Kenapa 10 Nopember “LOYOH”


Tahun 1970 saat memperingati ¼ abad 10 Nopember, surabaya bagai dilanda perang beneran, setiap tikungan dipasangi rintangan, pemuda pemuda suka rela ndandani diri bagai pejuang beneran, setiap yang lewat mesti pakai pekik MERDEKAAAAA.

 

Setengah abad Indonesia merdeka, negera ini setiap malam bagaikan terbakar, bagaimana tidak, setiap rumah menyalakan PENJOR yang terpasang lampu lampu kelap kelip, bener bener semarak saat itu, orang masih memiliki kepedulian untuk memiliki rasa kebangsaan.

 

Sejak Repormasi 1998, bangsa ini seharusnya punya rasa Kebangsaan yang tinggi, karena para reporman reporman selalu berkata : kita MERDEKA, kita MERDEAKA kita BEBAS dari kungkungan Rezim Orde Baru.

Secara Akal seharusnya kita ini sudah menikmati hasil repormasi yang sangat diagung agungkan tersebut, tetapi bangsa ini, bila kita mau jujur sudah beratraksi akrobat, jungkir balik, semua pengen jadi pemimpin, semua pengen kuasa, kata kata individu dianggap benar, sedangkan institusi dilemahkan (TNI, POLISI, Kejaksaan, Kehakiman, IDI, DIKNAS, PEMDA dan lain lain), padahal melemahkan institusi sama dengan kita melemahkan diri sendiri).

 

Rasa kebangsaan dengan “hanya” menghormati simbol simbol negara saja kita sudah tidak mau, anehnya kalau negara ini dijajah bangsa asing juga ga mau, kemudian motipasi mereka itu apa ?

Bendera Merah Putih, sebagai simbol bangsa Indonesia, sekarang ini dikibarkan seenak pemiliknya, ada yang dikibarkan di lantai dua rumah susun, ada yang dikibarkan dengan posisi miring, ada memakai tiang dari kayu persegi, yang paling fatal ada yang pakai gagang sapu, subhanallah, sungguh negara besar ini tak memiliki rakyat yang selalu memuja kebesarannya.

 

Kata kata MERDEKA sudah jarang terdengar, kalau terdengarpun hanya saat menjelang kampanye PEMILU atau PILPRES itupun dijawab dengan setengah hati, kita percaya atau tidak bangsa ini sudah mulai tererosi “kecintaan pada bangsa dan negara” batin, kita punya negara, namun negara ini tak kita rawat, kita punya budaya namun budaya ini sering diambil oerang lain, kita bunya bahasa namun kita lebih seneng bahasa asing, bukan kita apriori dengan bangsa, budaya dan bahasa ASING, namun apalah gunanya bangsa, budaya dan bahasa ini kalau akhirnya bangsa ini tak peduli dengan itu semua.

 

Marilah kita mulai dari keluarga kita, lingkungan (kampung), kota hingga negara ini, semoga yang sedikit ini dapat menggugah hati kita untuk selalu menghormati simbol simbol negara kita.

 

 

MERDEKAAAAAA

 

Pakde Azemi

Nyeruput Kopi dan Pisang Goreng

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s