catatan david muhammad “With Note”


Sosok Dalam Cermin
(Ampuni Aku ya Allah…)

Sudah lama aku tak menjumpai cermin besarku
Sejak saat aku kehilangan kepala membuatku ngeri menatap cermin itu
Oh, ternyata ia masih berdiri di sudut ruang
Tegak tegap terpaku dan tetap membisu

Aku persiapkan segala yang terbaik untuk mendatanginya
Seluruh bagian tubuhku kuperiksa satu-satu
Dari ujung kaki hingga helai rambutku yang mulai memutih
Ah, kepalaku masih terpaku erat ditempat semestinya

Aku berdiri menatap cermin besar itu
Kubersihkan debu-debu yang menempel pada permukaannya
Agar lebih jernih aku memandang
Menatap setiap jengkal anggota tubuh

Namun aku tak mengenali sosok yang berdiri di dalam cermin itu
Sebuah wajah mencoba tersenyum, namun hatiku bertanya
apakah wajah ini yang kelak kan bercahaya bersinar indah di syurga sana?
Ataukah wajah ini yang akan hangus legam terseret di neraka Jahanam?

Satu persatu kutatap anggota kepala
Mata, telinga, hidung, mulut sampai ujung rambut
Apakah yang tersembunyi didalam sana duhai kepalaku?
Apa yang ada dalam fikiranmu?

Wahai otak didalam kepalaku!
Apakah kewarasan didalam sana yang menjadi petunjuk di jalan kebenaran?
Ataukah kesombongan dan kegilaan yang menjerumuskan dalam lembah kenistaan?

Wahai otak!
Betapa sedikit kau kugunakan untuk memikirkan tanda-tanda Kekuasaan Allah
Betapa malas kau menyerap berbagai ilmu-ilmu agama yang bermanfaat
Betapa kau lebih suga menerawang syahwat mengajak maksiat

Wahai otak!
Inikah isi kepala yang akan mendidih ketika kaki dipijakkan diatas bara api neraka?

Tatkala kutatap mataku
Galau hatiku bertanya,
Mata inikah yang kelak akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan menatap Allah dan Rasul-Nya?
Ataukah mata ini yang akan terbelalak melotot, menganga terburai menatap neraka Jahannam?

Wahai mata!
Apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala kutatap mulut
Apakah mulut ini yang akan mendesah penuh kerinduan mengucap ‘laa ilaha illallaah’ saat malaikat maut datang menjemput?
Ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah terjulur melengking jeritan pilu, yang akan menggugah tiap sendi-sendi orang yang mendengarnya?
Ataukah menjadi mulut pemakan buah zaqqum Jahanam, yang getir menghunus menghancur usus?

Betapa banyak hari yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam
Betapa banyak kata-kata manis yang engkau ucapkan untuk menipu
Betapa banyak kata dusta yang terucap untuk menutupi kebohongan-kebohonganmu

Betapa mahal ayat-ayat suci terdengar dari ujung bibirmu
Betapa bibirmu selalu kering kerontang tak pernah basah oleh karena dzikir yang mengalir dari mulutmu
Betapa langkanya engkau menyebut nama Tuhanmu dengan tulus
Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Tuhanmu mengampuni segala dosa yang telah kau perbuat

Wahai mulut!
Apa yang engkau ucapkan wahai mulutku yang malang?

Tatkala kutatap telinga
Apakah telinga ini yang kelak akan mendengar dengan jernih suara air sungai-sungai yang mengalir di dalam surga kelak?
Ataukah telinga yang ditusuk besi membara yang dipanaskan dalam lautan api neraka?

Wahai telinga!
Betapa engkau enggan mendengar nasihat orang-orang shaleh yang menuntun dan membimbingmu
Betapa suara adzan dan lantunan ayat-ayat suci terasa sakit memukul gendang telingamu, padahal engkau menyediakan ruang dengar suara nyanyian dan musik yang melenakan
Betapa engkau lebih suka mendengar gibah, gunjing, fitnah, dan kata-kata tiada guna

Wahai telinga!
Suara-suara apa yang telah masuk ke dalam ruang dengarmu?

Tatkala kutatap lengan
Apakah lengan ini yang kelak dituntun menuju pintu masuk ke dalam surga?
Ataukah lengan ini yang terbelengu diseret dengan cambuk neraka?

Wahai lengan!
Betapa engkau berat untuk memberi tapi ringan dalam mengambil hak orang lain
Betapa banyak orang-orang yang telah kau zhalimi
Betapa jarang kau membelai kasih keluargamu
Betapa enggan kau ulurkan bantuan kepada saudara, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan uluranmu

Tatkala kutatap kaki
Apakah kaki ini yang kelak akan ringan melangkah bahkan berlari meniti ash-Shirath?
Ataukah kaki ini tertatih merangkak dan tergelincir ke dalam neraka Jahannam yang maha dahsyat itu?

Wahai kaki!
Betapa berat langkahmu terayun menuju masjid dan majlis-majlis taklim
Betapa mudah bagimu melangkah ke tempat-tempat maksiat pemuja syahwat
Betapa enggan kau menuju rumah-rumah saudara dan tetanggamu untuk menyambung tali silaturrahim

Tatkala kutatap tubuhku
Apakah tubuh ini yang kelak akan penuh cahaya bersinar, bersukacita dan bercengkerama di dalam Syurga-Nya?
Ataukah tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara Jahanam?
Terpasung tanpa ampun, terbelenggu rantai panas dan terkurung dalam bara neraka
Derita tanpa akhir…

Wahai tubuh!
Berapa banyak maksiat yang engkau lakukan?
Berapa banyak orang yang engkau dzalimi dengan tubuhmu?
Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu?

Wahai tubuh!
Seperti apakah isi gerangan hatimu?
Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu atau seburuk daki yang melekat ditubuhmu?
Apakah hatimu seindah penampilanmu atau sebusuk kotoranmu?

Betapa berbeda apa yang nampak dalam cermin dengan apa yang tersembunyi
Betapa yang kulihat selama ini hanyalah tubuh terbungkus dan wajah tertutup topeng
Betapa pujian yang terhambur hanyalah memuji topeng
Aku hanyalah selonggok sampah busuk yang terbungkus daging dan kulit

Aku tertipu
Aku malu ya Allah…

Allah…!
Selamatkanlah aku…
Ampuni aku…

A’uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Alhamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin
Subhanallah walhamdulillah wa lailaha ilallahu wallahuakbar.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.

Laa ilaaha illallahu wallaahu akbaru, laa illaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun,
laa ilaaha illallaahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah

Tak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya lah kerajaan dan bagi-Nya pula puja dan puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.
Tiada Tuhan selain Allah dan tiada daya dan upaya serta tak ada kekuatan selain dengan Allah jua.

Allahumma inni as’aluka bi’anna lakalhamda laa ilaaha illaa anta yaa hannaanu yaa mannanu yaa badii’assamaawaati wal’ardhi yaa dzaljalaali wal’ikraam

Ya Allah…
Aku memohon kepada-Mu karena sesungguhnya bagi-Mu puja dan puji, tiada Tuhan selain-Mu, wahai Yang Maha Pemberi, yang menjadi harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, Yang Maha Luhur dan Maha Mulia.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina muhammadin shalaatan tunjiinaa bihaa min jamii-‘il ahwaali wal aafaati wa taqdlii lanaa bihaa min jamii-‘il haajaati wa tuthahhirunaa bihaa min jamii-‘is sayyi-aati wa tarfa-‘unaa bihaa ‘indaka a’lad darajaati wa tuballighunaa bihaa aqshal ghaayaati min jamii-‘il khairaati fil hayaati wa ba’dal mamaati wa shallallahu ‘alaa khairi khalqihi sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallama

Ya Allah…
Limpahkanlah shalawat atas junjungan kami nabi Muhammad, shalawat yang dapat menyelamatkan kami dari segala huru-hara (akhirat) dan afat, dapat memberikan hajat (kebaikan) kepada kami, dapat membersihkan kami dari kejelekan, dapat mengangkat kami ke derajat yang lebih tinggi di hadapan Engkau, dapat membawa kami menuju kebajikan yang paling baik semasa kami hidup maupun sesudah mati. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas makhluk-Nya yang paling baik yaitu junjungan kami Muhammad, semua keluarga dan para sahabat beliau.

Astaghfirullaahal ‘azhiiim (3–10 X)

Aku mohon ampun segala dosaku kepada Allah Yang Maha Agung (3–10X).

Allahumma anta rabbi. Laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’ududzu bika min syarri maa shana’tu abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidzanbii faghfirlii fa’innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.

Ya Allah…
Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau ciptakan aku, dan aku hamba-Mu, dan aku memenuhi janji dan ikatan kepada-Mu, aku berusaha memenuhinya dengan segala kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan-kejelekan yang aku perbuat. Aku sadar akan nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku sadar akan dosaku, karena itulah ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosaku selain Engkau. (Sayyidul Istighfar, HR. Bukhari)

Ya Allah…
Ampunilah MATA kami yang lebih sering kami gunakan untuk melihat hal-hal yang tak berguna atau hal yang maksiat dan hal-hal yang Engkau murkai, padahal jikalau Engkau takdirkan kami buta maka sungguh kami akan menjadi makhluk yang lemah tak berdaya.

Ya Allah…
Ampuni pula MULUT kami yang sering menyakitkan perasaan orang lain, yang sering membohongi orang lain, yang sering mengajak orang lain berbuat dosa dengan kami sadari atau tidak kami sadari, dengan mulut ini pula kami sering membicarakan ghibah dan fitnah yang hukumannya sangat dahsyat, dengan mulut ini pula kami menyampaikan kesombongan, ketamakan, kekikiran dan ke-riya’an diri kami. Ampunilah seluruh kata dan perbuatan buruk yang pernah keluar dari mulut kami ini.

Ya Allah…
Ampuni pula TELINGA kami yang selama ini tidak mendengarkan suara-suara yang baik, seperti ucapan-ucapan bijak para ulama, nasihat agama dalam ceramah agama dan mendengarkan ayat-ayat Al-Quran. Apajadinya diri kami ini bila Engkau tulikan pendengaran kami. Padahal itu begitu mudah bagi-Mu.

Ya Allah…
Ampunilah TANGAN kami yang sering menjadi kikir dalam memberikan sedekah kepada orang lain, yang jarang digunakan untuk menuliskan kebaikan-kebaikan untuk orang lain. Apa jadinya kalau Engkau ambil tangan kami ini dari tubuh kami.

Ya Allah…
Ampuni KAKI kami yang lebih banyak digunakan menuju tempat-tempat kemewahan dan kepentingan duniawi dan jarang digunakan untuk menuju ke mesjid dan pengajian. Apajadinya kalau Engkau ambil kaki ini dari tubuh kami. Ya Allah, jadikanlah kaki kami ini lebih rajin mengunjungi orang-orang saleh, menghadiri majlis-majlis ilmu, mendamaikan orang, menyambung silaturahmi, melaksanakan jihad, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menentramkan hati dan memperkuat iman kami.

Ya Allah…
Ampuni SYAHWAT kami yang sering sulit kami kendalikan, sedemikian lemahnya kami menghindarkan pandangan dan syahwat dari lawan jenis kami yang semakin bebas berkeliaran di zaman ini. Ampunilah diri kami ya Allah, kuatkanlah iman kami dari maksiat syahwat.

Ya Allah…
Ampunilah kesombongan kami akan AKAL dan OTAK kami yang sering menjadikan kami merasa paling cerdas dan pintar. Padahal sungguh begitu mudah bagi-Mu untuk menjadikan kami bodoh atau gila. Padahal Engkau sangat membenci kesombongan, apalagi kesombongan akal. Padahal orang yang paling cerdas menurut-Mu adalah orang yang paling banyak bertaqwa. Ampunilah kebodohan dan kesombongan kami ya Allah, beri kesempatan kami untuk bertobat, hapuskanlah seluruh dosa-dosa kami.

Alangkah bodohnya kami ya Allah…
Padahal ilmu kami sangat sedikit tapi sering kami merasa sudah berbuat yang terbaik. Tambahkanlah ilmu (agama) kami ya Allah supaya kami dapat membedakan mana perilaku kami yang sudah baik dan mana yang masih buruk. Janganlah Engkau golongkan kami kepada golongan orang-orang yang bodoh tapi merasa paling benar, atau orang yang sebenarnya malas tapi selalu merasa perlu banyak istirahat, jangan pula menjadi orang yang sebenarnya sombong karena merasa lebih mampu dibanding orang lain, jangan pula kami menjadi orang yang kikir hanya karena merasa ada keperluan lain yang lebih penting atau karena kami takut lapar dan takut miskin, jangan pula kami menjadi riya’ karena lebih membutuhkan pujian orang lain.

Ya Allah…
Ampuni HATI kami yang telah tercemar dan terkontaminasi berbagai penyakit hati. Sungguh hati kami telah tertutup oleh sifat ujub, riya’, sum’ah, hasud, benci, dan takabur. Hati kami telah tenggelam dalam kotoran dosa dan kenistaan sehingga kami begitu mudah untuk melupakan-Mu. Lembutkanlah hati kami ya Allah, Tuhan Yang Menguasai Hati. Sesungguhnya kelembutan, kekhusyu’an serta keluluhan hati kepada Sang Pencipta dan merupakan suatu pemberian dari Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) dan sebuah karunia dari Ad-Dayyan (Yang membuat perhitungan). ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika . Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

Ya Allah…
Sungguh kami lupa mengingat semua dosa-dosa kami yang sedemikian banyaknya selama hidup kami. Kami pun sering sedemikian bodohnya, sehingga banyak dosa-dosa yang kami anggap kecil atau tidak ada padahal Engkau telah mencatatnya sebagai dosa-dosa besar.

Ya Allah…
Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui dosa-dosa yang telah kami lakukan, ampunilah semua dosa-dosa kami, baik yang kami ingat maupun yang telah kami lupa, yang sengaja ataupun yang tak sengaja, yang besar maupun yang kecil, yang dulu maupun yang akan datang, seluruhnya ya Allah. Jangan ada tersisa sedikit pun ya Allah…

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khasiriin. Rabbanaaghfir lanaa dzunuubana wa kaffir ‘annaa sayyi’aatina wataffanaa ma’al abraari. Laa illaaha illaa anta subhaanaka innii kunu minazhzhalimiin.

Allahummaghfir lii dzambii kullahu diqqahu wa jillahu wa awwalahu wa aakhirahu wa ‘alaaniyatahu wa sirrahu.

Ya Tuhan kami…
(Selama ini) kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami, pastilah kami ini tergolong orang yang merugi.

Ya Tuhan kami…
Ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang baik. Tiada Tuhan selain-Mu, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim.

Ya Allah…
Ampunilah dosaku semuanya, baik yang halus dan yang kasar, yang terdahulu dan terkemudian, yang nyata dan yang tersembunyi. (HR Muslim, Abu Daud dan Hakim)

Allahuma inna nas’aluka ridhoka waljannata wana’uudzubika min shakatika wannaar.

Ya Allah…
Sesungguhnya kami mohon keridhaan-Mu dan sorga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.

Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar

Ya Allah Tuhan kami…
Berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksaan neraka.

Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalaatu wassalaamu ‘alla sayyidil ambiyaa’i wal mursaliina muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shabihi ajma’iin.

Ya Tuhan kami…
Perkenankanlah do’a-do’a kami, karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang. Kesejahteraan dan keselamatan semoga dilimpahkan kepada junjungan pemimpin para nabi dan rasul Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, atas keluarganya serta para sahabatnya semuanya.

Subhaanaka rabbika rabbil ‘izzati’ ammaa yashifuuna wa salaamun ‘alal mursaliina walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Maha suci Tuhanmu, Tuhan Yang bersih dari sifat-sifat kekurangan. Dan semoga keselamatan dicurahkan kepada para Rasul dan segala puji bagi Allah seru sekalian alam. (HR. An-Nawawi).

Aamiin.. Aamiin ya Rabbal’alaamiin…

**DM 20110414, @Ruang Renung Pbm.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s