dan..titik embun pagi itu menggantung di ujung daun.


dan..titik embun pagi itu menggantung di ujung daun..sesaat lagi mentes bersama angin..
“Nduk, kok belum diminum jamunya”
“Belum mbah”
“Ada apa”
“Tidak. Ada”
“Lalu mengapa hanya bermenung saja”
“Mbah, apakah kalau sesuatu itu sudah terjadi, berarti sdh menjadi takdir Gusti Allah untuk aku”
“Itu, krn kamu mengijinkannya terjadi”
“Jadi aku hrs bgaimana”
“Apakah kejadian itu mengganggu kejernihan bathinmu”
..oh..mbah..

“Mbah….aku malu”
“Mengapa malu”
“Gusti Allah tidak pernah sarekan mbah”
“Nduk, sebenarnya ada apa”
“Mbah….aku inginkan kesucian bathinku”
“Bersegeralah..menembah cah ayu”
“Mbah…apa yg hrs aku adukan pada_NYA, padahal semua sdh ada dalam serat kebenaran_NYA, dan aku …oh..mbah….”
“Nduk, kita ini manusia..manungso…itu tempat luput dan alpa ”
“Sungguh mbah…aku tidak sanggup dg seluruh rasa penyeselan ini”
“Jadi kamu mau, berlari dr rahmat Gusti Allah”
“Bukan begitu mbah..”
“Jadi apa”
….dan semua peristiwa siang itu menari di panggung bathinku…seonggok penyesalan…menindih kuat bathinku…sepertinya…air seluas samoderapun tak sanggup bersihkan…rasa bersalahku…oh….
“Cah ayu, Gusti Allah…maha tahu, DIA, tahu apa yg sesungguhnya…jadi, bersegeralah…sucikan raga dan bathinmu..bersegeralah manembah….akui kekuranganmu…sadari kekeliruanmu…dan bersegeralah sambut…pancaran cahaya kasih_NYA…welas ASIH_NYA…temukan kembali jalan_mu … ”
“Oh…..mbah…”
“Mbah tahu, kelembutan kasihmu…membuat mu seperti ini, mbah tahu itu cah ayu…karena itu pula kamu tidak sanggup lukai siapapun….namun krn itu pula….jdikan dirimu…seperti sekarang…”
….dan diam… adalah jalan yg mampu ku tempuh saat ini…

“Kemarilah cah ayu…”
dan kulihat senyum simbah begitu lembut..menyejukkan..rasaku…
Aku segera menghabur dalam pangkuannya…menangis sejadinya….
Kkembali…sentuhan lembut di kepalaku luruhkan…semua sesal di dadaku…
“Nduk…tahukah kamu….semua yg memang hrs terjadi itu…krn pilihanmu…karena kamu ijinkan..itu terjadi….maka mengakuinya…berserah dalam menjalaninya….itulah yg terbaik…”
Oh….tak ada yg ingin kulakukan saat itu…selain rebah….semakin dalam di pangukuan simbah….
“Sudahlah…cah ayu…semua pasti ada akhirnya…bukan kah ada awwal….pastikan ada akhirnya…itu..jalan kehidupan…”
“Ya mbah”
“Sudah ya…mbah sayang padamu…kalau kamu menangis…itu membuah mbah sedih….”
“Maafkan aku mbah…”
“Bersegralah…sucikan dirimu…temukan kembali..JATI dirimu….”
…..Dan air suci….yg tercurah dr padasan….siang itu, terasa begitu sejuk…kupejamkan mataku….ku simpuhkan lututku di hamparan batu yg mengalasi tapak kakiku…”Gusti….aku mencintai_MU… kupersembahkan seluruh jiwa raga ku pada_MU….”….

10 Maret 2015 pukul 11:29

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s