mencoba meREPLEKSI DIRI ……………


Note tak bermaksud membicarakan orang lain, ini hanya sekedar sharing dari cak umar tentang pengalaman pribadinya soal tetangga deket rumahnya, semoga tak ada yang tercederai hatinya dengaan note ini.

Cangruk’an maneh Bersama para sopir angkot dan para bakul, enak juga ngerumpi masalah untuk ngurangi stress akibat beban numpuk di otak, mumpung belum otak jadi otal otak enakan dicairkan dengan mesem mesem dan ketawa ketiwi bareng wong cilik di pinggir jalan.

Seperti biasa warung kopi cak midun penuh dengan para sopir dan bakul, isuk isuk da pengen ngegosip para artis, kali ini yang mereka bicarakan adalah Alm. Aji Masaid, anggota DPR dan aktor tampan tersebut sangat disayangkan kalo umurnya begitu pendek, padahal mereka ngePAN banget dengan gaya tutur mas AJI baik sebagai anggota PR, Aktor maupun ketua TIMNAS, bicaranya santun, kalem tak berapi api, namun semua itu sudah berakhir diliang lahat kemaren hari, “mas AJI pergi namun kenangannya tak pernah ikut terkuburkan” : kata mereka.

Cak umar meenyela pembicaraan yang sedang gayeng gayengnya, kalo saya pikir pikir, pulangnya mas AJI itu mengingatkan pada tetangga saya, cerita dan adegannya kok hampir mirip gitulohhh.

Cak umar mulai bercerita : tetangga saya cak misdi, punya 2 anak lelaki  masih kecil kecil, perkawinan pertamanya kandas, gara gara isterinya dianggap ga setia (selingkuh), kemudian dicerai, cak misdi kemudian nikah lagi dengan teman sekantornya, isteri pertama pengen sekali bertemu dengan anak anaknya, namun cak misdi selalu memproteksi agar anak anak tak menemui emaknya, alasannya macam mamcam takut tertular virus jeleknya lah, takut, dibawa kabur, takut anaknya berubah pikiran.

Kemudian cak umar bertanya : “kalau menurut sampean semuanya gimana, hukumnya bapak yang menyandera anak anak agar ga bertemu emaknya ?”

“Cak Umar” : tanya saya, ga elok kita bicarakan orang yang sudah meninggal, kemudian cak umar menimpali, bukan mas AJI yang kita bicarakan pakde, kita akan mengambil IBROH dari perjalanan tetanggaku cak misdi kok yaa sama perjalanan hidupnya, selalu melarang isteri pertamanya untuk menemui anak anaknya.

Kataku : “Cak Umar, hal yang demikian sudah mahfum dialami oleh emak emak yang “dianggap” melakukan kesalahan (selingkuh), banyak gosip gosip para pendekar “SUARA”, pendekar “BERITA” juga melakukan proteksi terhadap anaknya agar IMUM dari virus emaknya.

Sebagai orang islam saya selalu pake rujukan seperti dibawah ini :

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu berkata : datang seorang lelaki kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam, ia berkata : ya rosulalloh manusia mana yang paling berhak aku perbagus pergaulanku kepadanya ? beliau menjawab : ibumu. Ia bertanya : kemudian siapa ? beliau menjawab : ibumu. . Ia bertanya : kemudian siapa ? beliau menjawab : ibumu. Ia bertanya : kemudian siapa ? beliau menjawab : kemudian bapakmu [muttafaq alaih]

Nah dari hadits diatas, bisa kita tarik kesimpulan, bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati “IBU” hingga 3 kali kemudian baru “”BAPAK”.

Terlepas dari kesalahan seorang ibu bagaimanapun, IBU tetep seorang ibu tidak dapat digantikan oleh siapapun atu dengan apapun, karena perjauangan seorang ibu untuk mempertahankan anaknya mulai dalam kandungan hingga mereka dewasa.

Coba sampeyan pikir yang dalam, proteksi seorang bapak pada ibunya, akan dibalas dengan keikhlasan seorang emak pada anaknya dengan doa doa yang tulus, tentu seorang emak selalu berdoa agar dapat bertemu, berkumpul dengan dirinya, doa selalu dipanjatkan kepada pemilik jagad ini Gusti ALLAH swt, ketulusan doa doa emak dikabulkan di dipanggilnya bapak anak anak mereka di hadapanNYA.

Nah ini jawaban Gusti Allah dengan terpanggilnya Cak Misdi, babak baru akan dimulai di keluarga tersebut, anak anak tentu akan kembali ke emaknya dan berkumpul, bercengkerama dengan amaknya.

 

Kesimpulan :

  1. Dari pertanyaan cak Umar itu, kesimpulan saya untuk memberikan saran kepada siapa saja, janganlah memutus tali silaturahim antara anak dengan emak atau orang tuanya, karena pemutusan silaturahim itu berarti kita mengingkari “hak darah” seseorang seseorang terhadap seseorang.
  2. Seorang Emak 9ibu) menurut kanjeng adalah orang pertama yang perlu diberikan kebaikan oleh anak anaknya.
  3. Memutus tali silaturahmi adalah sesuatu yang dilarang oleh agama Islam. Dalam Q.S an-Nisa’: 1, Allah berfirman, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang
    dengan mempergunakan nama-namaNya, kamu saling meminta, dan
    (peliharalah) hubungan silaturahmi.”
  4. Sebuah riwayat lain, dari Anas r.a, ia berkata bahwa Rasullah saw
    bersabda, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan
    bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung
    tali silaturahmi. [Mutafaq ‘alaih]

 

Semoga ada manfaatnya…

 

Pakde Azemi

Sambil Nyeruput CopACino pedes

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s