Cuma begitu-begitu saja?


sumber : https://www.facebook.com/rahayumr/posts/3386899683644

Ketika itu aku klas 5 SD. Di dekat sekolah, ada seorang anak perempuan sebaya aku. Setiap hari dia duduk di teras rumahnya, diam menatap ke depan dengan pandangan kosong. Mbak cantik itu ‘katanya’ sakit tumor otak sehingga buta. Beberapa bulan kemudian terdengar kabar bahwa Mbak Cantik itu meninggal dunia.

Aku tercenung mendengar kabar kematiannya. Dengan ‘fikiran kecil’ku aku berfikir lama :”apakah manusia cuma begitu? Lahir, sekolah trus mati? Aku nanti bisa jadi ‘orang sampai besar’ seperti ayah ibuku, atau aku akan mati sebelum dewasa, seperti Mbak Cantik itu?

Sepintas lalu sebagian besar manusia tampaknya melalui kehidupan yang bisa ditebak. Lahir – sekolah- kuliah- kerja – kawin – membesarkan anak – sakit atau tua lantas mati. Sekilas, ritme hidup manusia mirip dengan sapi, monyet atau hewan mammalia lainnya, bedanya ‘hanya’ pada manusia ada sekolah atau kuliah dan bekerja.

Apabila hidup tanpa visi, sepintas lalu seperti ritme kehidupan hewan. Ada yang hidup seperti air mengalir..ikut aja lingkungan sekitar. Kalau lingkungannya rajin mengaji atau membaca Al-Qur’an atau ke mesjid ya ikut2an, lingkungan jadi tukang sabung ayam yaa ikut2an, lingkungan jadi pengrajin batu bata yaa ikutan aja. Jika umumnya setelah SMA ingin kuliah, ingin masuk FK yaa ikut SPMB , kuliah, lulus yaaa..seperti lain-2nya ajalah. Jika ayah seorang polisi, anak2 ikutan jadi polisi…

Suatu hari aku tersentak ketika dihadapkan pada pertanyaan: apa visi hidupmu? Mau kau bawa kemana anak dan anak2 dalam ‘asuhanmu’. Pernahkah kau bertanya apa visi pasangan hidupmu? Bagaimana mungkin mengayuh perahu kehidupan bersama-sama- sekian tahun, berada dalam satu tempat tidur yang sama- tetapi tidak pernah bertanya, mau di setir kemana perahunya..menuju kemana, mencari apa?

Berbagai pendapat dalam diskusi bermunculan, berbagai bacaan dicari. Ada jawaban, manusia ‘dihidupkan’ adalah untuk ibadah. Karena itu ya ibadah ajalah. Ada teman yang mengatakan bahwa Ibadah itulah tujuan hidup,katanya. Solat, puasa, bekerja, merawat anak, memperhatikan orang tua dan semacam itulah yang harus dituju dari ‘perjalanan di dunia’.
Timbul pertanyaan: Untuk apa kalau sudah tercapai tujuan (ibadah) itu? Untuk apa solatmu, yang sekian tahun masih juga pakai surat pendek itu2 aja, itupun jarang khusyu? Untuk apa puasamu, yg seringkali hanya menahan haus dan lapar? Untuk apa sodakohmu, yg cuma segitu-gitunya? Untuk apa sekolahmu. Untuk apa kerja-mu…..Sedangkan Allah tidak membutuhkan itu. Andaikan seluruh dunia orang ingkar, tdk akan mengurangi kemuliaan Allah. Andai makhluk seluruh dunia taat, juga tidak akan mengurangi Kebesaran Allah. Lalu…buat apa semua yang kau jadikan tujuan hidupmu itu?

Saya merasa ‘sreg’ (pas/mantap) dengan visi kehidupan: reuni dengan keluarga besar (buesaar..bukan cuma klg inti) di sorga, bertemu Allah swt, didalam ‘barisan’ Nabi Muhammad s.a.w. Ibadah dan segala perbuatan di dunia adalah ‘hanya’ metode untuk mencapai persyaratan reuni itu.
Tetapi..alangkah sulitnya menjaga menit-demi menit, jam demi jam..agar tetap pada jalan ‘lurus’. Alangkah banyak godaan untuk berbelok…lalu?
Caranya..tetap optimis- postif thinking sambil berdoa. Berpegang pada “Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya”

Wahai anak-anak, murid-murid..marilah,ayolah ‘jalan’ bersama-sama…jadilah dokter, perawat, ahli gizi, praktisi hukum, praktisi perbank-an, pedagang, kyai, ahli informatika, ibu rumah tangga atau apapun…perhatikan syarat-2 ‘peserta reuni’..saling mendoakan, saling membantu – doakan ortu -agar semuanya tak ada yang tertinggal krn tidak memenuhi persyaratan sbg peserta reuni akbar di sorganya Allah swt.

Namun jalan sangat terjal, yg paling membebani -memberati langkah adalah dosa. Astaghfirullah……tetapi visi itu penting.
Jika ada yang dituju (visi) , maka ‘wajah’ akan jelas dihadapkan ke arah mana, langkah akan diayun kemana..

Mungkin teman-teman mempunyai visi lain, aneka ragam. Itulah dunia…dengan note ini ..minimal angan-angan ‘seorang perempuan biasa biasa saja, bukan ahli agama, bukan orang alim’ yg ber-angan2 sejak usia SD telah terjawab: “ternyata manusia bukan cuma lahir-sekolah-kerja-beranak pinak- nyekolahkan anak- punya cucu lantas meninggal dunia”….

Begitulah hasil ‘ngelamun’ si ‘naif’ yang sedang belajar hidup (sampai setua ini)..

Salam semut 🙂

sumber : dokter @Masruroh Rahayu (https://www.facebook.com/rahayumr)

Iklan

1 Komentar

  1. Today, I went to the beach front with my kids. I found a sea shell and gave it to
    my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She put the shell
    to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear.

    She never wants to go back! LoL I know this is totally off topic
    but I had to tell someone!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s