renungan malam GANJIL


Ada hikmah dibalik puasa tidak bareng, masjid makin rame orang I’tikaf, yang ikutan selasa sekarang malam ganjil besok yang ikutan rabu malam ganjil, sehingga tiap hari malam ganjil, bagi yang ambil. Malam ganjil” aja yaa meramekan masjid …. Sungguh Gusti Allah pemilik hari hari yang mulia setiap detiknya. Semoga malam ini lailatul qodar turun dan memberkati manusia yang masih melek malam ini

Iklan

renungan malam GANJIL


Malam ini memberi isyarat tapi aku tak mampu membaca isyarat itu, berjamaah tengah malam bersama  orang” berambut gondrong”, kok yoo tumben masjid ini banyak yang berambut gondrong biasanya, orang” bertaqwo necis dgn koplok putih dan sarung ato celana putih, sekarang malah pake celana jean belel.
Isyarat apakah dulur yang ditebar malam ini di dunia nyata ?. Adakah kebaikan atau malah kesengsaraan ? Semoga …. Amiin yra

kata pak khotib saat khotbah Jumat :


kata pak khotib saat khotbah Jumat :
muslim itu harus bersodara, ibarat satu tubuh ada dua nyawa, saling merasakan penderitaan dan kesenangan . . . .
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. {ال عمران: 103}
Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk. (Ali Imran: 103)

jangan membanggakan golongan kalian lebih bagus dari golongan lainnya, itu sifat kaum quraisy jaman jahiliyah, tinggalkan sifat ashabiyah yaitu sifat membangga banggakan keluarganya (golongannya)

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah (HR Abu Dawud).

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).