MIMPI WAWANCARAI NGARSO DALEM


poto saat plesiran di Jogya

poto saat plesiran di Jogya

Gonjang ganjing JOGYA, membuat  semua pelaku sejarah marah, pemimpin negara mulai putus asah, sebenarnya kalau mau jujur, hanya akibat terselip kata dari Pak EsBeYe menyebut kata  “monarki” , entah itu tulus atau memang untuk meluluskan RUUK di DPR sebagai tester (encip encip) untuk masyarakat Jogya atau Anggota Dewan yang terhormat, bagaimana reaksinya terhadap ungkapan pendapat Pak EsBeYe mengenai Keistimewaan Jogya itu sendiri.

 

Senin 13 Desember 2010 DPRD DI Yogya, mengadakan Sidang Paripurna terbuka yang isinya mengenai pandangan Fraksi Fraksi di DPRD DI Yogya, Hasil sementara enam fraksi menyatakan setuju dengan penetapan. Enam fraksi itu adalah PDIP, PAN, Golkar, PKD, PKB, dan Fraksi Gabungan, sedangkan F. Demokrat masih menunggu hasil RUU ini dianggap mengambang. Akibatnya banyak yang berteriak huuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.

 

Note ini tak memiliki tendensi apa apa, hanya sebuah ILUSI saya selama beberapa hari ini : melihat, memperhatikan, mendengar juga menyimak dengan seksama baik media cetak maupun media elektronik, semua jelas jelas mengupas dengan gamblang, seolah menyalahkan pemerintah yang tak mau memperhatikan aspirasi rakyat (grassroots), RUUK belum di bahas namun aroma penolakan sudah mulai panas, banyak yang menilai panasnya pembahasan tersebut akan berakhir dengan nasib yang sama dengan kasus CENTURY, apakah begitu ? waallahu a’lam ……..

 

Jogya banyak kenangan yang saya temukan saat plesiran, yang terakhir saya temukan seorang penarik becak bernama Pak Unang, begitu jujur dan bersahaja, sehingga saya sampai hutang kepadanya (pernah saya buatkan notenya). Nah inspirasi saya kali ini juga masih seputar Pak Unang untuk muter muterNgayogyokarto dengan becak pariwisatanya.

 

Malam tadi aku datang di Jogya dengan kereta api Turangga jurusan Surabaya Bandung, tujuan saya memang cuman pengen plesiran nyambi cari order berita tentang gonjang ganjing Jogya, karena malem, saya Calling Pak Unang melalui nomor Hpnya yang masih saya simpan, setelah diterima saya minta di antar ke Hotel N di jalan Kapten Tendean yang dulu pernah saya ampiri saat prensipan bersama teman teman guru. Setelah sampe saya langsung chek in, pak unang saya pesen : “besok pagi kita muter muter Jogya yaaa Pak ?”, “injih pakde” : jawab pak unang, langsung meninggalkan hotel malem itu.

 

Pagi sekali pak Unang sudah datang dengan membawa gudeg kendil plus nasinya yang masih anget, “alhamdulillah” : kataku, terima kasih pak unang, saya lapar bener, sampean kok yaaa, ngerti kalo saya suka gudeg !, walahh pakde, sapa yang ga suka gudeg Jogya, yoo kebacut, wong gudeg itu uenak ga ketulungan, monggo pakde dipun dahar rumiyen, pak unang pergi untuk membersihkan becaknya, agar nampak kinyis kinyis.

 

Setelah sarapan gudeg, muter muter Jogya dengan becak wisatanya Pak Unang di mulai, jujugan pertama pasti Pia Patok, kemudian ke sentra batik, terus ke pusat dagadu, siangnya saya pengen ketemuan dengan Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, dengan perantara Pak unang dan poro abdi dalem, akhirnya saya bisa bertemu untuk wawancara dengan Ngarso Dalem, beginilah isi wawancara saya dengan Ngarso Dalem :

 

Saya     : Assalamu’alaikum Pak Sultan

Sultan  : Wa’alaikum Salam

 

Saya     : bagaimana. Kabar bapak siang ini, kok nampak adem ayem saja

Sultan  : heeee, iya seperti yang anda lihat, siang ini saya sehat diberkahi Gusti Allah

 

Saya     : apakah bapak sudah mendengar dan menyimak aspirasi masyarakat Jogya melalu DPRD D.I Jogyakarta ?

Sultan  : tentu, saya selalu mengikuti apa apa yang terjadi di Jogyakarta.

 

Saya     : aspirasi Fraksi di DPRD D.I Jogyakarta mayoritas mendukung Sultan diangkat melalui penetapan, pendapat Sultan ?

Sultan  : tak elok bila saya menjawab sebelum RUUK itu ditetapkan sebagai Undang Undang

 

 

Saya     : tetapi pergunjingan sudah mengarah pada keingingan dari partai besar untuk memenangkan agar Gubernur dan Wakil Gubernur D.I Jogya di pilih secara langsung, sesuai dengan keinginan pemerintah yang didasarkan pada Survey……

Sultan  : nyatanya survey itu tak pernah ada di Jogya

 

Saya     : artinya menurut Sultan, survey itu rekayasa ?

Sultan  : itu pendapat anda, saya tak mengatakan, heeee

 

 

Saya     : pertanyaan ini agak berat Pak Sultan

Sultan  : monggo silahkan, agar semuanya jelas

 

Saya     : Adik Pak Sultan :  Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo, kabarnya keluar dari partai Demokrat, apakah ini strategi Keraton Jogya untuk menekan Pemerintah ?

Sultan  : haaaa, itu cara berpikir anda, bahwa keraton Jogya Maruk Jabatan !

 

Saya     : jelasnya bagaimana ?

Sultan  : kami tak memiliki keinginan untuk merebut jabatan Gubernur, kalau adik saya itu keluar dari partai Demokrat itu anda tanya sendiri saja.

 

Saya     : ada saran dari Partai Demokrat agar Sultan juga keluar dari partai Golkar Pendapat Sultan ?

Sultan  : apa ada relevansinya antara adik saya keluar dari Partai Demokrat, kok saya dipaksa keluar juga ?

 

Saya     : pertanyaan yang ini saya mohon maaf pak Sultan

Sultan  : yaaa silahkan saja, kita perlu memberikan pembelajaran pada masyarakat luas, agar tak gampang diadu domba.

 

Saya     : andai, RUUK Jogya da selesai semua setuju kalau Gubernur dan Wakil Gubernur di pilih secara langsung, ini artinya Sultan ada kemungkinan tak terpilih ?

Sultan  : kalau itu pilihannya, gampang saja buat saya sebagai pemilik keraton, karena Pemerintah tak mendengarkan aspirasi rakyat Jogya, maka sejak saat itu seluruh aset keraton saya tarik dan ditutup untuk umum, artinya, keraton bukan lagi sebagai tempat wisata, tetapi hanya untuk kepentingan keluarga saja.

 

Saya     : artinya, semua wisatawan baik manca maupun lokal ga boleh lagi masuk keraton dan seluruh aset asetnya di seluruh ngajogyakarta.

Sultan  : persis, semua aset akan kami manfaatkan untuk keperluan keraton saja, seluruh peneliti yang ada kami harapkan untuk meninggalkan keraton.

 

Saya     : apakah itu tak merugikan pihak keraton ?

Sultan  : Wisata Jogya bukan menguntungkan Keraton secara signifikan, namun justru banyak menguntungkan pemerintah pusat, pemerintah pusat dapat nama sampai penjuru dunia, karena adanya keraton Jogya, banyak peneliti yang datang ke Jawa khusus untuk meneliti buku buku kuno dan budaya asli dari keraton Jogya, selebihnya ga ada.

 

Saya     : waduuhhh, pak sultan kok menakut nakuti kami…

Sultan  : heeee, karena itu sampaikan salam saya untuk penguasa disana, bahwa kami bukan manusia yang maruk jabatan

Sultan  : dulu ayah kami, jadi wakil presiden, jabatan gubernur masih disandang, tetapi ga ada masalah, kenapa ?, karena pemimpin dahulu ngerti sejarah Jogya, sekarang kok malah pengen merusak tatanan yang sudah mapan?

 

Saya     : pak Sultan, makin lama saya makin deg degan pak, terima kasih yaa Pak Sultan atas perkenan wawancara dengan Ngarso Dalem, heeeee

Sultan  : iya sama sama, salam saya untuk arek arek Suroboyo, salam untuk alm. Bung Tomo, alm. Dr. Soetomo, alm. WR. Supratman, pahlawan yang tak pernah di rawat nasib MAKAMnya, sedikit yang ziaroh, penjaganya di bayar murah……….

 

Saya     : Assalamu’alaikum

Sultan  : WA’ALAIKUM SALAM

 

Note ini cuman imaginer dari ilusi yang diangan angankan hingga menumbuhkan sebuah note konyol seperti diatas, semoga note ini dapat memberikan pencerahan untuk semua warga negara Indonesia agar tak saling curiga……………………

 

 

Pakde Azemi

Ojok Rumongso Biso, Sing Biso Rumongso

Ojok Dumeh Digdoyo rogo, ojok Dumeh Kuat Bolo lan Bondo

Ojok Dumeh Pinter Sekulah, Ojok Dumeh Pinter Ngakali

KABEH iku onok itung itungane Gusti Allah

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s