“StuntMAN” di negeri OM PIM PA………………….


Cerita ini bukan fiksi, tapi bisa juga dari orang sableng yang keblinger pengen bercerita ……. karena itu jangan dimasukkan OTAK, takut jadi pemberontak

Note ini terinspirasi status pak Momo Sudarmo : “Ada joki PMB, joki 3in1, joki ujian PNS, sekarang ada joki di LAPAS… Karni jadi jokinya Kasiyem yg divonis 7bln.. Dgn 10jt Karni rela mendekam dilapas menggantikan Kasiyem… Wkwkwk..INDONESIANA…. semua bisa terjadi… Buat Karni lumayan, dgn 10jt dan ditambah 7bln makan gratis benar2 terbebas dari kesulitan ekonomi (sementara)…”

Saat saya berangkat oleh olang (ngajar) beberapa tahun selam (10 tahun), dalam perjalanan di atas kapal perry, ketemu seorang paruh baya, dengan dandanan perlente, bawa koper dengan label penerbangan maskapai luar negeri. Sungguh tak menyangka orang seperti ini, adalah seorang “stunt man (peran pengganti)” dalam sebuah perkara.

Sebut saja namanya “SeBUDIN”, adalah seorang petani miskin di belahan paling pojok bagian utara pulau manduri. Saat itu dia ketemu seorang yang mengaku dari pulau Beli mencari orang yang mau bekerja ke luar negeri, saat itu dirinya ditawari, apakah mau, bekerja di luar negeri sebagai tenaga kasar (kuli), karena dirinya ga punya keahlian apa apa kecuali mencangkul, tawaran itu tak ditampik, langsung di iyakan, tanpa banyak kata, orang tersebut mengajak SeBUDIN pulang untuk ijin pada isterinya, herannya, isterinya langsung dikasih duit segebok sebagai uang muka SeBUDIN bekerja di luar negeri.

Cerita “SeBudin” : setelah ijin keluarga, SeBudin berangkat bersama pencari kerja tersebut, mobil mengarah ke pulau BELI, saat itu saya tanya, kok ke Beli, apakah akan bertangkat melalui BELI ?, mereka jawab yaaa, melalui, BELI. Kemudian saya tertidur, pukul 06.00 pagi kami da nyampe Dennyasar, mobil masuk ke sebuah rumah yang gede sekali, saya kaget, apakah ini penampungan para TKI dan TKW ?, perasaan percaya makin besar, bahwa sebentar lagi, saya akan berangkat ke Malesua (harapan saya saat itu).
Setelah isitirahat, sorenya, saya dihadapkan dengan orang yang katanya pengacara, saya kaget, kok pengacara ?, saat itu, cerita dimulai, saya jadi stuntman (peran pengganti). Pengacara ato makelar kasus yang dihadapkan pada saya saat itu bercerita, bahwa pemilik rumah ini sedang dalam masalah yang besar, dia adalah seorang pengusaha yang terkenal, sekarang ini sedang kena masalah, menabrak orang hingga tewas, keluarga korban tak mau diajak berdamai, karena itu untuk menyelamatkan banyak karyawan, maka perlu ada orang yang mau mengganti sebagai pelaku tabrakan saat itu, soal kejadian perkara anda akan di tuntun oleh orang lain untuk melakukan kejadian tersebut, kemudian anda mengakui pelakunya, itu saja yang kami minta, selebihnya keluarga saudara akan kami jamin selama saudara berada dalam tahanan, uang akan kami transfer dari kuala lemper, sehingga orang mengira saudara bener bener berada di kuala lemper Malesua, bagaimana anda siap ?, karena keluarga saya sudah dikasih duit, maka saya tak dapat lari dari makelar kasus ini.

Saat olah TKP, saya hanya digiring ke TKP, kemudian di poto, kemudian ke tempat lain juga di poto dengan dikalungi tulisan “TERSANGKA”, tanpa mengerti apa yang telah saya lakukan, saya hanya nurut seperti sapi yang di seret majikan tanpa ada perlawanan, karena majikan telah membawa “PECUT” (harta) sebagai DP pada keluarga saya, sungguh rasa ketakutan itu selalu saya miliki, khawatir kalo pertanyaan itu tak dapat saya jawab sesuai dengan yang diharapkan oleh sang majikan, mengapa demikian ?, terus terang saya tak biasa bohong.
Selama sidang pengadilan, peran saya tak begitu banyak, saya hanya menjawab ya dan tidak, semua sudah disetting, seolah saya main senetron, pengacara membela begitu hebat, dengan suara lantang, sedangkan jaksa juga memojokkan begitu hebat, sehingga hakim harus memberhentikan persidangan, sungguh luar biasa persidangan saat itu, saya sampai ketakutan sendiri, dalam hati saya bertanya apakah hukuman saya ini ‘hukuman mati?”, atau 15 tahun penjara, tapi pak makelar kasus sudah menjamin, hukuman saya tak lebih dari 3 tahun, sebab sang majikan tak mau membayar saya terlalu lama, lebih baik dibayarkan banyak didepan, tetapi kebelakangnya murah ?, itu yang menentramkan hati saya.

Dalam sidang saya selalu ketakutan, ketakutan saya pertama, bila ditanya : apakah saudara punya SIM, kalo ngomong punya ga punya bukti, kalo ngomong tidak kok bisa jadi supir ?, kedua, saya takut disuruh nyetir mobil, seumur umur saya belum pernah naik sepeda pancal apalagi mobil, bagaimana ini ?. untungnya pertanyaan itu tak pernah ada hingga saya diputus 2tahun 8bulan, setelah pengadilan singkat itu berlangsung dan putusan dijatuhkan, saya menjalani hingga hari ini saya pulang ke desa kembali, dengan tanpa pengantaran seperti saat saya pertama kali di jemput.

Kesimpulan :
Apabila cerita. SeBudin itu bener, maka bisa saya pastikan peran pengganti itu sudah lama berlangsung di negeri Om Pim Pa.
Orang kecil (miskin), selalu menjadi media untuk orang orang berduit melepaslkan diri dari jerat perkara (ingat perkara bank centOray, supir mendadak kaya, tukang serpis mendadak kaya) di negeri Om Pim Pa.
Masih ada pengadilan di Om Pim Pa, suka “maen mata” dengan perkara
SeBudin tak punya pilihan lain setelah mereka di DP (kasih duit) sebelum kerja.

Semoga cerita ini bukan cerita beneran, namun dari kejujuran, dandanan, olah kalimat siBudin saya sangat yakin kalau itu bukan khayalan orang miskin !

Semoga kita tidak meniru “LEPAS TANGGUNG JAWAB”

Pakde Azemi
Isuk isuk maem getuj nyeruput Wedang kopi Kapal Perry

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s