Kafarat Ber-jima’ (Suami-IStri) di Siang Hari Ramadhan


oleh David Muhammad pada 08 Agustus 2011 jam 15:26

Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Melakukan hubungan badan (jima’) adalah halal dilakukan oleh suami-istri yang sah dan bahkan dianjurkan selama istri tidak sedang haidh. Namun ber-jima’ di siang hari saat Ramadhan adalah suatu pelanggaran dan pencemaran kehormatan bulan suci ini. Karena itu pelakunya dikenakan kafarat(sangsi).

 

Dalil darinya adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Berkata:

”Disaat kami duduk-duduk bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Datang seoang laki-laki kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Aku telah binasa wahai Rasulullah!”

Nabi menjawab, “Apa yang mencelakakanmu?”

Orang itu berkata, “Aku menyetubuhi isteriku di bulan Ramadhan”.

Nabi bertanya, “Adakah kamu memiliki sesuatu untuk memerdekakan budak?”

Orang itu menjawab, “Tidak”.

Nabi bertanya lagi, “Sanggupkah kamu berpuasa dua bulan terus-menerus?”

Orang itu menjawab, “Tidak”.

Nabi bertanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk memberikan makan enam puluh orang miskin?”

Orang itu menjawab, “Tidak”.

Kemudian Nabi terdiam beberapa saat hingga didatangkan kepada Nabi sekeranjang berisi kurma dan berkata, “Nah sedekahkanlah ini”.

Orang itu berkata, “Adakah orang yang lebih miskin daripada kami? Maka tidak ada tempat di antara dua batu hitam penghuni rumah yang lebih miskin dari kami.”

Dan Nabi pun tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya kemudian berkata, “Pergilah dan berikanlah kepada keluargamu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Bergaul dengan istri di siang Ramadhan secara sengaja membatalkan puasa. Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah, yang artinya :

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam”.

[QS. Al Baqarah : 187].

 

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan tentang bergaul dengan istri, sehingga dapat dipahami dari ayat ini, bahwa yang diinginkan adalah puasa (menahan diri) dari mempergauli istri, makan dan minum [Majmu’ Al Fatawa (25/219)]. Hukum ini telah menjadi kesepakatan dan ijma’ ulama kaum Muslimin sebagaimana dinukil oleh Ibnu Al Mundzir, Ibnu Qudamah, Ibnu Hazm [Al Muhalla, 722 dan Maratib Al Ijma’, no.39] dan Ibnu Taimiyyah [Majmu’ Al Fatawa (25/219)].

 

Bagaimana caranya mengganti puasa yang batal karena bersenggama (jima’) tersebut? Bisakah dengan membayar fidyah?

 

Kafarat (denda)nya adalah melakukan salah satu dari tiga jenis yang telah ditentukan tersebut, yaitu membebaskan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut dan memberi makan enam puluh orang miskin.

 

Para ulama berselisih, apakah pilihannya harus urut ataukah tidak? Maksudnya pilihan pertama yaitu membebaskan budak. Bila tidak mampu, maka pilihan kedua puasa dua bulan berturut-turut. Dan kalau tidak mampu juga, kemudian pilihan ketiga, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin, atau bebas memilih satu di antara tiga itu.

 

Ibnu Al Mulaqqin menyatakan, dalam hadits ini terdapat kewajiban membebaskan budak, kemudian berpuasa, kemudian memberi makan, secara tertib (berurutan) tidak diberi hak memilih salah satunya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, berbeda dengan yang ditulis dalam kitab Al Mudawanah [Al I’lam (5/220).].

 

Menurut Ibnu Daqiqi Al ‘Id, dalil kewajiban tertib urut (dalam kafarat ini) adalah tertib urut dalam pertanyaan Nabi. Pernyataan Beliau pertama kali, apakah kamu bisa mendapati budak untuk dimerdekakan? Kemudian diurutkan dengan puasa setelah membebaskan budak, kemudian memberi makan setelah puasa [Al Ihkam (2/15).].

 

Sedangkan Ibnu Hajar menyatakan, pendapat wajibnya tertib urut dikuatkan juga dengan kenyataan, jika hal ini lebih hati-hati, karena mengamalkannya (secara tertib) itu sah, baik kita berpendapat boleh memilih salah satunya atau tidak boleh [Al Fath (4/164).].

 

Pendapat terakhir inilah yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin [Tambihul Afham (3/46).].

 

Jadi, pada dasarnya macam-macam kafarat yang disebutkan didalam hadits itu menunjukkan urutan (tertib) bukan pilihan. Jadi dimulai dari membebaskan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut dan memberikan makan 60 orang miskin.

 

Untuk membebaskan budak mungkin saat ini tidak bisa dilakukan sehingga bisa beralih kepada macam kedua yaitu berpuasa dua bulan berturut-turut. Namun jika memang merasa tidak sanggup melakukannya dikarenakan dorongan syahwat yang kuat dalam diri anda maka bisa beralih kepada macam ketiga yaitu memberikan makan kepada 60 orang miskin.

 

Bagaimana mekanisme pembayarannya? Bolehkah kalo disalurkan ke Lembaga amil zakat atau panti asuhan atau diganti dengan pembagian sembako ke fakir miskin?

 

Anda diharuskan memberikan makan kepada 60 orang miskin dengan ukuran 1 mud dari setiap mereka. 1 mud dan untuk zaman sekarang setara dengan 0,675 kg atau 0,688 liter dari bahan makanan pokok.

 

Untuk pembayarannya  bisa memberikan kepada 60 orang miskin dengan ukuran seperti di atas. Atau bisa juga memberikan senilai 60 orang itu hanya kepada satu/beberapa orang saja agar bisa lebih dirasakan dan bermanfaat buat mereka.

 

Anda bisa memberikan dalam bentuk bahan pokok (beras) atau anda konversikan ke uang sebagaimana pendapat para ulama Hanafi. Adapun penyalurannya anda bisa menyalurkannya sendiri kepada mereka secara langsung atau melalui Lembaga Amil Zakat yang anda percaya.

 

Yang wajib mengganti saya sendiri sebagai suami atau kami berdua?

 

Para ahli ilmu telah bersepakat bahwa diwajibkan kafarat atas orang yang menjima’ (menyetubuhi) istrinya pada siang hari ramadhan. Namun mereka berbeda pendapat terhadap istri yang rela dan menghendakinya, apakah wajib atasnya (istrinya) kafarat atau tidak ?

 

Jumhur ulama berpendapat diwajibkan kafarat atas istrinya, ini juga pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad. Sedangkan salah satu dari dua pendapat Syafi’i adalah tidak wajib kafarat atasnya.

 

Dalam permasalahan ini Sayyid Sabiq menyebutkan pendapat Imam Nawawi : “Yang lebih kuat menurut kesimpulannya adalah hanya diwajibkan membayar satu kafarat yaitu khusus atas pihak diri suami, sedangkan wanita tidak perlu mengeluarkan apa pun dan tidak dibebani kewajiban, karena kewajiban itu merupakan kewajiban mengenai harta yang khusus dibebankan kepada pihak laki-laki semata, tidak wanita seperti halnya mahar.” (Fiqhus Sunnah, edisi terjemahan jilid 1 hal 76)

 

Pendapat yang sama juga dikemukan oleh Ibnu Hajar yaitu kafarat hanya dikenakan kepada suami.

 

Berdasarkan penjelasan Imam Nawawi dan Ibnu Hajar di atas maka kafarat hanya dikenakan kepada suami tidak kepada istri.

 

Yang paling tepat—pengetahuan tentang ini ada pada Allah subhanahu wa ta’ala—bahwa tidak wajib kafarat atas istrinya akan tetapi diwajibkan atasnya qadha saja karena puasanya telah batal dengan berjima.

 

Wallahu’alam bishshawwab…

 

Semoga kita (para suami) bisa lebih menahan syahwat ketika berpuasa dengan meningkatkan kualitas amalan wajib dan memperbanyak amalan-amalan Sunnah yang dianjurkan di Bulan Ramadhan. Aamiin…

 

Semoga bermanfaat, mohon maaf bila kurang berkenan. Kepada Allah saya mohon ampun.

 

Wasalammu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

Iklan

3 Komentar

  1. pendapat ibn hajar, di kitab apa y?

  2. assalamualaikum… mau tnya… maksudnya membayar dengan memberi makan 60 orang miskin itu pelaksanaanya berapa hari ?

  3. sebelum membayar kafarat, apa kita di wajibkan sholat dan puasa? Mohon penjelasan.ny


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s