Pernahkah Kita Merenungkan……………….


ilustrasi  pinjam poto kiriman mas Octovus Budi Kristiopus

ilustrasi pinjam poto kiriman mas Octovus Budi Kristiopus

Terinspirasi Foto mas Octovus Budi Kristiopus soal cinta dalam balutan iba

kadang yang kita rencanakan harus kita korbankan, karena rasa itu datang tak semestinya, kalimat pas banget dengan kejadian kejadiaan yang kita alami, sebab penentu terakhirnya adalah Gusti Allah, namun kita harus dapat menerima seneng atau ngga, suka atau tidak, sukuri dan terima dengann IKHLAS.

Namanya Hanibal(nama samaran) mahasiswa Seni Rupa IKIP Surabaya, kenal dengan Henibal karena sama sama jadi anggota Senat mahasiswa, apalagi kantor senat FKBS dan FKIS satu kantor (kotak) , sehingga setiap hari saya bertemu dengan Hanibal. Sebagai mahasiswa Seni Rupa, Hanibal selalu melukis, setelah selesai dijual di Sari Agung (toko buku di jalan Tunjungan), dapat duit langsung makan makan di jalan Kedungdoro (seapoot).

Setelah kami sama sama LULUS, tak pernah jumpa lagi, Hanibal kerja dimana saya ga tahu, saya tetep di surabaya ngajar  nyambi buka lapak di Embong Malang. Saat sepi pembeli Hanibal  muncul dengan Mobil Jeep CJ-7 yang masih kinyis kinyis, menolak untuk turun dari mobil, katanya tergesa gesa, saya hampiri, didalam mobil ada gadis Ayu yang senyum senyum, saya kenalkan diri nama saya Azmi, dia juga ngenalkan diri, LIA, ohhh Elok bener Hanibal mendapatkan calon isteri, setelah saling mengenalkan diri, Hanibal cabut dan pergi.

Pagi pagi saat Lapak baru buka, Hanibal muncul, kali ini sendirian tanpa didampingi LIA calon isterinya, saat itu Hanibal Cerita tentang LIA. Azmi : “kata Hanibal”, gadis itu bukan calon aku, tetapi dia adalah isteri aku, menurut kamu gimana?, cakep ngga’?, “wahhh Elok sekali”, : kataku sambil canda. Kemudian Hanibal bercerita soal isterinya, “azmi” : katanya mengawali cerita : “kamu tahu ngga ?, kalau isteriku tidak sama dengan siteri isteri lainnya”, “tentu saja” : jawabku, “bukan begitu” : katanya, isteriku itu manusia yang kurang sempurna menurut ukuran manusia, namun hatinya kuar biasa, lhoo kok begitiu ?, “isteriku itu ga bisa jalan”, kakinya lumpiuh sejak lahir, bukan kena polio, tetapi sudah bawaan lahir, dia ngesot kalau jalan, karena cacat bawaan tersebut orang tuanya tak menyekolahkan dia di sekolah formal, dia hanya dipanggilkan guru pripat yang mengajari dia sampai bisa baca, tulis, untungnya hobbinya membaca buku dan koran, mendengarkan berita radio maupun TePe, sehingga dia pandai bukan karena sekolah tetapi seneng membaca, dia suka menulis cerita, melukis, juga membuat puisi, cerita2 yang dibukukan sangat menarik untuk dibaca, puisinya juga bagus2, lukisannya juga bagus sekali.

Bener kata orang Witing tresno jalaran Soko Kulino, saat itu aku dapat order membuat taman (gardening) di rumahnya, rumah seorang perwira ABRI – TNI-AD saat itu berpangkat melati 3, menurutku sudah tinggi untuk ukuran masyarakat Surabaya, rumahnya Gede berada di Darma Husada Indah Timur, rumah semegah itu hanya dihuni oleh 1 perempuan cacat dibantu oleh seorang pembantu yang sudah berumur berserta dengan suaminya. Mereka itulah yuang setia membantu isteriku saat saat memerlukan sesuatu, sedangkan orang tuanya berada di rumah lain bersama dengan keluarga besarnya.

Setiap hari saya datang ke rumah besar itu dan setiap hari saya selalu bersenda gurau dengan isteriku (LIA), dia selalu menolong aku saat aku butuh sesuatu, misalnya air, dia bawakan dengan cara mendorong dorong timba ke dekat aku, sebenarnya saya kasihan, tetapi dia senanag rupanya kalau bisa membantu orang lain, LIA termasuk tipe orang yang mandiri, dia ga suka ditolong, dia minta tolong apabila dia sudah tak mampu melakukan sendiri. Lama lama hatiku sudah berpindah ke LIA, sebenarnya saya sudah punya pacar, namun makin hari ngobrol dengan LIA hatiku makin merasa kasihan, saya merasakan siapa yang mau dengan gadis ngesot seperti LIA, padahal dia adalah gadis pandai, walaupun tak punya ijazah, lukisannya laku aku jualkan, puisinya juga sering saya kirimkan ke koran juga termuat dan dapat duit, cuman crita crita yang dibuat saya kirimkan ke redaksi tak pernah dapat jawaban.

Hari pertama aku kencan dengan LIA, saat itu bapaknya mengunjungi hasil kerjaku, rupanya puas dengan pekerjaanku, bapaknya bilang kalau pekerjaanku, akan dilanjutkan untuk merenopasi seluruh ruangan untuk diberi relief relief yang indah buatanku, waah ini makin lama aku harus berada di rumah ini, kataku dalam hati. Saat duduk nyantai dengan bapaknya saya tanya, soal LIA, rupanya bapaknya agak tersinggung, mungkin saya dianggap pengen mengeruk hartanya dengan memanfaatkan LIA, marahnya Bapak saat itu seolah pekerjaan akan disudahi, Alhamdulillah LIA datang, mengatakan kalau bapak menyudahi pekerjaan Mas Hanibal berarti bapak akan membuat LIA kesepihan, kesemptan itulah saya manfaatkan untuk menyakinkan bapak, dengan berkata : Bapak, saya ini sudah punya pekerjaan tetap, saya sudah punya penghasilan, saya mendekati LIA, bukan karena harta Bapak, tetapi saya suka LIA karena perasaan saya sebagai pelukis sama dengan LIA, saya pengen karya LIA dapat dinikmamti orang lain, sehingga motipasi LIA untuk berkembang terlampiaskan, apabila bapak mengijinkan, hari ini saya akan mengajak LIA jalan jalan keluar rumah, shopping di Mall, makan di restorant, saya hanya pengen mengembalikan kepercayaan diri LIA, bahwa dirinya tidak sendiri, masih ada orang lain yang memperhatikan dirinya, sayalah orangnya. Alhamdulillah bapak, tak dapat menolak permintaan saya saat itu.

Bapaknya meminjamkan mobilnya untuk kami berdua, awalnya bapaknya menawarkan jasa mbok Nah untuk menemani, agar tak menemui kesulitan, namun semuaanya saya tolak, karena saya pengen berdiua saja dengan LIA.  Kursi roda saya dorong keluar rumah menuju garasi, LIA nampak seneng, sedangkan bapaknya nampak berkaca kaca, antara percaya dan tidak, tapi saya meyakinkan, bahwa saya akan menjaga LIA, seperti saya menjaga adik saya. Mobil bergerak keluar rumah, mungkin itu adalah hari pertama LIA keliling kota, nampak seneng sekali tanya ini tanya itu, saya jawab semua, makin tertarik dengaan gedung gedung tinggi, saya belokkan ke TP (Tunjungan Plasa), saat itu masih sedikit, pusat perbelanjaan mewah, dari paprkiran Mobil, saya dorong LIA dengan kursi rodanya, menuju pusat perbelanjaan megah itu, banyak mata yang memperhatikan, rupanya LIA tak menghiraukan semua, dirinya merasa terpenuhi sebagai anak gaids remaja, saat memasuki HERO Super market, LIA pengen beli KAOS, saya ambilkan, pengen beli camilan saya ambilkan, pengen beli beli lainnya saya ambilkan, uang yang dia bawa sangat banyak, karena bapaknya memang menyiapkan dompet untuk dirinya saat pergi tadi. Puas dengan belanja, pulangnya mampir ke restorant yang lumayan terkenal saat itu di jalan Kertajaya “HANDAYANI RESTORANT”, lahap sekali LIA makan saya temeni, jam 22, baru nyampek rumah, bapaknya menyambut dengan suka cita, pengen mendengarkan anaknya bercerita tentang TP dan HERO dari mulut LIA.

Intensitas saya keluar rumah bersama LIA, makin sering, lebih sering keluar rumah dibandingkan dengan pekerjaan yang harus aku lakukan (gardening) membuat reliaf. Makin lama hati ini makin merasakan kasihan kalau saya tinggalkan gadis ini, itulah awal mula benih benih untuk sepakat menikah dengan LIA. Tak kuat makin lama, perasaan ini makin menyesakkan hatiku, maka aku utarakan niatku untuk menikahi LIA, semua terserah bapak, saya tulus dan tak main main, saya tidak mengaharapkan apa apa dari bapak, LIA bisa saya bawa pulang ke rumah saya, lama bapaknya berpikir, beberapa hari, beberapa minggu kemudian bapaknya memanggil saya, untuk bertanya lagi tentang niatku menikahi LIA, tentu saya sambut dengan kata “SIAP” pak saya selalu menunggu jawaban dari bapak agar berkata “IYA – Oke”.

Sejak saat itu kami menikah, dengan LIA di kantor Urusan agama, tanpa rame rame, 2 tahun kemudian kami punya momongan yang cantik, sehat dan cerdas, LIA nampak seneng dengan putrinya, dia kasih ASI, dia didik putrinya sendiri, diajari melukis (corat coret), setiap hari diperkenalkan dengan gambar gambar, sehingga putriku masih 1 tahun sudah mengenal aksara, mengenal warna, bisa baca tulis, semoga aku dikaruniahi anak yang ke 2 ke 3 ke 4 sampai yang ke 12 akakakakakak sambil ngakak Hanibal saat itu. Kenyang dengan cerita Hanibal kemudian Pamit Pulang, sayangnya saya lupa menanyakan dimana rumahnya, sehingga kami kehilangan Hanibal untuk yang kedua kalinya. Hanibal hanibal kau datang seperti jailangkung, datang tak diundang pergi tak diantar.

Kesimpulan :

  1. Bener kata orang : rejeki, Jodoh dan mati itu urusan gusti Allah, manusia tak mampu berbuat banyak kalau gusti Allah sudah katakan : KUN FAYAKUN”, jadilah jodohmu dengan LIA yaaa mau apa
  2. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino itu juga ada benarnya, seperti buku yang pernah aku baca, kalau ada lelaki dan perempuan berduaan yang ketiga adalah SETAN, nah kulino kalo ga diurus bisa SETAN yang NGURUS.
  3. Jangan melihat kekurangan seseorang, karena dibalik kekurangan itu kadang kita ga tahu ada potensi yang besar terpendam di dalamnya.
  4. Untuk yang memiliki anak atau cucu atau sodara yang memiliki keterbatasan seperti LIA, berikan kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan dunia luar, agar potensinya dapat terasah, ide iodenya dapat muncul, sehingga punya sifat mandiri.

Untuk mas Octovus Budi Kristopus, saya ucapkan terima kasih tag fotonya saat itu, sehingga timbul inspirasi mebuaat note ini, semoga cerita ini ada manfaatnya bagi meraka yang memiliki anak dengan keterbatasan untuk diberikan motipasi agar dapat hidup normal.


Pakde Azemi

Persiapan beraktipitas ke Bangkalan

Nyeruput Teh ijo dan Pia kacang ijo maknyuz

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s