Looo….sarapan kok disambil melamun..


“Looo….sarapan kok disambil melamun..”
“Eh, mbah”
“Sudah habiskan dulu sarapanmu”
“Mbah…dengar enggak kalo pak kades sdh copot dr kekadesesan nya…”
“Opo to itu”
“Pak kades udah diganti sama kades yg baru”
“Iya..dengar. Memangnya kenapa…..jadi kamu melamun ITU, td mikirin pak kades yg sdh diganti itu”
“Iya”
“La apa pentingnya”
“Pentinglah mbah….seneng…kan keinginanku, dah terwujud”
“Bocah kok ada ada saja”

“Mbah”
“Hemm”
“Mbah, kok jawabnya hemm gitu, kayak harimau”
“Hus! Ra pareng begitu”
“Mbah itu…kalau berdehem. Gitu tuuu….serem”
“……..ya biar cucunya enggak makin ceriwis”
“Ich, mbah kok gitu….emang mbah suka kalau aku kayat mbak Turi itu, ndak bisa ngomong….cuma ah uh…gitu”
“Mbah..senengnya kalau cucu mbah…itu, tidak terlalu ceriwis…ini di bahas itu di bahas”
“Ya, kan penting mbah”
“La apa pentingnya kamu bahas kades yg dicopot itu”
“Pentinglah”
“Itu kan urusan orang dewasa dan pak bupati”
“Jd aku sebagai warga enggak perlu peduli gitu”
“Bukan begitu”
“Aku tuuh, seneng tuk mbah…warga kampung kita ini guyup, berani mempengaruuhi Pak camat untuk tegas mencopot pak kades yg lebih suka memperluas tambak pribadinya ketimbang…mbangun jembatan desa…”
“Ya sdh…kan sdh lewat to nduk”
“Sudah, tapi aku masih seneng…bersyukur…juga berharap, sekolah di prapatan jalan itu yg atapnya sdh mau rubuh itu, dn juga jembatan desa segera dpt di perbaiki”
“Iyya”
“Mbah Kung..katanya nanti malam mau rembukan di balai desa”
“Iya, makanya segera sarapannya…nanti kamu mbah buat arem arem untuk sajian di pertemuan itu”
“Mbah”
“Kenapa tidak mbah Kung saja yg jd kades”
“la kalau mbah kungmu jd kades…siapa yg jd penasehatnya”
“Ya simbaah lah….aku juga mau jadi penasehat mbah Kung….hehe”
“Gayamuuu….”
“Bisa aku”
“Mbah Kung yang mumet”
“Kok”
“Iyalah…jadi penasehat itu…ndak kayak kamu …”
“Memangnya kayak siapa”
“Penasehat itu, pertama, harus berilmu,…sabar, bijak, ikhla dalam menjalankan tugas…tdk mementingkan diri sendiri”
“Ya, aku siap. Aku mau kok belajar”
“Juga usianya hrs sdh dewasa secara usia dan prilaku tentunya”
“Yah! Apes dech kalau gitu…secara aku kan masih smp”
” Disamping itu…sedikit bicara…bicaranya hanya kalau ada hal hal yg penting saja…la kamu…semua semua diomongin”
“Hehe….jd aku enggak bisa jadi penasehat”
“Tentu bisa …saat kamu, sdg dpt mendengarkan orang lain dengan hati”
“Hah!…mendengarkan dengan hati?!”
“Iya”
“Dimana mana…ndengerin itu pakek telinga mbah”
“Nah itu, makanya kamu blm cocok jd penasehatnya mbah kakung”
“Mbah”
“Apa lagi….”
“Pak kades yg lama itu, kan sdh kaya….tambah ikan kembungnya udah banyak…tapi kok masih pakai uang desa yg untuk memperbaiki sekolah dan jembatan desa ya mbah….”
“Itulah…nduk…kalau, mempertturutkan keinginan…”
“Gitu ya mbah…”
“Kamu….nanti, cuci beras ya…mbah mau ambil daun pisang”
“Ya mbah….”….

Dan pembicaraan itu…..sdh bertaun tahun lalu……namun semua seperti layar pagi ini….

Saat aku melihat….ada seorang bekas petinggi negara…keluar ruangan penyidikan….menggunakan jaket orange….dan kerubuti wartawan….

Ternyata bener apa yg dulu disampaikan oleh simbah….
Semua itu…hanya karena memperturutkan keinginan …berlebihan…keinginan…untuk menumpuk kekayaan…dg cara…yg tdk patut….

Smoga bangsa besar ini…kan segera berjaya….Gemah Ripah Loh Jinawe….sejahtera semua…sejahtera bersama….

Merdeka dan berjaya !

18 April 2015 pukul 7:47

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s