Tak Ingin IQ Anak Merosot, Jangan Kasari Mereka


dari note FB : oleh Putra Juragan pada 24 November 2010 jam 9:09

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sebagai manusia kadang lupa mengontrol emosi. Berbagai masalah yang dihadapi dan belum lagi energi yang habis ketika mengurus rumah tangga seringkali membuat orang tua lupa menjaga kendali.

 

 

Pukulan ringan atau kekerasan kerap terjadi ketika orang tua emosional. Walau begitu, tidak sedikit orang tua yang langsung merasa menyesal ketika telah melakukannya.

 

Universitas Tulane, Los Angeles melakukan penelitian terhadap kekerasan anak. Hasilnya, anak berusia tiga tahun yang sering mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua, cenderung bersikap lebih agresif saat berusia lima tahun. Makin sering kekerasan yang didapatkan, makin agresif pula perilakunya.

 

Anak berusia tiga tahun yang sering mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua, cenderung bersikap lebih agresif saat berusia lima tahun. Makin sering kekerasan yang didapatkan, makin agresif pula perilakunya.

 

Studi lain yang dilakukan oleh Universitas Duke, North Carolina menyatakan bahwa balita yang mengalami kekerasan berdampak memiliki ‘Intelligence Quotient’ atau IQ yang rendah. Kekerasan terhadap bayi saat masih berumur satu tahun, akan membuat anak tersebut mempunyai nilai kognitif yang lebih rendah saat mereka di usia tiga tahun dibandingkan dengan balita yang tidak mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.

Kekerasan terhadap bayi saat masih berumur satu tahun, akan membuat anak tersebut mempunyai nilai kognitif yang lebih rendah saat mereka di usia tiga tahun dibandingkan dengan balita yang tidak mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.

 

Tapi khilaf memang tidak bisa dihindari. Jika terlanjur melakukan kekerasan, maka orang tua bisa meminta maaf kepada sang anak.

 

“Jika pemukulan terjadi secara spontan, orang tua harus menjelaskan secara spesifik dan dengan lembut mengapa mereka melakukan hal tersebut. Mereka juga harus meminta maaf kepada anak mereka karena telah kehilangan kendali,” menurut American Academy of Pediatrics, seperti yang dikutip dari sheknows.

 

Bila anda jengkel dengan kelakuan anak, jangan sampai anda menimbulkan rasa takut atau menggunakan tehnik manipulatif. Mungkin hal tersebut akan berhasil hanya untuk jangka pendek tapi efek positifnya tidak akan bertahan lama.

Sebaiknya anda jangan memaksa dan menghukum anak, bila mereka melakukan suatu pekerjaan yang tidak anda sukai. Kendati anak tampaknya menuruti perintah anda, keinginannya untuk mencoba atau berusaha akan hilang begitu anda lenyap dari pandangannya.

 

Jangan pernah membandingkan anak dengan anak lainnya, karena justru akan membuat dirinya merasa pecundang bila tidak bisa mencapai prestasi dengan standar absolut. Hal ini juga tidak baik untuk hubungan antara anda dan anak.

 

Jika anda ingin menjelaskan atau menguliahinya dengan suara yang tidak tinggi, bagi anak tetap terdengar seperti bentakan sehingga mereka akan berpikir bahwa anda tidak sayang dengannya bila mengalami kegagalan. Hal tersebut akan membuat anak tidak akan mendengarkan apa yang anda katakan.

Jangan mengkritik anak karena justru akan membuat tekanan karena telah melakukan kesalahan yang kemungkinan sudah disadarinya. Tetapi kritikan ini justru tidak akan membantu anak untuk belajar mengatahui bagaimana mengerjakan sesuatu dengan benar. Sehingga anak akan mengulangi kembali kesalahannya.

 

suaramedia.com

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s