catatan David Muhammad : Tuntunan Ibadah Kurban


Assalammu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh

Bismillaahirrahmaanirrahiim

 

Maha Suci Allah subhanahu wa ta’ala yang telah berfirman:

“Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah”. [Al-Qur’an Surat Al-Kautsar (108) : 2].

 

Berbahagialah saudara-saudara kita yang sedang menjalankan ibadah Haji dan Umrahnya di Baitullah. Sebagai ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, kita disyari’atkan untuk menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah (bertepatan dengan Iedul Ad’ha), dan pada hari-hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Syari’at ini diturunkan kepada al-Khalil nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam.

 

Sebagai pengingat, mari kita simak kisah Ibrahim ‘alaihissalam dan puteranya Ismail ‘alaihissalam dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia:”Hai Ibrahim,

sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”,

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”.

(QS. Ash-Shafaat (37): 102-111)

Dalam penyembelihan kurban terdapat upaya menghidupkan sunnah ini dan menyembelih sesuatu dari pemberian Allah kepada manusia sebagai ungkapan rasa syukur kepada Pemilik dan Pemberi kenikmatan. Syukur yang tertinggi adalah kemurnian ketaatan dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya.

 

 

Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan, “Al-Udhiyah (kurban), Aqiqah dan Al-Hadyu lebih utama dari shadaqah senilainya. Jika ia memiliki harta untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, maka hendaklah ia berkurban, dan memakan dari sebagian kurbannya lebih utama dari shadaqah dan Al-Hadyu di Makkah lebih baik dari bershadaqah senilainya. [Majmuu’ Al-Fataawaa (XXVI/304)]

 

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Penyembelihan di tempatnya lebih utama dari shadaqah dengan senilainya”. Beliau melanjutkan perkataanya, “oleh karenanya, seandainya ia bershadaqah dengan nilai yang berlipat ganda sebagai ganti sembelihan haji Tammatu’ ( Dam Al-Mut’ah) dan sembelihan haji Qiran (Dam Al-Qiran), maka ia tidak dapat menggantikannya. Demikian juga kurban” [Ahkaamul Udh-hiyah Wa Zakaah, hal. 14]

 

 

[1]. IBADAH KURBAN DISYARIATKAN BAGI SETIAP KELUARGA

 

Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata :

 

“Artinya : Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya.” [HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi]

Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

“Artinya : Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah)”. [Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata : majhul, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal].

 

 

Dari Atha’ bin Yasir, ia berkata, “Saya bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari, bagaimana kurban-kurban yang sekalian (para sahabat) lakukan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” Abu Ayyub menjawab, “Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang berkurban dengan satu ekor kambing atas nama dirinya dan atas nama keluarganya. Maka mereka memakannya dan memberi makan orang lain. Kemudian orang-orang bersenang-senang, sehingga jadilah mereka sebagaimana yang engkau lihat. [HR Malik, kitab Dhahaya, Bab Asy-Syirkah Fi Adh-Dhahaya dan Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah no. 2563 dan lain-lain]

 

Kurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam pernyataannya : “Sembelihan-sembelihan yang menjadi amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al-Hadyu, Al-Adhhiyah (Kurban) dan Al-Aqiqah”. Disyariatkannya kurban sudah merupakan ijma yang disepakati kaum muslimin.

 

Namun tentang hukumnya masih diperselisihkan para ulama, yang terbagi dalam beberapa pendapat.

 

Pertama : Wajib Bagi Yang Mampu

Demikian ini pendapat Abu Hanifah dan Malik. Madzhab inipun dinukil dari Rabi’ah Al-Ra’yi, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’ad dan salah satu riwayat dari Ahmad bin Hanbal. Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah. Dan Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : “Pendapat yang mewajibkan bagi orang yang mampu adalah kuat, karena banyaknya dalil yang menujukkan perhatian dan kepedulian Allah padanya”.

 

Kedua : Sunnah Atau Sunnah Muakkad Bagi Yang Mampu

Inilah pendapat jumhur ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil pernyataan Ibnu Hazm yang mengatakan : “Tidak shahih dari seorangpun dari para sahabat yang menyatakan wajibnya. Yang benar, menurut jumhur, kurban itu tidak wajib. Dan tidak ada peselisihan, jika ia merupakan salah satu syi’ar agama” [Fath al-Bari]

 

Ketiga : Fardhu Kifayah

 

Ini merupakan satu pendapat dalam madzhab Syafi’i

 

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib.

 

 

Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata : “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya”. Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

 

Adapun Rabi’ah dan Al-Auza’i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha’iy. [Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr].

 

Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pada hadits :

 

“Artinya :Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah) “.[HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i]Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata :”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

 

Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya,berkata : “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

“Artinya : Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berkurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. [Fath Al-Bari, Ibnu Hajar. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al-Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.”]

 

 

Diantara dalil yang mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

“Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah”. [Al-Qur’an Surat Al-Kautsar : 2].

 

Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung [Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)].

 

Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain dan lainnya, berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

“Artinya : Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. Berdasarkan dengan hadits :

 

“Artinya : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud].

Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dengan sanad yang hasan.

 

Jumhur ulama berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.

 

Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin untuk dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki (tidak mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits :

 

“Artinya : Orang yang tidak menyembelih dari umatnya”, dengan hadits:

 

“Artinya : Atas setiap keluarga ada kurban”.

 

 

Adapun hadits :

“Artinya : Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian”.

 

Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha’if sekali.[Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.]Wallahu’alam…

 

 

 

[2]. KURBAN DILAKUKAN PALING SEDIKIT SEEKOR KAMBING

 

Berdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata :”Onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

 

Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.[ Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.]

 

Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. [Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)]

 

Dan tidak ada kurban untuk janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)

 

 

 

[3]. WAKTUNYA SETELAH MELAKSANAKAN SHALAT IEDUL KURBAN (IEDUL AD’HA)

 

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

“Artinya : Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dengan bismillah”. [HR. Bukhari dan Muslim]

 

Dan di dalam shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

“Artinya : Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi”. [HR. Bukhari dan Muslim, ini merupakan potongan hadist yang panjang]

 

Berkata Ibnul Qayyim :”Dan tidak ada pendapat seseorang dengan adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yang disembelihnya pada hari Ied, lalu beliau berkata :

 

“Artinya : Apakah (dilakukan) sebelum shalat ? Dia menjawab : Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban) “. [Al-Hadits].

 

Ibnu Qayyim berkata : “Hadits ini shahih dan jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tidak dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yang kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) dan tidak diperbolehkan (berpendapat) yang lainnya. Dan pada riwayat tersebut terdapat penjelasan bahwa yang dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam”.

 

 

[4]. AKHIR WAKTUNYA ADALAH DI AKHIR HARI-HARI TASYRIQ

 

Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

 

“Artinya : Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan”. [Dikeluarkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi. Dan terdapat jalan lain yang menguatkan antara satu dengan riwayat yang lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir dan lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dalam perkara ini adalah ma’ruf].

 

Di dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar :

 

“Artinya : Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha”. [Riwayat Imam Malik, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar].

 

Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah dan madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari-hari tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yang menunjukan hal tersebut. [Perselisihan ulama dalam hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.]

 

[5]. SEMBELIHAN YANG TERBAIK ADALAH YANG PALING GEMUK

 

Berdasarkan hadits Abu Rafi’:

 

“Artinya : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yang gemuk “ [HR. Ahmad dan lainnya dengan sanad Hasan, dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’].

 

Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata :

 

“Artinya : Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah dan kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya)”. [HR. Bukhari]

 

Apabila dikhususkan berqurban dengan domba berdasarkan zhahir hadits, dan bila meliputi yang lainnya, maka termasuk yang dikebiri. Tetapi yang utama tidaklah dikhususkan dengan hewan yang dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yang dikebiri tidak menunjukkan lebih afdhal dari yang lainnya, namun yang ditujuk pada riwayat tersebut bahwa berkurban dengan hewan yang dikebiri adalah boleh. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya terdapat dalil bolehnya mengebiri dalam berkurban, dan sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dengan menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).

 

 

[6]. TIDAK MENCUKUPI KURBAN ADA YANG DIBAWAH AL-JADZ’U [KAMBING YANG BERUMUR KURANG DARI SATU TAHUN]. 

 

Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yang berumur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dalam penetuannya. Dikatakan : berumur 6 bulan dan ada yang berkata 8 bulan dan dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yang dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yang berumur setahun penuh. Ini yang shahih menurut madzhab kami. Ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa dan lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pada tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh dan onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dalam An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yang berbeda dengan Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa.

 

 

Di dalam shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata.

 

“Artinya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hewan kurban pada para shahabatnya, dan ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya : Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab : Berkurbanlah dengannya”. [HR. Bukhari dan Muslim] 

Jumhur ulama berpendapat bahwa boleh berkurban dengan kambing Jadz’u. Dan barang siapa yang beranggapan bahwa kambing tidak memenuhi kecuali untuk satu atau tiga orang saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yang lain. Al-Hadyu adalah apa yang disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).

 

 

 

[7]. DAN TIDAK MENCUKUPI SELAIN DARI MA’ZUN [SEJENIS KAMBING YANG KURANG DUA TAHUN]

 

Berdasarkan hadits Abu Burdah dalam shahihain dan lainnya bahwa dia berkata :

 

“Artinya : Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u. Lalu beliau berkata : Sembelihlah, dan tidak boleh untuk selainmu”. [HR. Bukhari dan Muslim]

 

Adapun yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yang tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab :

 

“Artinya : Berkurbanlah engkau dengan ini”.

 

Al-‘Atud adalah anak ma’az yang umurnya sampai setahun.

 

Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa ‘Uqbah berkata :”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata :

 

“Artinya : Berkurbanlah engkau dengannya dan tidak ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau”. [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunnan Al-Kubra dan sanadnya shahih].

 

Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atud adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)

Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tidak mencukupi Jadz’u dari ma’az. [Lihat Syarh Muslim An-Nawawi]

 

Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan :”Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada onta, sapi dan ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka dan tidak boleh hewan yang terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata : “Apabila yang terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh”. [Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh]

 

 

[8]. HEWAN KURBAN TIDAK BUTA SEBELAH, SAKIT, PINCANG DAN KURUS, HILANG SETENGAH TANDUK ATAU TELINGANYA.

 

Berdasarkan hadits Al-Barra  dalam riwayat Ahmad dan Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

“Artinya : Empat yang tidak diperbolehkan dalam berqurban. (hewan qurban) buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas bengkoknya dan tidak sanggup berjalan, dan yang tidak mempunyai lemak (kurus)”. [Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil. Dalam riwayat lain dengan lafazh-lafazh Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah].

 

[9]. BERSEDEKAH DARI UDHIYAH, MEMAKAN DAN MENYIMPAN DAGINGNYA.

 

Menyembelih binatang kurban merupakan ibadah agung yang dilakukan umat Islam setiap tahun pada hari raya kurban.

 

Orang yang menyembelih binatang kurban, boleh memanfaatkannya untuk memakan sebagian daging darinya, menshadaqahkan sebagian darinya kepada orang-orang miskin, menyimpan sebagian dagingnya, dan memanfaatkan yang dapat dimanfaatkan, misalnya ; kulitnya untuk qirbah (wadah air) dan sebagainya.

 

Dalil hal-hal di atas adalah hadits-hadits dibawah ini.

 

“Artinya : Dari Salamah bin Al-Akwa Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa di antara kamu menyembelih kurban, maka janganlah ada daging kurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga”. Tatkala pada tahun berikutnya, para sahabat bertanya : “Wahai, Rasulullah! Apakah kita akan melakukan sebagaimana yang telah kita lakukan pada tahun lalu?” Beliau menjawab : “Makanlah, berilah makan, dan simpanlah,. Karena sesungguhnya tahun yang lalu, menusia tertimpa kesusahan (paceklik), maka aku menghendaki agar kamu menolong (mereka) padanya (kesusahan itu). [HR Bukhari no. 569, Muslim, no, 1974]

 

Perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Makanlah, berilah makan, dan simpanlah’, bukan menunjukkan kewajiban, tetapi menunjukkan kebolehan. Karena perintah ini datangnya setelah larangan, sehingga hukumnya kembali kepada sebelumnya. [Lihat juga Fathul Bari, penjelasan hadits no. 5.569]

 

Dari hadits ini kita mengetahui, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang memakan daging kurban lebih dari tiga hari. Hal itu agar umat Islam pada waktu itu menshadaqahkan kelebihan daging kurban yang ada. Namun larangan itu kemudian dihapuskan. Dalam hadits lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menghapuskan larangan tersebut dan menyebutkan sebabnya. Beliau bersabda.

 

“Artinya ; Dahulu aku melarang kamu dari daging kurban lebih dari tiga hari, agar orang yang memiliki kecukupan memberikan keleluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun (sekarang), makanlah semau kamu, berilah makan, dan simpanlah” [HR Tirmidzi no. 1510, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

 

Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi rahimahullah berkata. :“ Pengamalan hadits ini dilakukan oleh ulama dari kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka”.

 

Dalam hadits lain disebutkan.

 

“Artinya : Dari Abdullah bin Waqid, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan daging kurban setelah tiga hari. Abdullah bin Abu Bakar berkata : Kemudian aku sebutkan hal itu kepda Amrah. Dia berkata, “dia (Abdullah bin Waqid) benar”. Aku telah mendengar Aisyah Radhiyallahu anha mengatakan, orang-orang Badui datang waktu Idul Adh-ha pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, ‘Simpanlah (sembelihan kurban) selama tiga hari, kemudian shadaqahkanlah sisanya’. Setelah itu (yaitu pada tahun berikutnya, -pent) para sahabat mengatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang membuat qirbah-qirbah (wadah air yang terbuat dari kulit – pen) dari binatang-binatang kurban mereka, dan mereka melelehkan (membuang) lemak darinya”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Memangnya kenapa?” Mereka menjawab, “Anda telah melarang memakan daging kurban setelah tiga hari”. Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya aku melarang kamu hanyalah karena sekelompok orang yang datang (yang membutuhkan shadaqah daging, -pent). Namun (sekarang) makanlah, simpanlah, dan bershadaqahlah’ [HR Muslim no. 1971]

 

Banyak ulama menyatakan, orang yang menyembelih kurban disunnahkan bershadaqah dengan sepertiganya, memberi makan dengan sepertiganya, dan dia bersama keluarganya memakan sepertiganya. Namun riwayat-riwayat yang berkaitan dengan ini lemah. Sehingga hal ini diserahkan kepada orang yang berkurban. Seandainya dishadaqahkan seluruhnya, hal itu dibolehkan. Wallahu a’lam [Shahih Fiqhis Sunnah 2/378, karya Abu Malik Kamal bin As-Syyid Salim]

 

[10]. MENYEMBELIH DI MUSHALLA [TANAH LAPANG YANG DIGUNAKAN UNTUK SHALAT IED] LEBIH UTAMA

 

Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

“Artinya : Bahwa beliau menyembelih dan berkurban di Mushala”. [HR. Bukhari]

[11]. BAGI YANG MEMILIKI KURBAN, DIANJURKAN JANGAN MEMOTONG RAMBUT DAN KUKUNYA SETELAH MASUKNYA BULAN DZULHIJJAH HINGGA DIA BERKURBAN

 

Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

“Artinya : Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut dan kukunya”.

 

Dan didalam lafazh Muslim dan lainnya.

 

“Artinya : Barangsiapa yang punya sembelihan untuk disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) dari rambut dan kukunya hingga dia berkurban”. [HR. Muslim]

 

Dan para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut dan kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pada waktu udhiyah. Imam Syafi’i dan murid-muridnya berkata : “Makruh tanzih”. Al-Mahdi menukil dalam kitab Al-Bahr dari Syafi’i dan selainnya, bahwa meninggalkan mencukur dan memendekkan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah : Tidak Makruh. [Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani]

 

Wallahu a’lam

 

Demikianlah, sebuah catatan mengenai ibadah kurban. Saya berharap, bila kita  memiliki kemampuan dan  rizki maka sepatutnyalah kita menyembelih hewan kurban sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagai amal shalih yang lebih utama dan lebih besar pahalanya daripada sedekah biasa, dan sebagai upaya menegakkan syi’ar-syiar agama Allah yang kita cintai dan dirahmati-Nya ini.

 

Billahi taufiq wal hidayah.

Wasalammu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

 

Semoga Bermanfaat…

 

Note:

Disalin dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, ditulis kembali oleh Shidiq Hasan Khan dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M. Beberapa keterangan ditambahkan dari sumber-sumber lain.

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s