Pilih mana, Qabiel atau Habiel?


oleh Nasrudin Djamil pada 30 Maret 2012 pukul 2:44

Kita menyembah Allah dan hanya bergantung kepadaNya…meskipun kasat mata tak melihatNya, namun keberadaanya, amatlah diyakini :  Sebagai yang Maha Kuasa atas segalanya..Dialah yang Maha Menghakimi

Kepada Rasulullah dan para Nabi, kita amat meyakininya. Meski kita juga tak pernah berjumpa melihat langsung raganya. Bukan iman namanya, kataku, kalau hanya kata buku. Setelah kitab dalil menjadi referensi, PeDelah kita bilang, mengikuti cara shalatnya nabi, puasanya nabi, juga yang lain..cara nabi. Ya lagi-lagi toh sesuai keyakainan. Berdasar  dalil yang rinci dan pastinya, logis, masuk akal.

Bagi yang berbeda, kita ngga boleh usil juga. Mereka punya alasannya sendiri.  Mengikuti tatacara peribadatan Nabi, seperti juga kata kita. Tentu, dengan alasannya sendiri. Itulah watak karakternya fiqh, yang menjadi biasa dengan berbeda. Bagi kaum  muslimin yang tak boleh beda hanyalah  akidahnya, Tauhid syahadatnya!

Siapapun kita, dari kelompok manapun,  mazhab apapun yang dianut,  yang terpenting tidak menduakan Allah Tuhan yang Maha Esa. Kita saja manusia tak mau diduakan, apalagi Tuhan. Selanjutnya,  Tuhan hanya mentakqdirkan manusia untuk berbuat. Tentu  yang baik, sebab jika yang menyimpang, kita pula akhirnya yang kena getahnya merasakan.

Tak ada manusia yang lengkap sempurna. Kadang bener, tapi juga ada salahnya. Min-plusnya, sudah biasa ada dimana-mana. Sebab itulah pula Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan. Seperti Hitam dengan putih, atas-bawah, pahit-manis. tinggi-rendah…saling melengkapi, saling menyempurnakan. Inilah alasannya, bahwa segala varian, jika disyukuri,  menggenapkan keindahan seperti indahnya pelangi menempel di langit-langit kita. Karenanya, dalam pusaran cahaya yang bermuara pada syukur dan sabar, pahit dan manis menjadi sama tak berbeda.

Berburuk sangka, apalagi merendahkan seseorang, haram hukumnya. Sebab berburuk sangka kepada manusia hakikatnya  berburuk sangka kepada Tuhan sang Pencipta. Ada zat Tuhan yang “ditiupkan” terbenam pada masing-masing makhlukNya.

Kebencian menutup mata hati nurani. Membuat seseorang tak bisa murni melihat ketetapan Tuhan yang terselubung dari setiap peristiwa.  Sedangkan dendam adalah kebencian yang terus dipupuk dipelihara;  sifat destruktif yang kemudian melahirkan permusuhan, dan malapetaka dalam hidup dan kehidupan umat manusia.

Adalah Qabiel tokoh antagonis yang memerankan peristiwa ini.  Asalnya, Qabiel merasa lebih terhormat  dari saudara kembarnya Habiel. Kedengkiannya membuat Ia terus berpikir bahwa kebahagiaan yang diimpikannya akan muncul  dari pihak lain, yakni merebut Iqlima dari tangan Habiel. Labuda tak level. “Tak ada bagus-bagusnya dari perempuan yang berwajah tak secantik Iqlima.” Begitu yang ada diotak Qabiel.

Singkat cerita, Habiel pun dibunuh karena dendam Qabiel yang  tak terima memperoleh Labuda sebagai pasangan hidupnya. Habiel dengan wataknya yang lembut dan penyabar, hanya berserah diri menerima ketetapan sang Ayah, Adam AS. Merasa tak memiliki niat buruk sedikitpun, ia meyakini bahwa semua ketetapan ayahnya itu juga datangnya dari Allah. Menjadikan Iqlima sebagai pasangan hidup, bukan semata kepentingnan pribadi; suatu hal yang ini, luput dari analisa Qabiel.

Irihati, merasa lebih dari orang lain dan sifat dendam, nyata-nyata memang sifat Iblis. Iblis pulalah yang menjadi sutradara bagi Qabiel atas pembunuhan pertama dalam sejarah hidup manusia. Menjelmalah Iblis dengan seekor burung yang dipukul kepalanya dengan batu sampai mati. Contoh yang diberikan oleh Iblis itu diterapkannya atas diri Habiel di kala ia tidur dengan nyenyaknya dan jatuhlah Habiel sebagai kurban keganasan saudara kandungnya sendiri

Hari ini, ditengah suburnya kegalauan dan menjamurnya amuk masa, semuanya menjadi pilihan kita sendiri; apakah hendak menjadi pengikut Qabiel ataukah Habiel?

Catatan ini hanya kembali mengingatkan, bahwa siapapun kita, mereka yang beraqal sempurna, tugas  manusia hanyalah  berbuat kebaikan. Menebar kasih tanpa pilih kasih. Tak usah pilih-pilih orang kepada siapa. Toh kita sama-sama manusia merah putih warna darahnya.  Sakitnya kata mereka, yaialah sama seperti yang juga kita rasa.

Jika ada pihak lain yang (dianggap) keliru, wajiblah disampaikan : macam manna sehh yang  benar itu. Lalu bersiaplah menjadi saksi atas kebenaran dengan mencontohkannya dan bukan memaksakannya…Iman yang sejati hanya muncul dari murninya sebuah kesadaran.

Yo kawan bareng-bereng kita mencontohkan kebenaran, sesuai sifat kasih-sayang Tuhan kepada mahluknya.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s