Nasehat Untuk (Calon) Orang Kaya


“Sehingga orang kaya yang baik adalah orang kaya yang suka berderma (ghaniyyun kariimun), yang memberikan harta terbaik yang ia miliki (ghaniyyun hamiidun) dan yang tetap rendah hati dan menjaga perasaan orang yang diberi derma (ghaniyyun haliimun).”

 

Apakah Anda merasa termasuk orang yang dianugerahi oleh Allah dengan kelebihan harta? Kalau ya, maka ada baiknya anda belajar menjadi orang kaya yang baik, sebab kekayaan sesungguhnya adalah bagian dari ujian yang Allah berikan kepada kita. Kalau tidak, ada baiknya juga belajar, sehingga kelak ketika anda menjadi orang kaya, anda telah siap untuk menjadi orang kaya yang baik. Bagaimana ciri orang kaya yang baik? Tirulah sifat – sifat Allah yang Allah tegaskan di dalam AlQur’an.

 

Ketika Allah menyebut sifat beliau yang kaya, ghaniyyun, Allah swt mengikutinya dengan 3 sifat yang lain: ghaniyyun kariimun (QS: 27;40), ghaniyyun hamiidun (QS: 2;267) dan ghaniyyun haliimun (QS: 2;263).

 

Kaya yang pertama adalah ghaniyyun kariimun. Kata kariimun berarti murah hati, dermawan, mulia, terhormat. Lawan kata kariimun adalah bakhiilun (pelit). Sehingga ghaniyyun kariimun berarti kaya yang pemurah, kaya yang dermawan. Orang kaya yang baik adalah orang kaya yang suka memberikan sebagian kekayaannya kepada orang lain, yang tidak pelit dalam berderma.

 

Kata kariimun sendiri sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam. Penggalan ayat 40 dari surat An-Naml ini berbunyi:

 

”Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana (milik ratu Bilqis) tiba tiba muncul dihadapannya, ia berkata: ” ini adalah sebagian dari karunia Pemeliharaku, untuk mengujiku: apakah aku akan mensyukurinya ataukah aku akan mengingkarinya. Barangsiapa yang bersyukur sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya, dan barang siapa ingkar maka sesungguhnya Pemeliharaku kaya lagi pemurah”

 

Ayat ini menegaskan bahwa karunia yang Allah berikan kepada manusia, baik berupa harta kekayaan atau ilmu pengetahuan, adalah ujian dari Allah: apakah manusia tersebut akan berterima kasih atas karunia yang telah ia terima dengan pengakuan bahwa karunia itu ia peroleh karena kemurahan Allah; ataukah ia akan mengingkari karunia tersebut dengan menafikan ”peran” Allah sama sekali.

 

Tetapi sesungguhnya kemurahan Allah adalah kemurahan yang ”searah”, kemurahan yang tidak mengaharapkan balasan. Maka ketika seorang hamba bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah Ia berikan, syukur itu tidaklah menambah sedikitpun keagungan Allah. Justru sebaliknya, syukur itu akan kembali kepada hamba tersebut dalam bentuk kebaikan – kebaikan lain yang akan ia terima, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Demikian pula ketika seseorang tidak mengakui dan tidak berterima kasih kepada Allah atas karunia yang ia peroleh, kekufurannya itu tidaklah mengurangi keagungan Allah sedikitpun. Allah juga tidak lantas murka dan mencabut atau menghentikan karunia yang Ia berikan kepadanya. Inilah makna kaya yang pemurah, ghaniyyun kariimun. Allah itu maha kaya, pemurah, dan sifat pemurahNya ini adalah pemurah karena diriNya memang pemurah. Ia tetap pemurah, meskipun yang diberi tidak mau mengakui dan tidak sudi berterima kasih atas kemurahan itu.

 

Ada tauladan yang tepat untuk kaya yang pemurah ini. Kejadian ini terkait dengan kisah ”hadiitsul ifki” yang menimpa Aisyah rha. Suatu ketika, sepulang dari perang Bani Mushthaliq dimana Aisyah berkesempatan turut serta menyertai Rasulullah SAW, karena sesuatu hal, Aisyah tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Kebetulan waktu itu juga ada seorang sahabat yang tertinggal, dan medapati Aisyah sendirian. Kemudian akhirnya Aisyah dengan ditemani sahabat tersebut, Shafwan ibnu Mu’aththal, melanjutkan perjalanan menyusul rombongan Rasulullah SAW. Oleh orang – orang munafiq, kejadian ini di-blow up dan beredarlah isyu isyu yang memojokkan Aisyah dan Sahabat tersebut. Saking derasnya isyu tersebut hingga membuat Rasulullah SAW sedikit banyak terpengaruh hingga kemudian Allah swt ”menegur” beliau dengan menurunkan wahyu yang ”membersihkan nama” Aisyah dan mencela orang – orang yang menanggapi berita yang tidak jelas sumbernya dan hanya berdasarkan prasangka belaka itu. (QS: Annur, 11 – 20).

 

Di antara orang – orang yang terpengaruh dan ikut ikutan mem-blow up isyu tersebut adalah seseorang yang selama ini hidupnya ditanggung oleh Abu Bakar As-shiddiq, sahabat kenamaan sekaligus ayah Aisyah rha. Setelah isyu itu reda dengan turunnya wahyu surat An-Nuur tersebut, Abu Bakar berniat bahkan bersumpah hendak menghentikan pemberian harta yang selama ini ia berikan kepadanya.

 

Atas sumpah Abu Bakar inilah kemudian turun ayat selanjutnya, ayat 21 yang secara tegas melarang orang – orang beriman yang diberi kelapangan harta oleh Allah menghentikan kebaikan derma mereka kepada orang – orang yang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan hati penderma.

 

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka [tidak] akan memberi [bantuan] kepada kaum kerabat [nya], orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

 

Meskipun menyiarkan berita bohong itu sendiri juga merupakan perbuatan terkutuk yang pantas mendapat hukuman di dunia dan di akhirat,(ayat 22-25) tetapi menghentikan kebaikan derma kepada mereka bukanlah merupakan bagian dari hukuman yang pantas mereka terima; hukuman bagi orang yang menuduh orang berzina adalah dicambuk 80 kali. Menghentikan kebaikan derma yang selama ini dilakukan kepada mereka sesunguhnya hanyalah merupakan sebuah perbuatan buruk yang lain yang tidak pantas dilakukan oleh orang beriman.

 

Inilah ghaniyyun kariimun, kaya yang pemurah, yang tetap istiqamah dalam memberi derma, bahkan meskipun ketika orang – orang yang diberi derma membalas dengan perbuatan yang tidak menyenangkan para pemberi derma.

 

Kaya yang kedua adalah ghaniyyun hamiidun. Hamiidun berarti terpuji, mulia, tidak tercela. Ghaniyyun hamiidun berarti kaya yang terpuji, kaya yang tidak tercela. Terpuji dalam konteks apa? Mari kita simak ayat yang memuat ghaniyyun hamiidun ini:

 

”Hai orang – orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usaha kalian yang baik – baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian. Dan janganlah kalian dengan sengaja memilih yang buruk buruk darinya untuk kemudian kalian infakkan; padahal kalian sendiri tidak sudi mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata kalian terhadapnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah kaya lagi terpuji.” (AlBaqarah 168).

 

Jelas sekali, hamiidun dalam ayat tersebut sangat terkait dengan apa yang kita infakkan, apa yang kita dermakan kepada orang lain. Ketika kita diberi kelebihan harta oleh Allah, hendaklah kita berikan sebagian harta kita tersebut kepada orang orang yang berhak menerimanya. Harta yang kita infakkan itu hendaklah sama kualitasnya dengan yang kita konsumsi; bukan barang – barang jelek yang sudah tidak kita sukai lagi yang kita berikan kepada orang lain. Jika terakhir ini yang kita lakukan, bukan kebaikan yang sedang kita lakukan, tetapi sesungguhnya kita sedang melakukan perbuatan tercela, perbuatan yang tidak terpuji.

 

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud ”infakkanlah sebagian hasil usahamu yang baik – baik dan hasil bumi yang Allah berikan kepadamu” ini adalah pengeluaran harta yang bersifat wajib, yaitu zakat maal, zakat niaga dan zakat hasil bumi. Besarnya zakat yang harus dikeluarkan sudah ada ketentuannya. Untuk hasil bumi, misalnya, zakatnya 5 – 10 % dari hasil panen untuk setiap masa panen. Adalah perbuatan tercela apabila pemilik hasil bumi menyerahkan hasil panen yang jelek jelek sebagai zakat. Yang harus dibayarkan adalah yang memiliki kualitas sama atau rata rata dengan hasil yang diperoleh.

 

Namun demikian, pendapat bahwa ayat itu berlaku untuk zakat tidak serta merta menafikan perintah mendermakan barang – barang yang masih baik dan masih kita senangi. Hal ini selaras dengan banyak ayat dan hadits yang menghimbau muslimin untuk menginfakkan harta yang masih mereka cintai kepada orang lain.

 

Suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, ”Wahai Rasulullah, shodaqoh apa yang paling tinggi nilai pahalanya?” Beliau menjawab, ”Shodaqoh (barang) yang masih kamu butuhkan.” Inilah kaya yang kedua, kaya yang terpuji; yang memberikan hartanya yang baik, yang masih dia butuhkan, yang masih dia cintai; bukan barang barang yang memang akan dibuang ke tempat sampah.

 

Kaya yang ketiga adalah ghaniyyun haliimun. Haliimun artinya berperasaan lembut, santun, tidak tergesa gesa. Lawan katanya adalah ghaliidzun yang berarti berhati kasar, bengis, berangasan. Sehingga ghaniyyun haliimun berarti kaya yang lembut, rendah hati, dan santun; bukan kaya yang keras, bengis dan arogan.

 

Allah swt menggunakan sifat ghaniyyun haliimun ini di akhir ayat 262 – 263 dari surat Albaqarah yang berisi peringatan terhadap para dermawan agar tidak mengikuti perbuatan derma mereka dengan mannan; yaitu penyebut – nyebutan kedermawanan mereka dengan maksud membanggakan diri, dan tidak pula diikuti dengan adzan; yaitu ucapan yang menyakiti hati dan menjatuhkan orang yang menerima derma mereka.

 

”Orang – orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka infakkan dengan menyebut – nyebut pemberiannya dan tidak pula dengan perkataan yang menyakiti (hati si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Pemelihara mereka. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (2:262).

 

”Perkataan yang baik dan pemberian ampunan lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan perkataan yang menyakitkan (perasaan si penerima). Dan Allah maha kaya lagi maha santun.” (2:263)

 

Jika hamiidun pada kaya yang kedua sifat terpuji terkait dengan harta yang didermakan, maka sifat haliimun pada kaya yang ketiga ini terkait dengan menjaga perasaan orang yang diberi derma. Sudah menjadi kefahaman kita semua bahwa orang yang memberi derma memiliki posisi lebih tinggi daripada orang yang diberi derma. Ketinggian posisi ini menumbuhkan perasaan superior yang tidak jarang berujung pada arogansi dan kesemena – menaan. Sebaliknya pula posisi orang menerima derma hampir pasti menumbuhkan perasaan inferior terhadap para penerima derma, lebih lebih ketika derma itu didapatkan dengan meminta. Tanpa dinyatakan dengan kata – kata pun, perasaan superior dan inferior itu hampir pasti ada.

 

Sering kita dapati peminta – minta yang datang ke rumah kita. Melihat fisiknya yang masih relatif muda dan segar, kadang kita memberi seratus duaratus rupiah, seraya berkata, ”Dasar pemalas! Masih segar bugar kok minta minta! Cari kerja sana!”.

 

Sungguh, menolak memberi derma dengan kata – kata yang halus: ”Maaf, pak, bu, silakan ke yang lain dulu, sedang tidak ada uang kecil.” itu lebih baik daripada memberi dengan menambahi ucapan – ucapan yang tidak menyenangkan.

 

Atau kadang kadang ada juga peminta minta yang menjengkelkan, yang tidak tahu tata krama meminta minta. Misalnya, saat kita sedang akan istirahat tidur siang, datang mengetuk – ngetuk gerbang. Karena kesal, kadang kita memberi seratus dua ratus rupiah dengan bonus kata – kata, ”Dasar tak tahu adab! Jam segini ganggu orang istirahat!” Sungguh, ketika kita tidak memberi dan memaafkan si peminta karena telah mengganggu istirahat kita, itu lebih baik daripada memberi dengan bonus kata kata yang menyakitkan.

 

Seakan Allah mengingatkan kepada kita, sejelek jeleknya peminta minta, mereka adalah manusia yang punya harga diri dan perasaan. Hanya manusia tidak waras di dunia ini yang bercita – cita menjadi peminta minta. Kemiskinanlah yang membuat mereka menjadi peminta minta. Maka janganlah para penderma menambah penderitaan mereka dengan kata kata yang menyakitkan.

 

Bahkan di ayat berikutnya, Allah swt memperingatkan orang orang beriman yang suka berderma bahwa pahala kedermawanan mereka akan hangus ketika mereka mengikuti pemberian mereka dengan penyebut- nyebutan baik untuk riya’ ataupun untuk merendahkan si penerima derma.

 

Itulah kaya yang ketiga, ghaniyyun haliimun, kaya yang berderma dan tetap rendah hati dan menjaga perasaan orang yang diberi derma.

 

Sehingga orang kaya yang baik adalah orang kaya yang suka berderma (ghaniyyun kariimun), yang memberikan harta terbaik yang ia miliki (ghaniyyun hamiidun) dan yang tetap rendah hati dan menjaga perasaan orang yang diberi derma (ghaniyyun haliimun).

 

Mudah mudahan Allah swt menolong kita menjadi hamba – hambaNya yang baik, yang lulus ujian dengan kekayaan yang Allah titipkan kepada kita, amiin.

 

Wallahu a’lam bis-shawab.

 

sumber : http://keluarga-tomia-dirantau.blogspot.com/

 

Pakde Azemi

CALON ORANG KAYA yang PENGEN DI NASEHATI

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s