Masih terasa Sesak Napas karena Abu Merapi………….


Kemalangan tak pernah dapat diprediksi dan tak pernah bisa dikompromi, demikian apabila gusti Allah pengen memberikan cobaan pada manusia, gusti Allah selalu memilih siapa dengan apa cobaan yang akan diberikan, karena sifat rahman dan rohimNYA Gusti Allah.

Firman Allah surat Al-Hadiid ayat 22: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”

Dan sungguh pasti kami akan memberi cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlahberita gembira kepada orang-orang yang bersabar (QS Al-Baqarah [2]: 155).


Jelas sudah ayat diatas memberikan pada kita sinyal siapa dan diberi apa, orang kota cepet ngersulo diberi banjir sudah ngamug ngamug, bagaimana kalau kakinya diambil, matanya dibutakan, telinganya ditulikan, pasti mereka tak kuat menerimanya, sungguh Gusti Allah tak akan salah pilih dalam menentukan takdir yang akan diberikan kepada manusia.

Kisah ini hanya piktip belaka terinspirasi dari kejadian ganasnya WEDUS GEMBEL gunung merapi di Jawa Tengah, karenanya apabila ada nama dan lembaga yang disebut itu hanya kebetulan belaka, agar memudahkan mereplekasikan jalan cerita.

Rabu 27 Oktober 2007 pukul 15.31 – Hiruk pikuk tim relawan seliwar seliwer di desa untuk meyakinkan masyarakat Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, tempat tinggal mbah marijan bermukim, agar keluar dari dukuh mereka, karena merapi sudah menunjukkan tanda tanda membahayakan, bunyi ketongan, bunyi sirine mobil mraung raung memberikan isarat tanda bahaya AWAS. Tim relawan sibuk mengangkuti para lansia yang mau diepakuasi ke tempat yang aman, setelah penuh mobil bak terbuka, langsung meninggalkan desa umbulharjo dan sekitarnya, mobil pickup dan truck satpol PP ditrack dengan kecepatan tinggi karena awan hitam sudah mulai menyelimuti lereng dan sekitarnya, hujan abu sudah mulai terasa, mereka dengan pakaian seadanya tanpa masker tentu saja rawan menghirup abu vulkanik yang akan berdampak pada pernapasan mereka, betul saja saat mereka nyampai di lokasi pengungsian, para lansia dan anak banyak yang batuk batuk, sehingga tim medis perlu merujuk meraka ke Rumah Sakit Daerah.

Mas Sugeng dan Mbak Lastri dengan anak mereka yang masih balita PIPIN (7tahun) dan UPIL (2 tahun) belum beranjak dari desa umbulharjo, alasan meraka, karena ternak mereka belum dipapankan (diletakkan) pada tempat yang aman dan disediakan makanan yang cukup saat ditinggal ngungsi. Tim evakuasi tinggal sedikit yang masih tersisa di atas lereng tersebut, mereka (relawan) yang masih bertahan karena mereka merasakan betapa bahayanya masyarakat yang tidak mau dievakuasi secepatnya, waktu makin mendekati pukul 16.38, saat itu tim relawan sudah sepakat untuk turun meninggalkan meraka, karena mereka gagal meyakinkan masyarakat yang masih bertahan, rata rata mereka masih eman (sayang) ternak yang mereka miliki.

Pukul 16.52 mbak Lastri, memaksa Mas Sugeng untuk segera meninggalkan desa, karena abu sudah mulai pekat, jarak pandang sudah mulai terganggu. Mas Sugeng khawatir juga akhirnya mereka berempat, meninggalkan desa dengan mengendarai sepeda motor yang mereka punya, PIPIN di depan kemudian mas sugeng terus diapit UPIL belakang sendiri mbak Lastri, motor di jalankan dengan kecepatan tinggi padahal jarak pandang saat itu bener bener sudah jelek sekali, akibatnya motor nabrak pembatas jalan, motor roboh mereka berempat berjatuhan, PIPIN kepalanya membentur pembatas jalan, hingga berdarah darah, tanpa pikir lagi Mas Sugeng, mengangkat anaknya kembali naek motor, PIPIN yang masih berdarah darah itu harus mempertahankan dengan menahan sakit, hingga sampai tujuan (tempat penampungan). Rupanya Mas Sugeng dan mbak Lasri lupa kalau mereka juga membawa UPIL yang masih Balita dengan perlengkapaan yang seadanya (tanpa masker).

Sampai di tempat penampungan, mereka sudah seperti orang yang baru masuk lumpur, putih semua, mereka diterima tim relawan dan langsung di rujuk ke dokter setempat, namun dokter langsung membawa mereka ke Rumah Sakit Daerah, sampai di RSUD mereka langsung di bawa ke UGD untuk diberikan pertolongan darurat, PIPIN diberikan bantuan pernapasan dipasang alat juga diberikan penangangan pada kepala yang terbentur pembatas jalan, rupanya benturan kepala PIPIN dengan badan jalan sangat keras akibatnya kepala PIPIN harus dijahit beberapa Jahitan, disamping itu gangguan pernapasan juga membuat PIPIN harus dilakukan perawatan khusus. Sedangkan UPIL bbirnya sudah membiru, kata dokter yang bertugas : “akibat paru parunya terlalu banyak menghirup abu vulkanik, UPIL sudah tak dapat diselamatkan lagi”.

Mbak lastri menjerit Histeris : UPIL….. UPIL….. UPIl ihik ihik ihiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkk, maapkan bapak dan ibumu yaaa, tadi ga nurut dengan tim epakuasi, bapakmu lebih mementingkan pedet karo weduse, akibatnya kamu dan mas kamu PIPIN menghirup abu pulkanik, ihik ihik ihik, UPIL UPIL. Ditempat lain Mas Sugeng, menyesali perbuatan salah yang tlah dilakukan, mereka pikir masih banyak yang belum turun, mereka masih percaya bahwa penggawa merapi juga belum turun, Mas Sugeng hanya bisa terisak isak saja, tanpa bisa diajak bicara oleh kerabatnya, banyak yang akan bertanya, namun Mas Sugeng tak bersedia untuk menjawabnya. Dari balik pintu kaca terlihat PIPIN tergolek di tempat tidur rumah sakit, dengan peralatan seperti selang infus ada alat bantu pernapasan.

Dari penyesalannya Mas Sugeng berdoa : kira kira begini doa yang keluar dari hatinya :

Ya Allah, aku terlalu cinta pada ternak daripada dengan nyawa anakku, maka ampunilah aku

Ya Allah, sesungguhnya aku termasuk hambamu yang tak mau mendengar orang orang yang berilmu, berilah aku ilmu agar aku mengerti yang sebelumnya tak aku ketahui.

ya Rahman ya Rahim, apabila ini adalah ujian yang kau berikan pada keluarga kami, maka kuatkanlah kami dalam menjalani, dengan kasih sayang pada anak dan isteriku.

Ya Allah, Bencana yang datang dariMU bukan merupakan azab, karena KAU maha Rahman dan Rahim, namun kami belum mampu untuk menghibur hati ini.

Ya Robbi, UPIL anakku, telah kau panggil untuk mengahadapMU, pertemukanlah kami kelak di Yaumil Kiyamah

Ya Mutakabbir dzat memiliki Kebesaran, Ya Kabiir Yang Maha Besar, dengan kebesaranMU semua dapat berubah, dari ada menjadi tak ada, dari baik menjadi rusak, dari kokoh menjadi lumer, yaa Robbi kami percaya itu takdirMU

Ya Allah, ya Hayy dzat Yang Maha Hidup, ya Qayyuum dzat Yang Maha Mandiri, kekuasaanMU tak ada yang memmpu mencegah, kami yakin dibalik takdirmu ada hikmah yang belum ketahui, maka kuatkanlah hati kami dengan kesabaran…

Amin ya Robbal ‘alamin

Kesimpulan :
Ternak sapi kata orang jawa itu “ROJOKOYO” (sarana mendatangkan rejeki), karena kecintaan orang Jawa utamanya pada ternak sangat bisa dimengerti. Karena itu adalah satu satunya harta yang paling berharga
Perlu merubah cara pikir, kecintaan pada ternak, melebihi nyawa mereka.
Punggawa negeri ini, harus secara rutin memberikan cara cara penanggulangan bencana, baik secara paksa atau persuasip, karena ini menyangkut nyawa banyak orang
Kalau dulu DOLOG dan DEPSOS adalah garda depan untuk menanggulangi bencana, utama masalah distribusi makanan, mengapa sekarang tidak secepat dahulu dalam menggulangi pengungsi padahal alat alat sudah begitu bagus (canggih)
Bangsa ini perlu OLAH ROSO dengan olah roso kita mampu memiliki EMPATI, bukan hanya kita pandai OLAH RAGA yang hanya akan menimbulkan kekuatan fisik, sedangkan kekuatan psikis belum tentu apabila kita tidak mulai BerOLAH ROSO.

Ada catatan yang saya temukan tentang perlunya kita punya empati dengan :

Tabarru` berasal dari kata tabarra`a- yatabarra`u – tabarru`an, artinya sumbangan, hibah, dana kebajikan atauderma. Orang yang memberi sumbangan disebut mutabarri`(dermawan)[1]. Tabarru` (hibah) merupakan pemberian sukarela seseorang kepada orang lain, tanpa ganti rugi, yang mengakibatkan berpindahnya pemilikan harta itu dari pemberi kepada orang yang diberi.[2]

Jumhur ulama mendefinisikan tabarru` (hibah/pemberian) dengan: “Akad yang mengakibatkan pemilikan harta, tanpa ganti rugi, yang dilakukan seseorang dalam keadaan hidup kepada orang lain secara sukarela[3]

Niat tabarru` (dana kebajikan) dalam akad asuransi syariah adalah alternatif uang sah yang dibenarkan oleh syara` dalam melepaskan diri dari praktek gharar yang diharamkan oleh Allah SWT. Dalam al-Quran katatabarru` tidak ditemukan akan tetapi tabarru` dalam artian dana kebajikan dari kata al-birr (kebajikan) dapat ditemukan misalnya dalam al-Quran surat al-Baqarah:177 sebagai berikut:

”Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan ) hamba sahaya……dan seterusnya”

Tabarru` dalam makna hibah atau pemberian, dapat kita lihat dalam firman Allah surat an-Nisa` dan hadits nabi berikut ini:

“…Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu…”(QS.an Nisa` 4:4)

BAGAIMANA dengan ANDA ?

Semoga yang sedikit ini bermanfaat

Pakde Azemi

Mikiri Wong Cilik !, wong awake dewe Sik Cilik !

Jangan sering sering kita selalu Ngeles !

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s