Antara HIDUP dan KEHIDUPAN


oleh Nasrudin Djamil pada 9 Januari 2012

Hidup dan Kehidupan dua-kata yang seolah identik. Kerap diartikan sama sehingga keduanya disebut menjadi satu kesatuan. Padahal menurut tokoh spiritual Dr. Seoryo Tjokro Winoto, apa yang sedang dialami manusia saat ini bukanlah kehidupan (yang sebenarnya). “Hanya hidup. Kehidupan itu, ya nanti di akhirat, bukan sekarang,” katanya. Hidup (di dunia) bersifat sementara sedangkan Kehidupan adalah kekal adanya.

Ketua Lembaga Kajian Keuangan Nasional (LKKN) Pusat itu mengungkap tidak sedikit manusia yang mengejar matian-matian kesenangan individu, sehingga mengorbankan keharmonisan rumahtangga, keluarga, hingga kehidupan berbangsa bernegara. Perburuan hedonism, mengakibatkan ketimpangan dimana-mana. Buktinya, kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan menjadi barang langka di Republik ini.

 

Dalam sebuah diskusi kegamaan bertajuk “ Jawaban Iman atas Problema Sosial-etik Kemanusiaan, di Jakarta, Sabtu (7/1) lalu, Soeryo menegaskan, sekulerisasi bukan hanya pada pola pemisahan agama, dan pengetahuan “umum” secara teologis, tapi juga terjadi saat muncul pengabaian “Kuasa” Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat didera bencana, orang hanya berpikir sebatas fenemona “kebengisan alam” semata. Saat sakit, orang hanya berpikir bagaimana secepat mungkin bisa sembuh, tapi jarang terpikir secara sadar, dosa apa atau akibat kesalahan mana, yang mengundang datangnya sakit itu sendiri.

 

Karena hanya berorientasi pada pemaknaan “hidup”, maka kesembuhan yang diterima kemudian tidak menawarkan solusi apapun bagi perbaikan sikap prilaku seseorang. Kematian memang menakutkan, karena ia satu-satunya yang memisahkan seseorang dari semua perburuannya di alam dunia. Karena itu orang yang tak beriman menganggap kesembuhan, sebatas keberhasilan atas upayanya lolos dari jerat kematian!

 

Sejatinya, kematian justru awal dari sebuah kehidupan (ke- abadi-an), dimana manusia mempertangungjawabkan segala apa yang telah diperbuatnya saat hidup. Soeryo yang juga Ketua Umum Yayasan Akhlaqul Karimah Darul Iman Indonesia, mengkritik para ustadz, kiyai, atau ahli Kitab yang berdakwah tapi masih melakukan pasang “tarip” jual beli” ayat Tuhan. “Banyak orang yang hapal Alqur’an, menguasai ilmu-ilmu agama, mengerti isi Al-kitab, tapi belum bisa melepaskan belenggu dari cengkaraman syahwat keduniaannya.

 

Dalam analisanya, Soeryo menyebut, tidak bisa dipungkiri ada jarak tidak dekat antara fiqh(pemahaman tentang ilmu syariat agama) di satu sisi sebagai tata-cara peribadatan dengan ajaran Iman yang merupakan aplikasi dari substansi ritual keagamaan. “Iman itu tak terlihat. Abstrak, taruhannya keyakinan,” katanya.

 

Tak aneh pula, banyak orang yang mengaku beragama tapi luar biasa kebohongan dan kesombongannya pada sesama. Banyak yang rajin shalatnya, berpuluh-puluh kali hajinya, tapi korupsinya juga jalan terus. Jadi, orang beragama belum tentu beriman, sedang orang yang beriman pasti beragama. Mengapa demikian? Karena Indikator Iman, meskipun ia abstrak, tapi bisa terukur melalui prilaku, akhlak yang terpuji dan ikhlas berbuat.

 

Kaum muslimin, yang mayoritas di Republik ini, seyogyanya memberi contoh kesantunan dan teladan sosial yang lebih tinggi bagi umat –umat yang lain, karena Alqur’an yang merupakan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal, keadilan dan kesejahteraan.

 

Melakukan kebohongan publik, kepura-puraan dan prilaku korup berarti menodai kemurnian firman Tuhan yang menyatakan bahwa: manusia penyandang gelar khalifatul ard, dan karenanya menjadi makhluk yang paling dimulyakan Tuhan dibanding makhluk-makhluk lainnya.

 

Peran-peran “khalifat”  juga meniscayakan sebuah “kekayaan”. Bagi seorang Muslim, kekayaan yang dengannya ia terhindar dari sifar kikir karena perbuatan baiknya untuk kepentingan orang lain. Karena itulah kefaqiran berpotensi membuat kufur seseorang, seperti juga kekayaan bisa menjadikan manusia sombong dan lupa Tuhan. Menurut Soeryo, Berpikir yang lebih besar demi kepentingan yang lebih luas, maka pada gilirannya mengikutsertakan kepentingan yang kecil secara otomatis. Tetapi berpikir hanya dalam pemenuhan pribadi, tidak akan pernah sampai pada skala kepentingan yang lebih besar.

 

Pemimpin yang berpikir dan berbuat untuk kesejahteraan rakyatnya, dari Sabang sampai Merauke, adalah pemimpin yang bukan hanya berpikir hidup tapi juga demi sebuah kehidupan yang abadi kelak.

Dengan demikian kerugian yang amat besar bagi Bangsa ini, jika hirukpikuk politik akhir-akhir ini, masih diwarnai kebohongan, konplik elit dan perburuan ambisi kuasa semata-mata. Lambat atau cepat, mereka yang semata-mata bergantung tinggi (I’timad) dengan segala kemewahan dunia, pasti akan mengalami kerugian.

 

Kerugian karena ditinggalkan orang-orang terdekatnya, kerugian karena kehilangan perkenan (ridha) Tuhan dalam hidup dan kehidupannya. Semua manusia terlahir dalam keadaan tak memiliki apa-apa, dan kembali menghadap Tuhan juga tidak membawa apa-apa. Melainkan perbuatan baik dan pengabdian penuh ikhlas.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam hadits Qudsi :

 

“Hai dunia, layani orang yang hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada-Ku dan perbudaklah orang-orang yang hidupnya hanya sibuk mencari dunia (melupakan akhirat).”

 

Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. Terjemahan Q.S. Al – Hadid ( 57 ) Ayat 20

Iklan

4 Komentar

  1. Sebuah pencerahan yg bangus pakde…smg menambah hikmah kehidupan buat diriku dan yg membacanya…amin, suwun.
    Lho..wis tak sambangi ya…salam 🙂

  2. cukup membuka mata dan hati saya.. Bagus.

  3. allhamdullilah salam buat para pejuang NKRI……..tauhid MERDEKA

  4. Assalamu’alaikum wrwb….Pakde apa khabar ? lama saya nggak nge-blog. Lagi gencar-gencarnya promosi ONEDAY-ONEJUZ.
    Ehh..BTW siapa yang belum gabung dengan komunitas ODOJ yaa…Jangan sampai ketinggalan. Jangan dilihat susah tilawah 1 hari 1 Juz. Kalau udah dicoba pasti ketagihan…. Hampir semua ODOJEr (sebutan member ODOJ) mengatakan hal yang sama. dulu rasanya sehari 2 lembar aja sudah lumayan. Eh sekarang 1 juz nggak terasa, malah kadang bisa 2 juz…..

    Mau coba ? bergabung di group saya 0812-55-769135

    Salam ODOJER

    Wassalam,
    Abu Majid (Ponakan Pakdhe )


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s