DETIK-DETIK KEMATIAN


oleh David Muhammad pada 8 April 2012 pukul 13:39 ·

 

DETIK-DETIK KEMATIAN

Detik-detik kematian adalah waktu yangg paling genting bagi manusia dalam umur hidupnya.

Kematian adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya

Ketika manusia berada pada detik-detik kematian tak ada yang dapat dilakukannya

 

Saat itu Israil telah datang.

Manusia akan melihatnya dan akan mendengar kalimat yang sangat menentukan nasibnya kelak.

Tidak seorangpun disisinya yang dapat menolongnya

Kecuali lirih kalimat “Laa ilaha illallaah”, yang dibisikkan ke telinganya

 

Masa telah habis

Waktu kian menipis

Atas perintah Allah, jika dia seorang muslim yang ta’at, Malakut Maut berkata padanya:

“Wahai nafs yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya!”

 

Namun bila dia seorang kafir, munafik, atau ahli maksiat, maka kalimat Malakut Maut yang terdengar di telinganya:

“Wahai nafs yang keji, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!”

 

(HR. Ahmad)

 

Tidak seorangpun akan tahan ketika sakaratul maut mulai menjalar.

Perlahan dari ujung kaki hingga sampai ke leher.

Atau ditarik dengan keras dan kasar oleh sang maut.

Penderitaan yang tidak kasat mata, namun dirasakan oleh jasad yang meregang nyawa.

 

Pada detik-detik kematian kita akan menjumpai masa naza’.

Naza’ adalah sesuatu yang menyakitkan ruh.

Tidak tersisa satu bagian pun dari ruh yang tidak merasakan sakit saat seseorang mengalami masa ini.

 

Selain itu, banyak kesulitan yang dijumpai ketika orang menghadapi kematian.

Inilah yang disebut sakaratul maut.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepada saya’. Padahal, tidak ada diwahyukan sesuatu kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah’. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam keadaan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu,’ dihari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 93).

 

Seandainya pada detik-detik kematian itu manusia memiliki emas sepenuh langit dan bumi, pastilah ia akan mengorbankannya.

Demi kalimat ridha dan ampunan Tuhannya.

Karena dengan itulah, dia akan meraih puncak kebahagiaan yang kekal dan abadi.

 

Maha Suci Allah, yang berfirman:

“Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan” (QS. Az-Zumar: 47)

 

Seluruh harta benda yang dikumpulkan oleh seorang manusia,

semua tanaman yang dia tanam,

semua bangunan yang ia tinggikan,

rumah dan istana yang ia banggakan,

semua keluarga yang ditinggalkan; anak, istri, suami, saudara, kerabat, teman, sahabat,

semua karyawan dan pengikut yang selalu mengelilingi,

semua itu tiada berguna ketika malaikat sudah berada dihadapannya.

 

Pada detik-detik kematian itu

Hanya amal shaleh dan ketakwaan yang akan menyelamatkannya

Jika ia telah mempersiapkannya, maka tenteramlah hatinya.

Namun, jika tidak…

 

Maka ia akan berkata:

“Wahai kiranya kematian itulah yg menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat padaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku” (QS. Al-Haqqah: 27-29)

 

Lalu masa naza’ dan sakaratul maut berlalu

Israfil telah pergi meninggalkan jasad terbujur dingin, kaku tak berdaya

Tangis orang disekitarnya tak berdaya menahan kewajiban menyelenggarakan jenazahnya

Lalu keranda disiapkan

 

Ketika jenazah telah diletakkan (di dalam keranda),

dan orang-orang sudah memikulnya di atas pundak,

maka jika ia baik ia akan berkata,

“Dahulukan aku! Dahulukan aku!”.

 

Tapi jika ia tidak baik,

maka ia akan berkata,

“Celaka!”

“Kemana kalian akan membawaku pergi?”.

 

Kata-kata itu dapat di dengar oleh segala sesuatu, kecuali manusia.

Seandainya manusia bisa mendengarnya, tentu ia akan jatuh pingsan.

 

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bila kita akan “berangkat” dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah negara.

Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan,

tetapi melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist.

 

Dimana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines, atau American Airlines, atau AirAsia,

tetapi Al-Jenazah Airlines.

 

Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23 Kg,

tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.

 

Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya,

akan tetapi kain kafan berwarna putih.

 

Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo,

tetapi air biasa yang suci.

 

Dimana passport kita bukan Indonesia , British atau American,

tetapi Al-Islam.

 

Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan,

tetapi ‘Laailaahaillallah’

 

Dimana pelayannya bukan pramugari jelita, atau pramugara tampan,

tetapi Izrail dan lain-lain.

 

Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi,

tetapi sekedar kain yang diwangikan.

 

Dimana tujuan mendarat bukannya Bandara Soekarno-Hatta, Heathrow Airport atau Jeddah International,

tetapi tanah pekuburan.

 

Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani,

tetapi ruang 2×1 meter, gelap gulita.

 

Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir,

mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.

Tidak perlu satpam dan alat detector.

 

Dimana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah

Dimana tujuan terakhir apakah Surga yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.

 

Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom,

karena itu tak perlu bimbang.

 

Sajian tidak akan disediakan,

oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan.

 

Jangan risaukan cancel pembatalan, atau delay keterlambatan,

penerbangan ini senantiasa tepat waktu nya,

ia berangkat dan tiba tepat pada masanya.

 

Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan,

anda telah hilang selera bersuka ria.

 

Jangan bimbang tentang pembelian tiket,

ianya telah siap di booking sejak ruh ditiupkan di dalam rahim ibu.

 

YA!

BERITA BAIK!!

 

Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda.

Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.

 

Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa!

Dan sekiranya anda bisa!

 

Hanya ingat!

Penerbangan ini datang tanpa ‘Pemberitahuan’.

 

Cuma perlu ingat!!

Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan.

 

Saat penerbangan anda berangkat…

Tiada lagi doa Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah,

atau ungkapan selamat jalan.

Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun….

Anda berangkat pulang ke Rahmatullah.

 

MATI.

 

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT ?

 

ASTAGHFIRULLAH 3X,

semoga ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni kita beserta keluarga…

Amiin…

 

Catatan:

Penerbangan ini berlaku untuk segala umur, tanpa kecuali.

Maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini.

Sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.

” Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya “.

 

**Jangan Tunda Taubat, Sebelum Terlambat…

 

Wallahu’alam bishshawwab

Billahi Taufiq wal-Hidayah

 

Semoga Bermanfaat

 

Thanks To: Bapak Abdul Azis Setiawan

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s