Bulan Syawal Belum Sebulan . . . .


Pulang jumatan, melihat jamaah berebut beli makanan, kupang lontong, lontong balap, ada juga yang berebut rujak manis atau hanya sekedar beli buah saja, mereka seolah tak memperhatikan bahwa di belakang mereka masih antri panjang.

Belum genap satu bulan kita masuk training gusti Allah dengan ramadhan yang sangat diharapkan kita mampu mempunyai kecerdasan sesuai dengan target akhir dari ibadah puasa itu sendiri yaitu menjadi manusia yang bertaQwa . . . . cirinya disebutkan dalam (QS Ali Imran [3]: 134). :

  1. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit,
  2. serta orang-orang yang menahan amarahnya
  3. dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Saat ramadhan kita mampu bersedekah dengan harta mampu menahan amarah, mampu memaafkan orang lain, kenapa sekarang malah berbalik seolah kita melampiaskan dendam setelah berpuasa ?

Masih bulan syawal, seharusnya kita dapat meningkatkan, amaliyah kita yang telah pernah kita kerjakan saat ramadhan, bukan sebaliknya, kita ga bisa menahan lapar, ga bisa memberikan kesempatan orang lain untuk sama sama berkesempatan yang sama dengan kita !

Saat ramadhan kita mampu bersedekaah memberikan ta’jil pada orang yang berpuasa, kenapa sekarang kita tak mampu hanya memberikan kesempatan pada orang yang sama sama membeli makanan yang sama dengan kita, padahal mereka bayar sendiri, bukan kita kasih seperti saat ramadhan ! Allahhu Akbar.

Sungguh benar ucapan kanjeng Nabi Muhammad : banyak orang yang berpuasa, namun mereka hanya mendapat lapar dan dahaga saja, tak ada titik kebaikan yang mengendap dalam qolbu mereka.

Note ini bukan untuk mengumbar kesalahan orang lain, namun sekedar sharing kabaikan agar kita masih tetep istiqomah dalam menjalankan syare’at agama, kita mampu memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan, agar dalam beragama punya prinsip “hari ini lebih baik daripada hari kemaren”.

 

Mari kita coba untuk merepleksi diri, agar selalu nampak gambaran, bahwa kita mendapatkan LAILATUL QODAR, tentunya ciri orang mendapatkan LAILATUL QODAR akan nampak dalam perilaku setelah keluar dari training ramadhan.

Sama halnya orang yang telah menunaikan ibadah HAJI, predikat MABRUR akan nampak pada perilaku dalam kehidupan sehari hari, seorang yang berijazah MABRUR tentu tak akan mendekati kemaksiatan, tak ngutil duit negara, sholatnya tak bolong bolong, sedekah ajek (rutin), organ tubuhnya di sedekahkan untuk kepentingan Gusti Allah. Tak salah bila Gusti Allah menempatkan ibadah HAJI sebagai ibadah Pamungkas, sehingga orang akan mengukur, sebelum dirinya melaksanakan ibadah tersebut, sholatnya sudah bagus, puasanya bagus, zakat sudah ditunaikan dan harta untuk yang ditinggalkan selama menunaikan ibadah HAJI cukup. Maka silahkan menunaikan ibadah HAJI.

Kalo belum yaaa seperti itu hasilnya, masih bisa sahadat sudah HAJI, sehari harinya ga pernah sholat, puasa dan zakat opo tumon ? akan punya sertipikat MARBUR ? Allahu Akbar.

 

Semoga renungan Jumatan hari ini ada manfaatnya

Pakde Azemi

sabar di rumah ga ada makanan

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s