadi pitnah. Sebenarnya yang sampean terima setiap minggu dari saya itu adalah pemberian Pak Haji Romli, cuman beliau wanti wanti (pesan) agar tidak memberitahukan semuanya, hanya saya dan Pak Haji saja yang tahu !, ini saya buka agar nantinya sampean ga menuntut lagi setelah Pak Haji Romli sudah Almarhum, sebab saya juga takut sampean terlalu berharap pada saya.

 

Pernyataan Pak RW tersebut menyebabkan Spontanitas TANGISAN orang semasjid, mereka merasa bersalah, selama ini memusuhi keluarga Pak Haji Romli, padahal yang kita makan selama ini adalah sedekah dari Pak Haji Romli, sungguh kami warga yang tak tahu berterima kasih, namun ini karena kami memang tidak mengetahui, mereka keluar masjid dengan masih tersisa isak tangisnya menuju rumah pak Haji Riomli, ada yang bawa tikar, kursi, waktu yang singkat depan rumah pak Haji Romli nampak dipenuhi warga, tak lama datang paguyuban becak dan pedagang mie ayam, mereka mengatakan bahwa Pak Haji Romli adalah orang yang membantu mereka melalui ketua paguyuban mereka.

 

Pemakaman pak Haji Romli, seperti pejabat atau suhadah perang, begitu banyak pelayat yang mengantar kepergian orang yang tadinya tak dikenal menjadi terkenal, kiri kanan jalan deretan ibu ibu yang mewek mewek juga ikut mengantar kepergiaan Pak Haji Romli. Saat di pemakaman wakil keluarga mengucapkan terima kasih atas keikhlasan pelayat yang sudah menghantar Almarhum ke Peristirajatan yang terakhirnya, apabila seama hidupnya almarhum punya kesalahan dimohon keikhlasannya untuk memaafkan, sedang masalah hutang piutang dapat menghubungi keluarga secepatnya.

 

Sampai Hari 7, Makam Pak Haji Romli masih banyak yang berkunjung, dari hanya sekedar ingin tahu siapa Pak Haji Romli, sampai ada yang mewek mewek saat berdoa, sebangai ungkapan Kepergiaan pak Haji banyak menyisakan kebaikan untuk orang lain, kepergiaan Pak Haji memberikan keuntungan pada parkir dadagan, karena sebelumnya makam desa yang tak pewrnah dijamah orang kecuali malam jumat, kini menjadi ramai dikunjungi oleh banyak orang.

 

Kesimpulan :

  1. Haji Romli contoh atau teladan dalam bersedekah yang ikhlas
  2. Jangan meniru kalau hati dengan perbuatan kita tidak sejalan (keikhlasan yang  mantap sekali)
  3. Keikhlasan beliau, ditunjukkan oleh Gusti Allah dengan banyaknya orang yang ikut merasakan duka cita, walaupun Pak Haji tak pernah memberitakan sedekahnya
  4. Sedekah sembunyi sembunyi itu baik, namun perlu sedekah secara teranbg terangan, agar dapat memberikan solusi adanya EMPATI dari kita pada masyarakat sekitar, Contoh keikhlasan Pak Haji, mungkin sulit kita lakukan, maka sebaiknya sekali sekali kita sedekah dengan terang terangan, dengan catatan tak tercampur dengan sifat Riya’
  5. Suudzon warga bisa salah bisa juga dibenarnya, karena orang yang tak punya EMPATI biasanya dimusuhi warga, namun suudzon bagaimanapun kurang baik, sifat ikhlas perlu dikedepankan dibandingkan sifat mencela. Apalagi kita sama sama ga tahu bagaimana bagaimana obyek yang kita cela.

 

 

Semoga bermanfaat

Pakde Azemi

Nyeruput wedang jeruk nipis ning Khotim

 

 

1 Komentar

  1. Alhamdulillah, terima kasih Pakde, Semoga kita bisa Ikhlas dalam memberi dan Ikhlas juga dalam menerima,, semoga Allah juga Ridho dgn apa yg telah kita lakukan dan kita ttp Istiqomah dlm hidup sekalipun itu pahit terasa, Wassalam


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s