Bagiamana kondisi Iman Anda hari ini?


catatan FB : oleh Nasrudin Djamil pada 25 April 2011 jam 17:56

Pada sebuah majelis, pertanyaan tersebut  pernah dilontarkan Nabi kepada sahabatnya. Selanjutnya, pada keterangan yang lain Nabi juga  mengungkap; “Iman seseorang itu kadang turun, kadang naik, pluktuatif.” (yaziid wa yankus).

Sesungguhnya kualitas iman seseorang, hanya dirinya dan Allah saja yang tahu persis. Bukan Nabi tidak tahu.  Saya menapsirkan pertanyaan Nabi tadi sekedar mengingatkan, agar segala ucapan dan tindakan umat yang dibinanya, tak keluar dari garis-garis keimanan.

Tuhan itu penentu keputusan yang terbaik bagi hambanya. Pasti. Persoalannya, yakin apa tidak? Itu saja. Bagi yang ikhlas, Jangankan kejadian (musibah) yang manis, yang pahitpun akan terasa manis. Sebab itu orang beriman tidak semata-mata melihat sebuah kejadian  sebagai obyek, melainkan siapa sang sutradara dibalik kejadian itu. 

Orang seperti ini biasanya akan selalu berpikir, ada hikmah dibalik musibah!  Ada pembelajaran yang bisa dipetik. Senantiasa optimis karena jiwa dan mata-hatinya sudah tertambat, tertawan  dalamqudusnya Allah (dzikrullah).

“Hidup ini ya memang masalah. Kalau tak mau bertemu masalah ya jangan hidup”, kata para motivator. Tentu, kalau sekedar mengadu kepada Tuhan, boleh-boleh saja, karena Allah tempat kita mengadu. Segalanya.  Tapi “barang siapa yang dipagi hari merasa susah dan berkeluhkesah karena urusan duniawi, maka sungguh di pagi hari itu ia telah membenci Allah. Dan barang siapa merendah diri kepada orang kaya karena hartanya, maka sungguh telah hilang dua pertiga agamanya. (Al-Hadis), dikutip dari Nasaikhulibad isti’dad liyaumil maad, imam nawawi al-Banteny;bab III hal.31)

Berkeluhkesah karena himpitan masalah menandakan bahwa kita belum sepenuhnya menerima dengan senang hati rencana baiknya Tuhan alias berprasangka buruk (suudzhan) kepada Allah. Karena itulah orang yang melakukan itu, dalam keterangan diatas, disebut sebagai pembenci Allah. Tuhan yang disembah, diibadahi, tapi juga disangka engga bener. Gimana dong? Menurut ketentuan aqidah, orang yang nyangka ngga bener sama Tuhan, dianggap masih belum beriman!

Sementara itu, jumlah penganut Islam KTP, juga tidak sedikit. Ngerti agama, shalat juga tapi ngebohongin orang, berbuat curang, korupsi jalan terus. Karena itu, “Orang yang beriman, pasti beragama, sedang orang yang beragama belum tentu beriman! Maka menurut saya, meskipun Iman itu sesuatu yang abstrak, namun indikatornya masih tampak terlihat dalam keseharian  seseorang (akhlaq).

  1. Sebisa mungkin, kalau bisa, kualitas iman anda naik. Jika belum mampu, stabil saja, sudah bagus. Maka itu upayakan minimal jangan sampe turun. Orang yang dengan stamina iman baik, akan juga memiliki selfcontrol yang kuat.
  2. Update status keimananmu dengan setiap saat mengiqrarkan duakalimah Syahadat, Istighfar dan Shalawat secara rutin. Untuk “registrasi ulang” juga antisipasi runtuhnya Iman setiap harinya. Para ulama menyebut langkah ini sebagai tazdiidul iman.(memperbaharui iman)  
  3. Ludesnya Iman karena menduakan Allah (musyrik) sedangkan cacatnya iman antaralain karena penyimpangan (maksiat). Maka itu cobalah cari pengalihan dari yang negatif menjadi positif.  Perbanyaklah berbuat kebajikan kepada sesama, sebagai tebusan atas segala hilap dan dosa yang telah diperbuat.

Memberikan pelayanan yang terbaik, kepada siapapun, untuk kalangan manapun, agama apapun, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih! Tentu saja diutamakan yang berjarak paling dekat dengan keseharian kita. Saya pribadi meyakini, jika ada seseorang yang pilihkasih dalam berbuat baik kepada orang lain berarti ia tidak mengaflikasikan rahman-rahimnya Allah. Tuhan sang Maha Kasih.

Ekstrimnya, coba bayangkan jika ada seseorang yang hendak menolong korban gempa atau sunami di suatu daerah; maka patutkah jika sang penolong menanyakan terlebih dahulu kepada korban; maaf, agama saudara apa, dari suku mana? Sungguh, picik bukan?

Nah, sahabat, semoga saja kita terlahir dalam Iman, hidup dalam bimbingan Iman serta mati dalam keadaan beriman. Ya Allah biha-ya Allah biha ya Allah bihusnilkhaatimah. Amiin.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s